Sinopsis & Review Film Monkey King: The One And Only (2021)

Kisah dari siluman kera bernama Sun Wu Kong pasti bukan hal yang asing lagi, apalagi untuk generasi 2000-an. Kali ini kisah sang siluman kera kembali dibuatkan remake yang dibintangi oleh aktor tampan Han Tien Chen. Monkey King: The One and Only (2021) mengambil kisah mengenai halangan ketika Sun Wu Kong dan gurunya melakukan perjalan ke Barat.

Sun Wu Kong yang selalu mempertanyakan kenapa gurunya begitu tidak mempercayai dirinya dan penilaiannya. Di sisi lain, Sun Wu Kong berusaha menemukan kekuatan dan dirinya yang terdahulu, tapi hal ini membuatnya kehilangan kendali. Film aksi komedi ini berhasil meraih rating yang cukup tinggi, dalam My Drama List film ini mendapatkan rating 8.

Lalu bagaimana kelanjutan perjalanan mereka, akankah Sun Wu Kong dan gurunya berhasil menyelesaikan kesalahpahaman ini? temukan jawabannya di bawah ini.

Sinopsis

Monkey King The One And Only_
  • Tahun Rilis: 2021
  • Genre: Action, Fantasy, Comedy, Historical
  • Sutradara: Chen Huan Xiang
  • Pemeran: Han Tien Chen, Shao Yun, Zhao Xiao Kun, Wang Qiao, Wang Yuan Da
  • Produksi: –

Sun Wu Kong (Han Tien Chen) adalah siluman kera yang kini terperangkap untuk menjadi murid dari Pendeta Tang (Zhao Xiao Kun). Dalam perjalan mereka menuju barat, mereka tidak sengaja bertemu dengan kawanan siluman rubah Qiao Yi (Shao Yun) dan Shen Jian (Yang Yi).

Wu Kong sudah merasakan ada yang aneh dari para penduduk sekitar, karena kera ini memang memiliki kelebihan. Wu Kong mengatakan pada Pendeta Tang bahwa seluruh penduduk sudah bukan manusia lagi.

Mereka kini sudah berubah menjadi siluman, namun Pendeta Tang tidak percaya dan malah memarahi Wu Kong. Hingga ketika para warga menyerang mereka untuk memakan daging Pendeta Tang, Wu Kong membasmi mereka yang memicu kemarahan sang Pendeta.

Memang sudah tidak aneh, Sun Wu Kong dan Pendeta Tang selalu berselisih mengenai cara mengatasi lawan. Wu Kong yang selalu saja memakai kekerasan di anggap tidak pernah belajar dan selalu membangkang pada ajaran Pendeta Tang.

Sementara Pendeta Tang selalu berpikiran positif dan mengatakan bahwa melawan tanpa adanya kekerasan adalah hal utama. Kali ini Wu Kong di usir oleh Pendeta Tang, lalu tidak sengaja ia bertemu dengan Qiao Yi. Siluman rubah yang manis ini memang sangat mengagumi Sun Wu Kong, sampai-sampai menyimpan gambarnya.

Dari sinilah Wu Kong mendapatkan sebuah gelang yang ternyata menyimpan kekuatan dirinya terdahulu. Tapi kekuatan itu terkunci, dengan amarah yang tinggi Wu Kong harus memecahkan bola di gelang tersebut.

Keadaan makin sulit, karena saat itu Wu Kong kehilangan kekuatan dan tongkatnya setelah hampir terhisap ke cincin berlian milik Laojun. Merasa bingung Qiao Yi berusaha bertanya pada kakaknya, ternyata Shen Jian melakukan banyak kejahatan. Kue yang dibuatnya ternyata digunakan untuk membuat para manusia berubah menjadi siluman.

Jiwa mereka digunakan untuk menggantikan jiwa adik kesayangannya Qiao Yi, karena kesalahan di masa lalu. Dalam misi mengembalikan kekuatan yang ada dalam gelang, Wu Kong berusaha mencari cara untuk melepaskan amarahnya.

Tapi setiap bola pecah dirinya selalu berada di luar kendali, bentuk Pendeta Agung memang sangat kuat dan kejam bahkan hampir membunuh Qiao Yi. Dalam proses menyelamatkan Pendeta Tang, Piggie dan Monk Shan, mereka bertemu dengan Dewa Gunung Chen Xiang yang mengamuk.

Wu Kong sempat kewalahan melayaninya, pertarungan guru dan murid pun tidak terhindarkan. Namun berkat cincin berlian yang menghisap Kapak Surgawi Pembela Langit, Chen Xiang berhasil dikalahkan dan kembali ditangkap Shen Jian.

Memakai Lentera Teratai Wu Kong dan Qiao Yi pergi ke sungai Sanzu, di sana mereka bertemu dengan Siluman Cermin. Shen Jin pun menyusul mereka kesana dan hampir membunuh Wu Kong, tapi kali ini Wu Kong sudah kembali ke bentuk aslinya yang ternyata dipengaruhi oleh Kera Jahat berambut merah.

Wu Kong tersadar ketika Pendeta Tang membangunkannya dari mimpi, kini Wu Kong paham arti dari perjalanan ini. Wu Kong berhasil melawan dirinya yang lain dengan cara yang lebih baik, tidak ada kekerasan.

Baca juga:

Hanya dirinya yang kini lebih menghargai dirinya dan kehidupannya untuk mengatasi rasa takutnya. Meski begitu Wu Kong harus kehilangan Qiao Yi yang merelakan dirinya terbunuh dalam pertarungan.

Remake dengan Mengandalkan Taste Komersil

Remake dengan Mengandalkan Taste Komersil_

Setelah sekian lama, akhirnya saya menonton film yang menceritakan tentang siluman kera bernama Sun Wu Kong. Ada perasaan excited dan khawatir, karena sudah lama sekali saya tidak menonton kisah si Raja Kera. Meski begitu ada kilasan ingatan mengenai karakter Sun Wu Kong terdahulu, saat saya menonton versi dramanya.

Jujur saya ada vibes yang berbeda dengan kisah Sun Wu Kong yang dahulu saya saksikan dengan versi sekarang. Pasalnya, Monkey King: The One and Only (2021) terasa lebih entertaining dibanding versi dramanya. Tidak ada perbedaan karakter yang jauh, tapi plot dan karakter lainnya benar-benar terasa sangat berbeda.

Di film ini saya agak kaget dan terganggu dengan karakter Pendeta Tang yang diperankan oleh Zha Xiao Kun. Karena karakternya benar-benar seperti anak muda yang naif, sehingga tidak bisa membedakan benar dan baik. Saya paham sebagai seorang biksu, Pendeta Tang harus selalu berpikiran positif dan berbelas kasih.

Tapi karakternya yang harusnya berwibawa berubah menjadi biksu muda yang sedang melewati masa puber. Bagian komedi yang dipertontonkan jelas merusak citra Pendeta Tang, sangat disayangkan sekali karena hal ini membuat film berubah total. Dari film berbau sejarah menjadi film fantasi dengan rasa komersial yang tinggi.

Monkey King: The One and Only terasa seperti film yang sengaja dibuat hanya untuk menghasilkan uang. Artinya film ini hanya mengandalkan nuansa modern sehingga filmnya jadi lebih menjual dan sesuai dengan taste anak muda. Tambahan lagu klasik yang diselipkan di sini, jelas menjadi bukti bahwa film ini terasa begitu komersial.

Kisah Lain dari Petualangan Sang Raja Kera

Kisah Lain dari Petualangan Sang Raja Kera_

Monkey King: The One and Only (2021) memberikan kesan yang baik untuk saya, karena film ini berkonsentrasi pada satu cerita. Di balik perjalanan Sun Wu Kong menuju barat bersama guru dan kawan-kawannya, mereka bertemu dengan kawanan siluman rubah.

Di sinilah Wu Kong akhirnya memahami alasan dibalik perjalanan yang ditempuhnya bukan hanya untuk mengambil kitab saja.

Dulu saya menonton versi dramanya dan memang tujuan mereka adalah melakukan perjalanan untuk mendapatkan kitab. Ada banyak rintangan yang menghadang mereka, tapi saya tidak ingat persisi pertemuan mereka dan siluman rubah seperti di film ini. Tapi dilihat dari plotnya, film ini memang memiliki alur dan plot yang lumayan rapi dan jelas.

Perdebatan Sun Wu Kong dengan Pendeta Tang dan gangguan dari siluman rubah menjadi cerita yang cukup menyenangkan untuk diikuti. Karena selain ada persahabatan dan pengabdian, di sini juga ada romansa yang berakhir menyedihkan.

Jujur saja kisah ini terasa sangat baru, karena kali ini saya menonton petualangan Sun Wu Kong bukan hanya sebagai tontonan yang menyenangkan saja. Kini ada nilai-nilai yang tersirat dari film yang membuat saya cukup respect dengan apa yang diperlihatkan.

Apalagi karakter Sun Wu Kong dan Pendeta Tang ini seakan menggambarkan karakter anak dan orang tua. Perdebatan mengenai ajaran kebaikan dan cara mengatasi hal buruk, hal ini adalah hal yang lumrah ada dalam sebuah keluarga.

Film yang Menghibur dengan Pesan Penting

Film yang Menghibur dengan Pesan Penting_

Meski filmnya terasa sangat komersial, setidaknya film ini memiliki nila-nilai yang baik. Di balik sisi entertaining ada pesan mengenai kebaikan yang terselip dalam film aksi komedi.

Karena dari menonton film ini, ada sebuah pesan mengenai pengendalian emosi yang menjadi masalah banyak orang. Memang benar bahwa kita tidak boleh buta dengan mana yang benar dan mana yang salah, seperti kata Wu kong.

Tapi pendapat Pendeta Tang juga tidak salah, karena sifat agresif berasal dari rasa takut makannya untuk mengatasi hal ini memerlukan respek pada diri sendiri.

Menghargai kehidupan adalah cara untuk melawan sifat agresif dan emosional yang mendalam. Tapi kekurangan yang cukup mengganggu saya adalah, sisi komedi yang diselipkan dalam diri Pendeta Tang. Jujur saja hal ini membuat karakter Pendeta Tang menjadi hancur, dengan adanya sisi komedi yang hadir darinya seperti yang sudah saya singgung sebelumnya.  

Setidaknya untuk sisi koreografi aksinya, dibungkus dengan sangat baik dan begitu indah. Cara mereka bertarung dengan tambahan efek CGI yang sederhana, membuat kesan yang baik. Tidak ada pertarungan yang terlalu brutal, yang paling membekas di benak saya adalah pertarungan Sun Wu Kong dengan dirinya yang lain.

Ada emosi yang tersirat dalam mata dan tubuh Wu Kong, dia takut dan bingung dengan semua yang terjadi. Namun berkat tuntunan dari Pendeta Tang, Wu Kong kini tahu apa yang harus ia perbuat untuk mengatasi sisi buruknya. Akting seluruh pemainnya juga sangat baik, terutama untuk kakak beradik siluman rubah Xiao Yi dan Shen Jian.

Bagi saya saya The Monkey King: The One and Only (2021) adalah film yang cukup menghibur. Karena ceritanya sangat ringan, tapi memiliki aksi yang cukup baik dan indah. Bahkan film ini memberikan kita pelajaran hidup untuk lebih menghargai diri sendiri dan mengatasi emosi. Cukup seru, kan?

Nah, untuk yang penasaran ingin baca review dan sinopsis film lainnya, kami bahas secara lengkap dan tuntas melalui link berikut ini.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *