Sinopsis & Review Film Thriller Don’t Breathe (2016)

Mencuri atau merampok bukanlah tindakan terpuji walau banyak yang menggunakan alasan terpaksa ketika melakukannya. Kerugian yang diderita korban bukan cuma secara materi, mental korban pun pasti terguncang. Perampokan sangat dekat dengan kekerasan, untuk itulah kerugian korban selalu berlapis-lapis.

Pelaku pencurian atau perampokan punya motivasi berbeda. Ada yang ingin bertahan hidup tapi ada juga yang menjadikannya sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang. Jalan pintas itu yang ditempuh tiga remaja di film Don’t Breathe. Mereka merampok pria tunanetra berusia tua tapi justru membuat mereka terjebak. Sinopsis dan review film Don’t Breathe bisa kamu simak di sini!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2016
  • Genre: Horror, Thriller
  • Produksi: Screen Gems, Stage 6 Films, Ghost House Pictures, Good Universe
  • Sutradara: Fede Alvarez
  • Pemain: Jane Levy, Dylan Minnette, Daniel Zovatto, Stephen Lang

Rocky, Alex dan Money adalah tiga remaja asal Detroit. Rocky merupakan perempuan berusia belasan tahun yang nggak betah tinggal di rumah karena kelakuan kasar ibunya. Dia ingin pindah dari Detroit agar nggak perlu tinggal di rumah yang membuat dia menderita.

Money, pacar dari Rocky pun berniat turut serta. Sementara Alex merupakan teman kecil Rocky yang diam-diam menyimpan perasaan suka. Pertemanan Rocky, Alex dan Money berbeda dengan remaja seusianya.

Mereka doyan melakukan perampokan demi membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Hasil rampokan mereka nggak begitu banyak mendatangkan uang. Mereka pun diberi tahu tentang keberadaan rumah seorang pria yang baru saja mendapat uang dengan nominal besar.

Rocky yang frustasi berada di rumah menemui Money dan mengungkapkan niatnya untuk merampok rumah pria itu. Dia ingin segera melarikan diri dan keinginannya disambut Money. Untuk melakukannya, mereka butuh uang dalam jumlah yang cukup banyak sebagai bekal. Mereka kemudian mengajak Alex yang awalnya agak keberatan tapi akhirnya mau bergabung.

Money diberi tahu bahwa pria itu punya uang sebesar USD 300 ribu. Dia mendapatkan uang itu setelah mendapat penggantian dari asuransi atas kecelakaan yang menimpa anaknya. Mereka semakin tergiur ketika mengetahui pria itu tinggal di lingkungan yang sepi. Sebelum melancarkan aksinya, mereka pun memata-matai pria tersebut.

Rocky, Alex dan Money berhasil mengumpulkan beberapa informasi penting. Pria tua itu ternyata penyandang tunanetra dan tinggal bersama seekor anjingnya. Selain itu, dia juga adalah seorang veteran perang. Merasa pria itu akan menjadi sasaran empuk, mereka berencana untuk merampok rumahnya pada tengah malam.

Pada malam hari, Rocky dan dua temannya datang ke rumah pria yang sebenarnya bernama Nordstrom itu. Agar nggak diserang oleh anjing milik Nordstrom, mereka membius sang anjing kemudian menyimpan sebotol gas yang bisa membuat tidur siapa saja yang menghirupnya. Mereka kemudian menelusuri seisi rumah tapi gagal menemukan uang sebesar USD 300 ribu.

Money menemukan sebuah pintu yang dikunci. Merasa ada kemungkinan uang disembunyikan di balik pintu itu, dia pun membuka kunci dengan menembakkan pistolnya. Suara tembakan itu terdengar oleh Nordstrom yang langsung mencari sumber suara. Nordstrom berhasil menangkap Money sementara Alex dan Rocky bersembunyi.

Norstrom mendesak agar Money mengaku dengan siapa dia merampok. Money bersikukuh kalau dia cuma sendiri. Nordtsrom kemudian membunuh Money. Dia kemudian membuka sebuah peti berisi uang, melihat hal tersebut Rocky mencurinya. Tapi, Nordstrom menemukan sepatu milik Rocky, dia sadar kalau masih ada perampok lain di rumahnya. Bisakah Rocky dan Alex melarikan diri?

Eksekusi Hebat dari Premis Sederhana

Eksekusi Hebat dari Premis Sederhana

Film Don’t Breathe menggunakan premis sederhana yaitu tiga remaja merampok rumah pria tunanetra dan terjebak di dalamnya. Nggak ada yang rumit dari premis tersebut tapi berhasil dieksekusi dengan hebat oleh Fede Alavarez, sang sutradara. Alavarez sukses mengubah kesederhanaan itu menjadi tontonan yang menarik dengan mengumbar ketegangan hampir sepanjang film.

Selama hampir satu setengah jam, kita akan disuguhi bagaimana perjuangan Rocky, Money dan Alex untuk merampok berubah menjadi upaya menyelamatkan diri. Money harus meregang nyawa di tangan Nordstrom. Kemudian dia sadar masih ada perampok lainnya. Terlebih dia merupakan anggota veteran yang punya kemampuan menembak dengan berbekal indra pendengarannya.

Baca juga:

Setiap gerak Rocky dan Alex yang menciptakan bunyi akan sampai di telinga Nordtsrom. Nordstorm mengandalkan suara untuk mendeteksi keberadaan perampok. Alhasil mereka harus bergerak tanpa suara, bahkan harus menahan napas ketika Nordstrom berjalan mendekati mereka. Hal itu bertambah sulit setelah anjingnya mulai sadar.

Permainan Tempo yang Tepat

Permainan Tempo yang Tepat

Awal film Don’t Breathe sekilas akan membuat kita sedang melihat film drama remaja. Karakter Rocky, Money dan Alex perlahan-lahan diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa diri mereka di dalam film. Penggunaan tempo yang pelan di awal ini sangat berguna karena berhasil membangun karakter lengkap dengan latar belakangnya.

Nggak perlu berlama-lama dengan tempo pelan, hanya dalam hitungan menit tempo langsung meningkat. Setelah adegan yang menyoroti lingkungan tinggal Nordtsrom, kita akan langsung disuguhi ketegangan bagaimana Rocky, Money dan Alex mencari uang di dalam rumah. Sisanya adalah adegan kucing-kucingan yang terjadi antara Nordstrom dengan Rocky dan Alex.

Sinematografi dan Scoring yang Mendukung

Sinematografi dan Scoring yang Mendukung

Kita sebagai penonton diberi kesempatan untuk melihat-lihat bagaimana rumah Nordstrom. Pergerakan kamera yang diatur Pedro Luque mengajak kita menelusuri ruangan, lorong sampai tempat yang direncanakan untuk melarikan diri oleh Rocky dan teman-temannya. Jadi, kita nggak cuma mengenal para karakter, tapi juga detail tempat kejadian perkara.

Pengenalan rumah itu seperti ingin mengajak kita mengenali medan yang harus dilewati. Cara yang jitu untuk memperlihatkan bagaimana ruangan sesederhana itu bisa menjadi begitu sulit dilewati dalam one-room thriller ini. Selain menggunakan pergerakan kamera dinamis, Don’t Breathe yang juga bergenre horror juga mengandalkan jumpscare.

Bagusnya, jumpscare nggak dibuat asal-asalan untuk mengagetkan melainkan dibangun dengan baik lewat scoring yang tepat. Ada latar belakang musik yang membuat suasana semakin mencekam tapi ada juga kalanya nggak ada suara sama sekali untuk menyampaikan ketegangan Rocky dan Alex di dalam rumah yang nggak boleh membuat suara.

Bermain di Area Abu-Abu

Bermain di Area Abu-Abu

Di awal Don’t Breathe, kita akan menilai karakter Rocky, Money dan Alex sebagai antagonis. Mereka adalah remaja yang tega merampok rumah seorang veteran tunanetra demi mendapatkan uangnya. Walau begitu niat Rocky dan kawan-kawannya pun bukanlah karena niat buruk untuk memperkaya diri. Hal itu membuat karakter mereka berada di area abu-abu.

Sampai di pertengahan film, karakter Nordstrom digambarkan sebagai protagonis yang membela diri karena rumahnya hendak dirampok. Tapi seiring dengan berjalannya cerita, kita akan disuguhi oleh twist yang mengejutkan. Masalahnya, Nordstrom punya rahasia yang berhasil ditemukan oleh Rocky dan Alex.

Don’t Breathe berhasil menyajikan horror dan thriller dengan sangat tertata. Hebatnya ketika kita merasa cerita akan mudah ditebak, ada twist yang membuat cerita semakin seru dan jauh dari kata membosankan. Kalau kamu suka film dengan twist yang nendang, harus banget nonton film ini. Nikmati keseruannya lalu bagikan ulasanmu di kolom komentar, teman-teman!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *