Sinopsis dan Review Film Komedi Win It All (2017)

Seorang penjudi kecil setuju untuk dititipkan tas milik seorang kenalan yang akan dipenjara. Ketika dia menemukan apa isi tas itu, dia tidak bisa menahan keinginan untuk menggunakannya sebagai modal berjudi. Win It All adalah original film Netflix yang menjadi kerjasama ketiga antara aktor Jake Johnson dan sutradara merangkap penulis naskah Joe Swanberg.

Ditayangkan pertama kali di festival South by Southwest pada 11 Maret 2017, film ini mulai dirilis secara streaming di Netflix sejak 7 April 2017. Joe Swanberg yang terbiasa membesut film indie, sepertinya akan memunculkan tone serupa di dalam film yang berlokasi syuting di Chicago ini. Lalu, apa yang bisa ditawarkan film ini? Simak review kami berikut ini sebelum menontonnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2017
  • Genre: Comedy
  • Produksi: Forager Films, Garrett Doubles Down, Netflix
  • Sutradara: Jow Swanberg
  • Pemeran: Jake Johnson, Aislinn Derbez, Joe Lo Truglio

Eddie Garrett adalah penjudi kelas teri yang bekerja sebagai tukang parkir di siang hari dan menghabiskan pendapatannya dalam semalam di meja judi. Suatu hari dia menemukan Michael, seorang preman lokal, berada di dapurnya dan menawarkan sebuah kerjasama, yaitu dia menitipkan tas kepada Eddie selama dia dipenjara dengan bayaran $10 ribu ketika dia sudah keluar nanti.

Eddie menyetujuinya. Tapi beberapa hari kemudian dia penasaran dengan isi tas itu dan akhirnya tergoda untuk membukanya. Eddie menemukan barang-barang aneh dan banyak uang tunai terikat rapih. Meskipun sudah dinasihati oleh temannya untuk tidak menggunakan uang itu, nyatanya Eddie memakai $500 untuk dijadikan modal berjudi. Beruntungnya, dia malam itu menang besar.

Langsung saja dia mengajak tiga orang temannya untuk hangout di bar dan mereka bertemu dengan Eva, seorang single mother berprofesi sebagai perawat. Tidak disangka mereka saling suka satu sama lain pada pandangan pertama. Merasa sedang beruntung, Eddie berjudi lagi dan kali ini dia kalah terus hingga uang di dalam tas terpakai sejumlah $21 ribu. Eddie merasa berada di titik terendah hidupnya.

Eddie mulai datang ke konseling kecanduan yang dipandu oleh Gene dan bekerja di perusahaan pengurusan taman milik kakaknya, Ron. Eddie secara perlahan mulai mengubah kebiasaan hidupnya dan menjadi orang yang disiplin dan bertanggung jawab. Bahkan Eva pun mulai benar-benar mencintainya dan Eddie memperkenalkan Eva kepada keluarganya.

Setelah bekerja selama 6 minggu dan dia mulai sedikit demi sedikit membayar uang di dalam tas, Eddie tiba-tiba mendapat kabar dari Michael bahwa dia akan segera keluar dari penjara dalam seminggu. Panik, Eddie meminta bantuan dari Ron, tapi Ron menolak karena mengira Eddie akan berjudi lagi. Mulai frustrasi, Eddie mabuk dan mulai berjudi secara frontal dengan menggunakan uang dalam tas.

Sayangnya, Eddie malah kalah besar dan diusir dari casino. Bingung, Eddie meminta bantuan Gene. Melihat keputusasaan Eddie, Gene bersedia memasukkannya ke dalam permainan poker kelas atas dengan syarat apabila kalah, Eddie harus pergi dari kota itu. Eddie dan temannya datang ke tempat itu dan memulai bermain dengan modal $15 ribu. Eddie kalah dua kali lipat dan bersiap untuk pergi.

Eddie ditenangkan oleh temannya dan mulai meraih fokus kembali. Eddie siap untuk bermain sekali lagi. Kali ini Eddie menang besar dan sudah berhasil mencapai jumlah yang diharapkan. Ingin terus bermain, temannya menyarankan untuk berhenti dan pergi dari tempat itu. Sempat bertengakar, Eddie mendapat serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit.

Ron menjemput Eddie di rumah sakit dan mengantarnya ke rumah Eva untuk acara makan malam. Sementara itu Michael dan rekannya yang menghitung uang di dalam tas menemukan bahwa jumlahnya lebih $400. Bingung, mereka menghitung ulang.

Performa Meyakinkan dari Jake Johnson

Performa Meyakinkan dari Jake Johnson

Seperti yang sudah disinggung di atas, Win It All merupakan kerjasama ketiga antara Jow Swanberg dan Jake Johnson setelah dua film sebelumnya, yaitu Drinking Buddies (2013) dan Digging for Fire (2015), mendapat respon berbeda dari penonton dan kritikus film. Mungkin karena memiliki tone khas film indie, kedua film ini tidak begitu disukai penonton umum, tapi sangat diapresiasi tinggi oleh para kritikus.

Dikolaborasi kedua dalam penulisan naskah, film ini sedikit banyak memiliki tone yang sama tetapi mencoba tampil lebih mainstream dengan menghadirkan banyak karakter, tidak minimalis seperti dua film sebelumnya. Dan tentu saja, sekali lagi, Jake Johnson mampu membawakan karakternya dengan meyakinkan, dari kesan pengangguran di awal film hingga menjadi lebih baik pada akhirnya.

Karakter Eddie yang diperankan oleh Jake Johnson ini memang bukanlah sosok pria yang bisa diandalkan ketika film bermula, dia bekerja sebagai tukang parkir yang pendapatannya hari itu dihabiskan di meja judi dimana dia selalu kalah. Tetapi ketika dia dititipkan tas berisi uang, jalan hidupnya menjadi berubah. Awalnya dia memakai sedikit uang dari tas untuk modal berjudi dan menang.

Tetapi untuk kedua kalinya, keberuntungan itu tidak terulang lagi hingga uang di dalam tas terpakai dalam jumlah besar. Uniknya, justru kejadian ini bisa menyadarkan dirinya. Eddie ingin berhenti berjudi dan melamar untuk bekerja di perusahaan milik kakaknya. Sangat jarang penjudi yang insyaf seperti Eddie ini, mungkin 1 dari 100. Karena biasanya justru mereka malah berbuat kejahatan lain demi bisa berjudi.

Eddie membina hidupnya cukup baik. Pekerjaan berhasil diselesaikan dengan baik, dia rajin menghadiri konseling kecanduan judi, dan berhasil mencuri hati seorang wanita cantik. Rasanya sudah lengkap semua. Tapi ketika pemilik tas segera keluar dari penjara, Eddie kembali panik dan semua jalan terasa tertutup, dan sepertinya hanya dengan berjudi uang itu bisa kembali. Setidaknya itu yang dia pikirkan.

Baca juga:

Di film berdurasi 1 jam 28 menit ini, Jake Johnson tampil prima dan kita dibawa larut dalam karakternya hingga ke akhir film yang memiliki ending yang bahagia untuk semua. Banyak adegan yang membuat kita bisa tersenyum-senyum karena aksinya, salah satunya adalah ketika Eddie tergoda untuk membuka dan mengetahui isi tas yang dititipkan padanya.

Cerita yang Kurang Gereget

Cerita yang Kurang Gereget

Sayangnya naskah yang mereka tulis kali ini kurang memiliki kejutan, sehingga tensi film terasa datar. Bahkan ketika kepanikan muncul karena pemilik tas akan kembali, tidak ada rasa terkejut yang sesuai harapan, karena memang hal ini adalah yang penonton tunggu, tapi eksekusi adegannya tidak mampu menaikkan tensi menjadi lebih menegangkan. Apalagi sang pemilik tas tidak menebarkan ancaman.

Tensi yang tidak terasa ini membuat film kehilangan geregetnya. Kita disuguhkan dan dibuai dengan perubahan positif Eddie dalam hidupnya, sedangkan permainan judi yang menjadi plot utama cerita sedikit diabaikan dengan memberikan jarak yang renggang antara satu permainan ke permainan berikutnya. Terlepasnya plot utama ini bisa dibilang kesalahan fatal para penulis naskahnya.

Terlalu Mainstream untuk Film Indie

Terlalu Mainstream untuk Film Indie

Dengan adanya beberapa karakter yang meramaikan film Win It All ini, kesan film mainstream lebih terasa dibandingkan film indie yang biasanya hanya diperankan oleh beberapa pemeran saja. Tapi lagi-lagi, beberapa karakter, yang bahkan bisa dibilang kunci, kurang digali lagi. Contohnya Gene, sponsor Eddie di konseling, Ron dan Eva.

Meski Keegan-Michael Key membawakan peran Gene dengan baik, bisa dibilang scene stealer, tapi karakter Gene terasa tidak lekat karena kurangnya penggalian latar belakang kehidupan dan kepribadiannya. Begitupun dengan Ron, sang kakak, yang dimainkan oleh Joe Lo Truglio dengan santai, tampil kurang berisi. Sedangkan Eva, tampil layaknya wanita single mother tipikal film romantis biasanya.

Semua faktor ini mengurangi nuansa film indie yang menjadi ciri khas mereka berdua, sehingga kita berada di posisi yang membingungkan saat menontonnya. Tapi setidaknya, sinematografi khas film indie yang sederhana tetap hadir di sepanjang film. Penyelamat film ini memang hanya akting Jake Johnson saja yang memang menjadi titik sentral cerita.

Meski begitu, Win It All sangat pantas untuk ditonton, terutama bagi yang membutuhkan inspirasi untuk menjadi sosok yang positif. Rotten Tomatoes memberikan cap certified fresh yang cukup untuk menjadi faktor penguat untuk kelayakan film ini. Jalan cerita yang lancar, meski kurang gereget, membuat kita nyaman untuk terus mengikutinya hingga akhir film. Jangan ragu lagi ya, langsung play saja di Netflix!

Win It All

7 / 10
Bacaterus.com

Users
(0 votes)
{{ reviewsOverall }} / 10

What people say…


Leave your rating


Order by:

Be the first to leave a review.

User Avatar
User Avatar

{{{ review.rating_title }}}

Show more

Leave your rating

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *