14 Negara Sepakat Usir Israel dari Uni Afrika

Addis Ababa: Aljazair dan 13 negara Afrika lainnya sepakat untuk mengeluarkan Israel dari Uni Afrika (UA). Keputusan diambil badan tersebut pekan lalu, usai memberikan status pengamat kepada rezim Tel Aviv.
 
Surat kabar online yang berbasis di London, Rai al-Youm melaporkan pada Sabtu bahwa Aljazair telah secara resmi memulai proses pembentukan kelompok negara-negara Afrika untuk menentang keanggotaan Israel di Uni Afrika. Mereka bersikeras untuk melestarikan prinsip-prinsip persatuan dan untuk mendukung Palestina.
 
Menurut laporan itu, Afrika Selatan, Tunisia, Eritrea, Senegal, Tanzania, Niger, Komoro, Gabon, Nigeria, Zimbabwe, Liberia, Mali dan Seychelles adalah negara-negara yang telah setuju untuk mengusir Israel dari 55 anggota Uni Afrika.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Menteri Luar Negeri Aljazair Ramtane Lamamra telah menekankan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam dengan langkah Uni Afrika yang diambil tanpa konsultasi dengan negara-negara anggotanya.
 
“Keputusan UA untuk menerima Israel sebagai anggota pengamat bertujuan untuk merusak stabilitas Aljazair, yang mendukung Palestina dan tujuannya,” ujar Lamamra, kepada Rai al-Youm, yang dikutip Tasnim News, Senin 2 Agustus 2021.
 
“Langkah diplomatik negara kami sebenarnya merupakan reaksi terhadap Israel yang memperoleh status pengamat di Uni Afrika setelah upaya bertahun-tahun oleh pejabat Negara Yahudi itu,” ujarnya.
 
Lamamra mencatat bahwa Israel sebelumnya memperoleh keanggotaan sebagai pengamat di Organisasi Persatuan Afrika, tetapi pada 2002, gelar itu diambil kembali dari rezim ketika Uni Afrika menggantikan organisasi tersebut.
 
Harian itu lebih lanjut menulis bahwa Lamamra diharapkan untuk membahas masalah keanggotaan Tel Aviv di Uni Afrika dalam perjalanannya yang akan datang ke empat negara Afrika yaitu Tunisia, Ethiopia, Sudan dan Mesir.
 
Pada 22 Juli, Israel memperoleh status pengamat di AU setelah hampir 20 tahun melobi. Bahasa pro-Palestina biasanya ditampilkan dalam pernyataan yang disampaikan pada KTT tahunan Uni Afrika.
 
Palestina sudah memiliki status pengamat di Uni Afrika, dan diplomat Israel telah mengkritik pernyataan UA baru-baru ini tentang konflik Israel-Palestina.
 
Kepala biro politik gerakan perlawanan Hamas, Ismail Haniyeh mengecam keputusan Uni Afrika memberikan status pengamat kepada Israel. Dia menyatakan bahwa langkah itu bertentangan dengan semua nilai dan prinsip yang menjadi dasar pendirian blok Afrika.
 
Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Moussa Faki Mahamat, ketua Komisi Uni Afrika, Haniyeh mengatakan, langkah itu “merupakan pukulan telak bagi bangsa Palestina dan hak-hak nasional mereka yang sah saat mereka berjuang untuk menyingkirkan rezim pendudukan Israel.”
 
(FJR)
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *