Kesetaraan Gender untuk Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Jakarta: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau dikenal juga dengan Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan cita-cita antar bangsa di dunia, dengan target tahun 2030 bisa terpenuhi. Salah satu agenda dari SDGs tersebut adalah mengenai kesetaraan gender.

“Kita tahu persis bahwa ini adalah sebuah agenda yang sangat besar, kalau kita tarik dalam konteks Indonesia kita tahu persis permasalahan yang dihadapi tidak jauh-jauh. Kalau secara khusus kita bicara mengenai bagaimana RUU PKS itu sendiri, prosesnya sampai hari ini masih belum memenuhi atau bahkan mendekati titik terang,” ujar Lestari Moerdijat, S.S.,M.M – Wakil Ketua MPR Republik Indonesia.  

Berbagai diskusi yang sudah dilakukan, kata perempuan yang akrab disapa Rerie, jelas-jelas mencatat kegelisahan yang luar biasa sampai dengan rasa frustrasi bahwa, perhatian terhadap kesetaraan gender di Indonesia masih menjadi permasalahan yang harus diselesaikan.

“Dan dibutuhkan ikhtiar dari kita semua, niat tulus dari kita semua, untuk bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang kita hadapi. Menjadi sangat penting, meletakkan isu keesetaraan gender ini dalam rangka holistik yang tidak bisa dipisahkan ketika kita berbicara untuk mencapai tujuan dari SDG sendiri,” ujar Rerie, dalam Forum Diskusi Denpasar 12 dengan Tema: Kesetaraan Gender Sebagai Bagian dari Cita-Cita Pembangunan Berkelanjutan.

Menurut Rerie, kesetaraan itu adalah wujud sebuah sikap yang adil, yang harus dimulai tidak hanya dari sebuah pemikiran tapi betul-betul harus diwujudkan sebagai sebuah perbuatan. Namun di balik itu semua, harus ada intensi dari negara secara formal dalam bentuk perlindungan hukum. Di mana diperlukan sebuah undang-undang perlindungan yang betul-betul menyeluruh dan bisa menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi saat ini.

“Menjadi korban kekerasan bukan hanya sebuah dilema karena korban tidak hanya jadi korban dari perbuatan itu sendiri tapi sering sekali korban akhirnya justru mendapatkan ‘hukuman’ yang semestinya tidak diterima oleh para korban  itu sendiri,” tambah Rerie.

Untuk itu, menurutnya di sinilah tantangan kita semua. Di sinilah diperlukan semangat dari kita semua, niat bersama dari kita semua.

“Dan sekali lagi marilah kita bersama-sama membangun sebuah gerakan yang melampaui semua sekat yang ada. Sekat-sekat politik, sekat-sekat agama, sekat-sekat suku bangsa, dan semua kelompok agar apa yang kita perjuangkan dapat terlaksana,” tutup Rerie.
(FIR)

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *