Sinopsis & Review Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief

Mengetahui bahwa dirinya bukanlah manusia pada umumnya, mungkin sebuah kelebihan dan kutukan. Hal inilah yang dirasakan Oleh Percy Jackson. Ia memiliki kemampuan untuk menyelam dalam waktu yang lama dan merasakan banyak keanehan. Menyangka dirinya terkena disleksia, ternyata Percy justru adalah putra dari Poseidon.

Percy Jackson & The Olympians: The Lightning Thief menjadi salah satu film terlaris di box office dengan pembukaan mencapai $31,2 juta. Film yang diproduseri oleh Chris Columbus ini memang dikritik memiliki rasa seperti film fantasi populer saat itu. Bahkan Rotten Tomatoes memberikan nilai 49% dari 150 review dan menyatakan kemiripan dengan Harry Potter.

Pasti kalian penasaran dong, apakah Percy dapat menerima dirinya yang merupakan putra dari Poseidon si Dewa laut? Temukan jawabannya di bawah ini.

Sinopsis

  • Tahun Rilis: 2 Februari 2010
  • Genre: Fantasy Adventure Action
  • Sutradara: Chris Columbus
  • Pemeran Utama: Logan Lerman, Brandon T. Jackson, Alexandra Daddario, Sean Bean, Pierce Brosnan, Steve Coogan, Rosario Dawson
  • Rumah Produksi: Fox 2000 Pictures, 1492 Pictures, Sunswept Entertainment, Dune Entertainment

Zeus menuduh putra dari Poseidon yang setengah Dewa telah mencuri petir miliknya, Poseidon tidak mempercayai hal ini. Pasalnya putranya yaitu Percy tidak mengetahui sama sekali identitas aslinya, tapi Zeus tetap bersikukuh bahwa Percy harus mengembalikan petir itu. Jika dalam dua minggu saat titik balik matahari petirnya tidak kembali, maka peperangan antar Dewa akan terjadi.

Percy Jackson sendiri hanya seorang anak berusia 16 tahun yang mengalami disleksia dan ADHD, tapi ia memiliki kemampuan unik. Percy dapat tetap berada di dalam air untuk waktu yang lama, hingga tiba-tiba ia diserang Alecto di sekolah. Percy diselamatkan oleh teman dan salah satu gurunya di sekolah Mr. Brunner yang ternyata menyamar untuk mengawasinya.

Mr. Brunner memberikan sebuah pena sebagai perlindungan untuk Percy yang kala itu harus menyusul ibunya di rumah bersama Grover. Ketiganya meninggalkan kota hingga saat di perjalanan mereka diserang oleh banteng raksasa yang mengambil ibu Percy. Meski sedih Percy kini sudah berada di tempat yang aman, yaitu kemah untuk anak-anak separuh Dewa.

Disana Percy mempelajari banyak hal, termasuk kekuatan yang didapatkan dari air. Hades tiba-tiba datang dan meminta Percy memberikan petir itu untuk menukarnya dengan ibunya. Percy yang nekat membangkang dari Chiron, berangkat ke dunia bawah bersama Grover dan Annabeth. Menghampiri Luke mereka mendapatkan peta dan tiga lokasi mutiara hijau milik istri Hades, Persefone.

Luka juga memberikan sepatu terbang pada Percy yang dicuri dari Hermes dan perisai favorit Luke. Pertama mereka berhasil bertemu dengan Medusa dan berhasil mengambil mutiara dengan cara membunuhnya. Selanjutnya mereka mengambil mutiara di mahkota patung Athena dan berhasil membunuh seorang Hydra dengan potongan kepala medusa.

Mengambil mutiara ketiga, mereka berhenti di Las Vegas dan hampir terbuai dan kehilangan kesadaran. Untungnya Percy berhasil lolos dan mengajak keduanya keluar dan ia berhasil membawa mutiara ketiga. Di dunia bawah, Hades menemukan bahwa petir itu tersembunyi di dalam perisai milik Luke dan mengungkapkan penjahat sesungguhnya.

Saat berusaha membunuh ketiga anak itu, Persefone justru melumpuhkan Hades dengan petir itu. Karena hanya memiliki tiga mutiara, Grover tetap tinggal sementara Percy, Annabeth dan Persefone pergi ke Empire State Building. Karena tempat itu adalah pintu masuk menuju Olympus, saat itulah Luke datang menyergap mereka.

Percy akhirnya melawan dan membunuh Luke dan berhasil menggagalkan pertempuran para Dewa. Setelah itu mereka kembali ke perkemahan dan mulai berlatih kembali seperti biasa.

Efek Visualnya Cukup Baik dan Memanjakan Mata

Salah satu hal yang paling membuat saya merasa senang dan menikmati menonton film ini adalah efek visualnya. Saya menyukai bagaimana efek visualnya begitu mulus dan lembut, meski ada beberapa cacat sedikit di beberapa bagian. Seperti saat Medusa merubah seorang wanita menjadi batu, saya melihat CGI nya agak sedikit mentah.

Tapi untuk efek visual dari mahluk-mahluk ajab seperti naga yang dikirimkan oleh Hades, terlihat cukup hebat. Naga itu memiliki efek yang cukup baik, sehingga saya bisa menikmati seakan menonton naga sungguhan di film ini. Saya seakan sedang masuk ke dunia dongeng dan khayal sebagai salah satu anak dari Dewa Yunani.

Tentu saja sinematografi tidak boleh terlewatkan, meski kebanyakan syutingnya dengan CGI tapi cara pengambilan gambarnya cukup baik. Saya hanya menyayangkan mereka tidak banyak mem-framing mengenai Yunan dibanding casino di Vegas. Memasukkan unsur Yunani yang sesuai dengan cerita yang diangkat mungkin akan memberikan kesan lain untuk film ini.

Meski begitu untuk keseluruhan efek dan editingnya sudah sangat baik, yah saya merasakan Columbus memang tahu apa yang baik untuk film fantasi. Pasalnya ia juga berhasil menggarap Harry Potter dengan sangat baik, jadi saya tidak heran jika film ini juga cukup menghibur. Hanya saja aspek Yunani yang seharusnya lebih ditonjolkan tidak terasa sama sekali di film ini.

Penampilan Epic dari Pemeran Pendukungnya

Hal yang paling saya sayangkan dari film Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief pengembangan karakter pemeran utamanya. Pasalnya bagi saya pemeran utama Percy Jackson seakan memiliki kepribadian yang paling lemah disini. Saya merasa bahwa karakter Percy dalam film ini terlihat sangat abu-abu.

Baca juga:

Saya merasakan bahwa karakternya penuh dengan ketidaktahuan dan penuh keraguan di dalam dirinya. Sedangkan dalam film ini Percy Jackson adalah seorang pahlawan karena ia adalah putra dari Poseidon. Tapi kenyataanya Percy Jacskon dalam film ini adalah anak yang dipenuhi dengan rasa keragu-raguan dalam dirinya.

Begitu pula dengan Annabeth, saya merasa karakternya sebagai putri dari Athena tidaklah semenawan ibunya. Entah karena mungkin memiliki darah campuran dengan manusia, jadi Annabeth tidak semenarik dan agung sang ibu. Tapi tetap saja saya kecewa karena karakter Annabeth yang kuat di awal, justru makin melempem di akhir.

Untungnya ada Grover yang diperankan oleh Brandon T. Jackson yang berhasil mengalihkan rasa bosan saya dari kedua pemeran utamanya. Saya rasa pemilihan Brandon sebagai Grover adalah pilihan yang sangat tepat, karena ia yang bisa meningkatkan suasana. Karakter Grover ini menjadi salah satu yang memiliki penampilan yang totalitas dan terbaik.

Grover sendiri menjadi karakter yang bisa meningkatkan karakter lain yang ada bersamanya. Saya merasa Grover berhasil menutupi kekurangan dari Logan Lerman dan Alexandra Daddario di film ini. Karena Grover seakan mengambil alih semuanya, ketika ia sudah berbicara atau bereaksi akan sesuatu. Ekspresinya sangat menyenangkan dan membuat saya makin menikmati menontonnya di film ini.

Storyline Cukup Baik tapi Penempatan Para Dewa Agak Ambigu

Bagi para penikmat cerita fantasi, Percy Jackson akan memberikan kalian petualangan yang menyenangkan. Pasalnya kalian akan dibawa untuk menikmati kehidupan ala anak-anak dari para Dewa Yunani kuno. Tentu saja kehidupan sebagai anak-anak dari para Dewa ternyata tidaklah mudah dan menyenangkan yang kita duga.

Percy Jackson yang awalnya berpikir bahwa ia adalah seorang pecundang yang memiliki disleksia. Siapa sangka ternyata dirinya adalah seorang putra dari Dewa dan memiliki kekuatan lebih ketika menyentuh air. Siapa lagi Dewa yang memiliki kekuasaan atas air selain Poseidon, Dewa yang menguasai seluruh lautan.

Kehidupan membosankan Percy berubah ketika dirinya dikejar-kejar oleh Hades, Dewa penguasa neraka yang memintanya mengembalikan petirnya. Bertemu dengan anak-anak berdarah campuran manusia dan Dewa lainnya, kehidupan aneh ini bukan hal baru lagi. Di sisi lain meski dirinya memiliki kekuatan, Percy tidak pernah menyadari seberapa kuat dirinya itu.

Saya suka bagaimana plotnya berjalan, meski terkadang saya sendiri merasa beberapa keheranan. Tapi hal ini tidak membuat saya lebih bingung dibanding saat melihat para Dewa muncul. Pasalnya saya menginginkan rasa keagungan dan elegan dari seorang Dewa Yunani yang melegenda. Sejujurnya saya berharap ada framing lebih mengenai para Dewa, karena yah cerita ini bermula dari kesalahan mereka.

Sayangnya di film ini saya merasa ada ke miss dalam penggambaran para Dewa Yunani yang memang terkesan untuk komersial. Jadi saya merasa mereka justru terlalu meremehkan para Dewa Yunani ini, karena sangat membosankan juga melihat mereka. Ada kesan jingoistik, dimana para Dewa ini lah yang menjadi orang lemah.

Meski sebenarnya mereka memframing kekuatan seseorang berdasarkan dari siapa orang tua mereka. Anak dari Dewa siapa? maka mereka akan mendapatkan jaminan sebagai anak yang paling kuat dari yang lainnya. Saya juga mendengar bahwa film ini ternyata memiliki banyak perbedaan dengan versi bukunya, karena banyak yang tidak di hadirkan di versi filmnya.

Chris Colombus Membawa Rasa Harry Potter Kedalam Film Ini

Ada salah satu scene yang seharusnya menakutkan, tapi justru mengingatkan saya pada Harry Potter. Scene saat Percy dan kedua temannya menaiki perahu melewati neraka menuju ke kediamanan Hades. Saat saya menonton benda berterbangan dan mahluk-mahluk di dalamnya, itu jelas membuat saya teringat dengan Harry Potter dengan berbagai benda mengapung karena sihir.

Lalu dari sini saya menyadari bahwa Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief disutradarai oleh Chris Columbus. Jadi tidak heran kenapa film ini memang memiliki vibes yang mirip dengan Harry Potter. Tetapi memiliki kesan dengan film ternama, ternyata tidak membuat film ini mendapatkan kesuksesan yang sama.

Sebaliknya Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief justru mendapatkan cukup banyak kritik. Bagi saya memang riskan jika kamu masih terobsesi dengan film terlaris mu dan ingin membuat film lainnya yang sama larisnya. Sayangnya Chris Columbus memang harus mengakui bahwa vibes Harry Potter telah ia bawa ke film Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief.

Sehingga saya merasa film ini lebih condong ke arah magic dibanding memperkuat sisi Yunani kuno. Film yang harusnya sarat dan kental akan pelajaran mengenai mitologi Yunani, justru terasa seperti sihir modern. Lebih tepatnya anak-anak dengan kekuatan super yang menjalani kehidupannya di dunia modern sambil membanggakan silsilah keluarganya.

Padahal anak-anak ini tidak mengenal dengan baik silsilah keluarganya, hanya kenal orang terkenalnya saja. Begitulah yang saya dapatkan dari Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief, saya merasa mereka hanya ingin pamer “Aku adalah anak dari Dewa”. Tanpa memberikan kesan bahwa ia adalah putra atau putri dari Dewa dan Dewi dari mitologi Yunani.

Chris Columbus sepertinya melupakan aspek penting mengenai mitologi Yunani yang seharusnya ia tonjolkan di film ini. Pasalnya jika ia bisa memberikan kesan Harry Potter berasal dari sekolah sihir yang sudah lama berdiri. Lalu kenapa ia tidak bisa membawa mitologi Yunani ke zaman modern tapi tidak melepaskan unsur tradisionalnya.

Bagi kalian yang memang menyukai film yang bergenre fantasi, nonton Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief tidak boleh terlewatkan. Setidaknya kita akan mendapatkan film yang memiliki efek baik dengan petualangan anak-anak ke dunia para Dewa.

Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief

7 / 10
Bacaterus.com

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *