10 Dewa dan Dewi yang Ada di dalam Mitologi Mesopotamia

Dewa-dewi dari Mesopotamia banyak dikenal melalui literatur yang dibuat oleh bangsa Sumeria. Para dewa-dewinya tak hanya disembah oleh bangsa Sumeria saja, tetapi juga oleh bangsa Akkadia, Babilonia dan juga Assyria. Para dewa-dewi ini biasanya menjadi pelindung dari kota-kota tertentu.

Peradaban kuno dari Mesopotamia dengan kisah para dewa dan dewinya memperlihatkan mereka sebagai orang-orang yang religius. Berikut ini adalah beberapa dewa-dewa yang banyak disembah di Mesopotamia yang di percaya oleh beberapa bangsa yang mendiami daratan yang kini disebut dengan Irak.

1. Dewi Tiamat

Sumber: upload.wikimedia.org

Dewi Tiamat merupakan dewi laut primordial yang akan melahirkan para dewa-dewi muda dari pernikahannya bersama dengan Abzu atau dewa air tanah. Terdapat dua penggambaran dari Dewi Tiamat. Dewi Tiamat digambarkan sebagai dewi penciptaan karena ialah  yang melahirkan para dewa.

Penggambaran yang kedua adalah perwujudan kekacauan yang mengerikan yang digambarkan dengan bentuk naga atau ular laut. Dia menyerang dewa-dewa generasi muda untuk membalas dendam kematian suaminya, tetapi akhirnya kalah saat melawan Marduk.

Pada mitos Babilonia Enûma Elish, Dewi Tiamat melahirkan generasi pertama dewa dan dewi dari pernikahannya dengan Abzu. Dewa Abzu yang merasa anak-anaknya akan mengambil tahtanya menyerang mereka dan terbunuh, yang menyebabkan sang dewi melakukan balas dendam.

2. Dewa Ellil / Enlil

Sumber: ancientpages.com

Ellil merupakan dewa yang dipercaya sebagai satu dari tiga dewa tertinggi di peradaban Mesopotamia. Kekuatan yang dipegang oleh Ellil membuat kebingungan ahli sejarah dan ahli linguistik dari penulisan namanya. Sehingga pada akhirnya namanya diterjemahkan sebagai dewa angin atau atmosfer.

Ellil sendiri merupakan panggilan nama dewa bagi bangsa Akkadia, sedangkan bangsa Sumeria menyebutnya dengan Enlil. Dewa Ellil menurut sejarahnya merupakan dewa pelindung bagi Kota Nippur. Dia sering digambarkan sebagai dewa yang memiliki sifat memberontak dan mudah marah.

Tempat pemujaan dari dewa Ellil pusatnya terdapat di kuil Ekur di Nippur. Sebagian orang percaya bahwa kuil itu dia bangun untuk dirinya sendiri. Dewa Enllil juga yang bertanggung jawab untuk terjadinya banjir besar yang melanda manusia, dikarenakan manusia mengganggu tidurnya.

3. Dewa Ea / Enki

Sumber: en.wikipedia.org

Dewa Ea merupakan sebutan untuk dewa air oleh bangsa Akkadia, sedangkan bangsa Sumeria dewa Ea disebut dengan dewa Enki. Dewa Enki merupakan pelindung dari kota Eridu yang terletak di selatan Mesopotamia. Dewa Enki digambarkan sebagai dewa pencipta, kecerdasan, kerajinan, dan sihir.

Selain gambaran di atas, dalam teks Sumeria dewa Enki diasosiasikan dengan kejantanan, bahkan dalam satu teksnya menerangkan bahwa air mani dari seorang dewa dapat memberkahi dengan memberikan energi pada air tawar. Dewa Enki juga sering disebut sebagai anak dari Dewi Tiamat

Pada mitologi Babylonia Ea digambarkan sebagai pencipta dan juga pelindung bagi umat manusia. Dia menciptakan manusia dari tanah liat dan membuat mereka mengabdi kepada para dewa dengan pekerjaan mereka. Dia membantu manusia saat Dewa Enlil menghancurkannya dengan banjir besar.

4. Dewa Marduk

Dewa Marduk merupakan pelindung kota Babilonia yang terkenal, dia termasuk dewa yang cukup penting dalam di Mesopotamia. Dari bangsa Sumeria hingga bangsa Babilonia, Marduk digambarkan sebagai raja dari para dewa dengan kemampuannya yang beragam dari penyembuhan hingga sihir.

Dalam mitologi Marduk merupakan anak dari Dewa Enki, dan juga dikenal karena berhasil mengalahkan Dewi Tiammat yang berwujud naga yang mencoba menantang pada dewa-dewa muda. Dari mata sang dewi yang ia bunuh, dia menciptakan sungai Eufrat dan Trigis.

Sedangkan dari tubuh sang dewi, yang ia sayat dia menciptakan langit dan juga bumi. Kuil tempat pemujaan ari Dewa Marduk terdapat di Babilonia dan yang paling terkenal adalah Ziggurat. Tetapi Dewa Marduk juga di puja di kota lain seperti di Sippar, Borsippa, dan juga Nippur.

5. Dewi Ishtar / Inana

Dewi Ishtar merupakan panggilan untuk dewi cinta bagi bangsa Akkadia, sedangkan bangsa Sumeria menyebutnya dengan nama Inana. Inana termasuk dewi dengan karakter yang saling berseberangan. Dikenal sebagai dewi cinta dan kecantikan tetapi dikenal juga sebagai dewi perang dan pertempuran.

Baca juga:

Kuil Eanna merupakan  tempat pemujaan dari dewi Ishtar yang terdapat di kota Uruk. Satu mitos yang terkenal dari dewi Ishtar adalah di saat dia mencoba menaklukkan dunia bawah dan mengambil tahta adiknya Ereshkigal. Tetapi dia di pukul oleh tujuh hakim dari dunia bawah hingga tewas.

Tapi dengan bantuan Dewa Enki akhirnya dia dapat kembali hidup. Namun sebagai gantinya suaminya, Dumuzid, harus tinggal di dunia bawah menggantikannnya. Dumuzid dapat kembali bertemu dengannya setelah enam bulan, sedangkan adik Dumuzid, Geshtinanna, tetap di dunia bawah.

Baca juga: Berani Kenalan dengan 10 Makhluk Mitologi Indonesia Ini?

6. Dewa Sin / Nanna

Pada mitologi bangsa Akkadia, Dewa Sin dikenal sebagai anak dari dari Dewa Enlil dan juga dewi Ninlil. Kuil yang menjadi tempat pemujaan dari Dewa sin berada di dua tempat yaitu Harran dan Ur. Dewa Sin atau Nanna merupakan dewa bulan yang sering digambarkan dengan bentuk lembu jantan.

Tanduk pada lembu jantan dianggap mirip dengan bulan yang sedang bersinar dan mengaitkannya dengan kesuburan. Hal itu karena siklus menstruasi berubah sesuai dengan perubahan bentuk bulan. Pada zaman Mesopotamia, Dewa Sin dipelajari dari sudut astronomi dengan melihat siklus bulan.

Dewa Sin termasuk dewa yang penting pada masa Mesopotamia, terutama pada masa awal bangsa Sumeria. Jika melihat silsilahnya yang merupakan anak dari Dewa Enlil. Selain itu, Dewa Sin merupakan ayah dari dua dewa utama lainnya, yaitu Utu, Dewa matahari, dan Inanna, dewi kecantikan.

7. Dewa Shamash

Pada bangsa Akkadia, dewa matahari dan keadilan dikenal dengan nama Dewa Shamash atau untuk bangsa Sumeria dikenal dengan nama Dewa Utu. Pada masyarakat Mesopotamia bulan lebih penting dari pada matahari. Dewa matahari lebih memiliki peran saat berhubungan dengan pertanian.

Dewa Shamash dalam sejarah dikenal karena hubungannya dengan kode hukum Hammurabi. Masyarakat mempercayai bahwa Raja Hammurabi memperoleh sistem hukumnya dari Dewa Shamash.  Dia sering digambarkan sebagai orang tua bijak dengan janggutnya yang panjang.

Selain itu ia juga digambarkan duduk di atas singgsana dengan menggenggam tongkat dan juga cincin yang merupakan simbol kebenaran dan keadilan. Tempat pemujaan dari Dewa Shamash terdapat di dua tempat, yaitu Sippar dan Larsa dan kuilnya dikenal dengan nama E-babbar atau rumah putih.

8. Dewa Nabu / Nisaba

Sumber: commons.wikimedia.org

Dewa Nabu merupakan dewa kebijaksanaan, seni, dan tulisan pada bangsa Akkadia, sedangkan bangsa Sumeria mengenalnya dengan nama dengan nama Nisaba. Dewa Nabu merupakan anak dari Dewa Marduk sehingga patungnya sering dipindahkan ke Babilonia untuk menghormati ayahnya.

Dewa Nabu dipercaya sebagai dewa yang menciptakan tulisan sehingga simbol untuk Dewa Nabu biasanya berupa alat tulis berbentuk papan tulis dan kayu untuk menulis. Papan tulis yang terbuat dari tanah liat dan juga alat tulisnya berupa kayu sering dipersemahkan di kuilnya.

9. Dewa Nergal

Sumber: worldhistory.org

Dewa Nergal merupakan anak dari Dewa Enlil dan Dewi Ninlil. Nergal diri adalah dewa yang digambarkan sebagai dewa yang berkenaan dengan semua aspek kematian. Selain kematian, Nergal juga merupakan dewa yang diasosiasikan dengan wabah atau pandemi serta peperangan.

Dalam peperangan, Nergal biasanya akan menemani seorang raja dalam pertempuran, yang akan membawa kematian. Nergal merupakan dewa yang memiliki gelar Lugal Silima atau penguasa perdamaian. Keberadaa dewa Nergal diperlukan untuk mempertahankan perdamaian.

10. Dewa Ninurta

Sumber: worldhistory.org

Ninurta serupakan anak dari dewa Enlil dan juga Nunhursag, dalam bahasa Sumeria Ninurta dikenal dengan nama Ningirsu. Pada masa Mesopotamia kuno dewa Ninurta sering diasosasikan sebagai dewa berkebun, penyembuh, juga penulis, serta perang yang disebah bangsa Sumeria awal.

Tetapi dalam teks-teks awal, Ninurta juga dipercaya sebagai dewa pertanian dan penyembuh yang  membebaskan manusia dari cengkraman setan atau monster. Kuil sebagai pusat pemujaan Ninurta berada di kota Nippur yaitu kuil Eshumehsa dan juga di Lagash yang dibangunan oleh Raja Gudea.

Peradaban di Mesopotamia menjadikan para dewa dan dewi dari banyak hal yang ada di bumi. Dewa dan dewi dari Mesopotamia disembah dan dipercaya oleh beberapa bangsa yang berkembang di daratan ini, dari bangsa Sumeria, Akkadia, Babilonia dan juga bangsa Assyiria.

Para dewa tersebut itu biasanya memiliki nama yang berbeda tetapi karakter yang sama. Para dewa pada peradaban Mesopotamia banyak diketahui dari literatur Sumeria dan mereka biasanya menjadi pelindung dari sebuah kota. Tempat pemujaan para dewa ini biasanya berdiri di kota yang dilindunginya.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *