Bos BI Pede Dampak Tapering The Fed Bisa Diantisipasi

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan dampak dari rencana kebijakan penarikan stimulus moneter atau tapering oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, bisa diantisipasi. Dampak yang timbul dari sentimen tersebut pun cenderung stabil dan bertahap.
 
“Sebetulnya, dampak dari kebijakan penarikan stimulus moneter oleh The Fed tidak akan sebesar taper tantrum pada 2013,” ucap Perry dalam keterangannya dikutip dari laman instagram terverifikasi BI @bank_indonesia, Selasa, 7 September 2021.

 
Perry menekankan saat ini komunikasi The Fed terhadap rencana tapering sangat jelas. Kondisi tersebut membuat pasar semakin memahami kerangka kerja dari The Fed, sehingga tidak menimbulkan gejolak di pasar keuangan global.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

“Nah, reaksi pasar ini bisa kita lihat melalui feature rate dari US Treasury,” tuturnya.
 
Di sisi lain, lanjut Perry, Bank Indonesia sudah memiliki dan menata strategi guna meredam dampak tapering The Fed. Bank Indonesia bersama pemerintah pun telah menjalankan strategi tersebut, sehingga nilai tukar rupiah terjaga dan stabil.
 
“Bank Indonesia melakukan antisipasi bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan kebijakan triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas dia.
 
Triple intervention merupakan langkah intervensi bank sentral yang bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar. Dalam hal ini, BI menerapkan triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

 
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menekankan salah satu risiko yang harus diwaspadai terhadap tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) adalah perubahan kebijakan moneter negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang didorong oleh pemulihan ekonomi yang cepat serta stimulus fiskal yang besar.
 
Atas kondisi itu, pemerintah akan terus bersinergi dengan otoritas moneter dan jasa keuangan dalam melakukan pemantauan dan mengambil langkah-langkah kebijakan secara antisipatif dan terkoordinasi. Salah satu langkah sinergi dengan otoritas lain seperti BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) adalah pendalaman dan pengembangan pasar keuangan.
 
Sri Mulyani sepakat bahwa pasar keuangan domestik yang dalam, aktif, dan likuid sangat diperlukan dalam meningkatkan stabilitas pasar. Karena dengan begitu, maka pada gilirannya akan menurunkan yield SUN.
 
“Pasar keuangan yang dalam, aktif, dan likuid, akan menjadi sumber pembiayaan yang stabil, efisien, dan berkesinambungan. Hal ini akan meminimalkan dampak risiko volatilitas aliran modal investor asing terhadap yield SUN,” tutur Sri Mulyani.

 
(Des)
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *