Indonesia-Vietnam Tekankan Sentralitas ASEAN di Pertemuan PPD ke-9

Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI dan Kemenlu Vietnam kembali menyelenggarakan forum tahunan Policy Planning Dialogue (PPD) untuk membahas isu-isu strategis di regional dan bilateral kedua negara. PPD RI-Vietnam ke-9 kali ini diselenggarakan secara daring mengingat kondisi pandemi Covid-19.
 
Dalam kesempatan tersebut, delegasi Indonesia dipimpin Kepala BPPK, Dr.Siswo Pramono, sedangkan Vietnam oleh Direktur Jenderal Perencanaan Kebijakan, Kemenlu Vietnam, Nguyen Thanh Hai.
 
PPD Indonesia-Vietnam terutama mengangkat isu rivalitas Amerika Serikat-Tiongkok, perkembangan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP), ketegangan di Laut China Selatan (LCS) dan Semenanjung Korea, penanganan pandemi COVID-19, global value chains (GVC), kondisi di Myanmar, kerja sama subregional dan perundingan delimitasi ZEE. Dalam hal ini, Indonesia dan Vietnam sepakat bahwa sentralitas ASEAN adalah kunci menghadapi isu-isu tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Dr. Siswo Pramono dalam kesempatan itu menyampaikan studi menarik berdasarkan foto satelit tentang potensi kerja sama ekonomi yang dapat digarap di tengah ketegangan daerah potensi konflik seperti Laut China Selatan. Menurutnya, terdapat pertumbuhan Kawasan Industri (KI) di area tepian LCS yang mencerminkan relokasi perusahaan-perusahaan multinasional dari Tiongkok ke negara-negara ASEAN.
 
Oleh karena itu, sentralitas ASEAN pun kembali diperlukan untuk mengkapitalisasi peluang-peluang ekonomi tersebut dan menunjukkan bahwa the rise of Asia tidak hanya menyangkut kebangkitan Tiongkok, tetapi juga munculnya kebangkitan kekuatan ekonomi baru seperti Indonesia atau ASEAN dan India.
 
Terkait penanganan pandemi, Indonesia dan Vietnam sepakat menekankan bahwa kemandirian pengembangan vaksin nasional tidak hanya dapat menghemat anggaran, tetapi juga mempercepat penanganan virus Covid-19 dan mutasinya. Kedua negara juga menggarisbawahi pentingnya menyikapi dampak pandemi Covid-19 dengan mendorong transformasi ekonomi digital, terutama untuk sektor UMKM.
 
Digitalisasi ekonomi ini dianggap langkah yang tepat untuk menjadi bagian dari Global Value Chain. Untuk itu, Indonesia juga turut mengundang Vietnam secara informal untuk hadir pada ASEAN Creative Economy Forum yang akan diselenggarakan Indonesia di Bali pada November 2021.
 
Menyinggung prinsip sentralitas ASEAN, Duta Besar RI untuk Vietnam, Denny Abdi menilai sentralitas ASEAN bukanlah suatu hal yang statis, namun terus berkembang mengikuti dinamika hubungan ASEAN Member States (AMS) dengan negara mitra. Oleh karena itu, perannya perlu selalu dimajukan untuk mendorong AMS satu suara pada isu-isu strategis di Kawasan.
 
Sentralitas ASEAN dinilai penting untuk mencegah eskalasi brinkmanship AS-RRT menjadi proxy wars di Kawasan. Perannya juga krusial untuk menindaklanjuti AOIP dengan strategi yang lebih konkrit, utamanya untuk menyambut ketertarikan para mitra strategis terhadap kerja sama Indo-Pasifik dan memanifestasikannya ke dalam berbagai kerja sama investasi dan perdagangan.
 
Pada kesempatan PPD kali ini, Vietnam dan Indonesia saling mengapresiasi dukungan masing-masing ketika menjabat sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB. Disepakati bahwa Indonesia dan Vietnam akan terus bekerja sama dalam isu-isu keamanan, terutama, penanganan krisis humaniter di Myanmar dalam kerangka ASEAN.
 
Baca:   Indonesia-Vietnam Sepakat Kekerasan di Myanmar Harus Dihentikan
 
Selain itu, kedua negara juga menunjukkan komitmen terhadap pengembangan berbagai kerja sama sub-regional dan penanganan isu bilateral, termasuk finalisasi perundingan delimitasi batas ZEE kedua negara. Hasil-hasil yang dicapai melalui diskusi pada forum tentunya menjadi masukan yang berharga untuk perumusan kebijakan luar negeri kedua negara.
 
(WIL)
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *