Sinopsis & Review The Call of the Wild, Petualangan Anjing Rumahan

Miller mungkin tidak pernah menyangka jika hukuman yang diberikan pada Buck malam itu akan membuatnya kehilangan sang anjing kesayangan. Buck juga tidak akan menduga jika dalam satu malam, hidupnya yang hangat, berubah penuh petualangan. Dia diculik dan dibawa jauh dari rumahnya di California.

Kini, Buck harus segera siap dan lekas beradaptasi dengan kehidupan dingin bersalju di Alaska. Sebagai anjing penarik kereta surat dia diperlakukan baik, hingga lelaki serakah membuat hidupnya bertambah berat. Beruntung Buck bertemu dengan seorang pria tua yang mengantarkannya ke ‘rumah’. Sekilas cerita ini bisa Anda tonton secara penuh dalam film The Call of the Wild (2020) karya Chris Sanders. Sebelum itu, mari baca sinopsis dan ulasannya di bawah ini yuk!

Sinopsis

  • Tanggal/Tahun Rilis:  21 Februari 2020
  • Genre:  Petualangan, Drama
  • Produksi: 20th Century Studios, TSG Entertainment, 3 Arts Entertainment
  • Sutradara: Chris Sanders
  • Pemeran: Harrison Ford, Omar Sy, Cara Gee, Dan Stevens

Pada akhir abad ke-19, hidup seekor anjing yang gagah dan berbulu lebat serta halus bernama Buck. Buck tinggal di Santa Clara, California bernama pemiliknya yang merupakan seorang hakim bernama Miller (Bradley Whitford). Buck anjing yang lincah, pintar dan sedikit nakal. Setiap harinya selalu berlari-lari sekaligus bisa mematuhi perintah tuannya. Ketika Buck berlarian di area keramaian, seorang lelaki memerhatikannya sambil berpikir mengenai berapa keuntungan yang didapat jika dia bisa menjual anjing tersebut.

Suatu hari, Miller mengadakan sebuah pesta ulang tahun di rumahnya yang besar. Segala macam makanan lezat sudah dia siapkan untuk para tamu. Makanan pun ditata dengan cantik di atas meja menunggu untuk disantap. Namun, semua berantakan karena ulah Buck.

Makanan berceceran dan tumpah. Miller yang mengetahui hal ini sangat kesal dan menghukum si anjing untuk tidur di luar. Ini bukan hukuman pertama bagi Buck karena sebelumnya dia sudah pernah membuat onar. Buck lalu ditinggal masuk oleh majikannya sambil menampakkan ekspresi bersalah.

Malam hari pun tiba. Seorang lelaki yang tadi siang memerhatikan Buck terlihat mengintainya. Dia lantas berusaha menarik perhatian Buck dengan memanggilnya dari jauh. Lelaki itu memancing Buck menggunakan sebuah makanan yang sengaja dilemparkan ke sebuah kotak kayu berukuran besar agar anjing tersebut langsung masuk dan tertangkap. Benar saja tanpa halangan yang berarti, pemburu itu dengan mudah mendapatkan Buck.

Buck akan dijual dengan harga tinggi. Dia dipindahkan ke beberapa tempat hingga di sebuah ruangan, kotak tempatnya berada dibuka. Buck pun langsung melompat ke luar dan berusaha melawan. Seketika penjaga yang ada di sana memukul Buck dengan keras hingga anjing itu terjatuh. Buck terlihat memilih pasrah karena dia tahu tidak mungkin melawan apalagi menang.

Walau begitu, Buck tidak putus asa untuk bisa melarikan diri. Dengan kekuatannya dia berhasil menarik ikatan di lehernya hingga lepas dan mencoba pergi. Begitu berhasil sampai di atas, Buck rupanya sedang berada di sebuah kapal yang tengah melintas di lautan es. Dia ternyata dibawa menggunakan kapal barang dan dikirim ke Yukon.

Yukon adalah sebuah tempat yang tertutup oleh salju. Yukon juga berbahaya dan rawan bencana. Buck jauh dari rumah. Sekarang dia ada di Alaska, di tempat para pemburu emas berkumpul. Buck ditarik menggunakan tali oleh orang yang akan menjualnya. Anjing itu terlihat bingung dan asing dengan lingkungan barunya yang sama sekali tidak ramah.

Saat sedang dituntun berjalan, Buck menginjak area tanah yang bersalju. Mulanya dia kaget tapi Buck terlihat menyukainya dan bergerak ke sana-ke sini hingga membuatnya terlepas dari tali yang mengingat di bagian leher. Buck langsung kabur tak tentu arah sampai-sampai dia menabrak seorang lelaki tua. Alih-alih memarahinya, lelaki itu justru dengan ramah mengingatkan Buck untuk hati-hati.

Tanpa disadari harmonika milik lelaki tua itu terjatuh, Buck pun mengembalikannya dan pak tua berterima kasih. Tidak lama, orang yang akan menjual Buck berhasil menemukannya dan mengikat anjing itu kembali. Dia lalu membawanya ke penampungan anjing agar Buck bisa segera dijual.

Cerita berlanjut saat seorang tukang pos bernama Perrault (Omar Sy) yang langsung tertarik pada Buck. Perrault pun menjadi pemilik Buck yang baru. Beberapa saat kemudian, Perrault mengajak Buck untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Sesampainya di atas, Perrault dan Buck bertemu dengan Françoise (Cara Gee), kekasih Perrault yang juga seorang tukang pos.

Françoise terlihat kecewa karena Perrault hanya membawa satu ekor anjing sementara yang dia butuhkan adalah dua. Lelaki itu lantas berdalih tidak membutuhkan anjing lain, karena baginya Buck sudah cukup kuat, mengingat tubuh Buck memang lebih besar dibandingkan lainnya. Di sana, Buck ‘berkenalan’ dengan beberapa anjing penarik kereta pos, termasuk Spitz si pemimpin.

Baca juga:

Sebelum pergi Buck mendapat petunjuk dari Perrault, bahwa dia hanya perlu mengikuti anjing-anjing yang lain melalui rute yang sudah ditetapkan. Setelahnya, tugas pertama Buck sebagai anjing penarik pun dimulai. Sebagai pemula, Buck tentu sangat canggung. Bukannya berlari, Buck justru jalan dan terseret-seret hingga menabrak anjing lain di sebelahnya.

Dia teralihkan oleh seekor kelinci yang duduk di atas batang pohon di pinggir jalan dan mengakibatkan rombongannya terguling. Sebagai pemilik, Perrault tidak memarahi Buck. Lelaki itu justru menyemangati si anjing. Tak lama rombongan anjing pun kembali berjalan dan Buck mulai terlihat terbiasa serta bisa mengikuti ritme. Sampai akhirnya Buck kelelahan.

Saat malam tiba, Buck yang kedinginan tidur di luar, mencoba masuk ke tenda, tapi kembali diusir oleh Françoise. Pada saat itu, Buck melihat seekor serigala bertubuh besar dengan mata yang menyala, tapi serigala itu tak lama hilang saat Buck memalingkan pandangan ke arah lain. Lalu apakah serigala yang dilihat Buck adalah nyata atau hanya ilusinya karena kedinginan? Bagaimana nasib Buck selanjutnya?

Adaptasi Novel Legendaris Karya Jack London

The Call of The Wild merupakan adaptasi dari sebuah novel legendaris berjudul sama karya Jack London yang terbit tahun 1903. Novel ini berisi petualangan seekor anjing bernama Buck yang tinggal di Yukon, Kanada, antara tahun 1890-an, tepatnya di era Klondike Gold Rus. Pada masa itu terjadi migrasi besar-besaran para pencari emas ke wilayah Klondike, Yukon.

Semua bermula dari penemuan emas oleh seorang penambang lokal tahun 1896. Berita ini menyebar hingga sampai ke Seattle dan San Francisco. Bisa dipastikan tahun-tahun setelahnya wilayah ini banjir serbuan para pencari emas. Untuk sampai di sana para pencari emas harus membawa perbekalan minimal untuk satu tahun. Guna membawa perbekalan tersebut, mereka memanfaatkan tenaga anjing.

 Untuk membuat novelnya ini, London menghabiskan waktu cukup lama di Yukon. Dia mengobservasi banyak hal sebelum menuliskannya pada novel ini. The Call of The Wild meraih kesuksesan dan membawa London menjadi satu dari penulis novel yang diperhitungkan. Sejak itu, beberapa film dibuat berdasarkan ceritanya, termasuk The Call of The Wild yang tayang pada 2020 lalu ini.

Klasik: Persahabatan Manusia dan Anjing yang Penuh Pelajaran dan Mengharukan

The Call of The Wild bukan film pertama yang menceritakan persahabatan antara manusia dan anjing. Ajaibnya, film dengan tema klasik seperti ini selalu saja mampu hadir sebagai sebuah tontonan yang mengesankan. Tema yang diangkat memang sangat universal, yaitu persahabatan, sehingga film bertema klasik semacamnya akan terus relevant untuk ditonton kapan pun.

Disutradari oleh Chris Sanders, The Call of The Wild menceritakan petualangan seekor anjing bersama para pemiliknya yang bermacam-macam sifat dan latar belakang. Kita diajak mengenal Hakim Miller, pemilik Buck yang pertama. Dia dikenal tegas dan tak segan menghukum anjingnya jika bersalah.

Walau demikian, Miller majikan yang baik, terlihat dari sikap Buck yang ceria dan tidak canggung bermain dengan anggota keluarga yang lain.

Kemudian Anda akan mengenal Perrault, pemilik Buck yang membelinya dari penampungan. Perrault merupakan seorang pengantar surat sekaligus majikan yang juga baik untuk Buck. Dia memperlakukan Buck dengan bijak dan penuh penghargaan. Namun, Anda juga akan bertemu dengan Hal yang jahat, exploitative dan gila harta. Dia tidak melihat Buck sebagai makhluk hidup hingga bisa memperlakukan anjing sesukanya. Karakter Hal dibawakan secara luwes oleh Dan Stevens.

Terakhir, Anda akan berkenalan dengan majikan Buck bernama John Thornton yang diperankan oleh Harrison Ford. Dia seorang lelaki tua yang memilih hidup menyendiri tapi sesungguhnya sangat kesepian sejak kematian anaknya. John tak kalah baik hati. Dia yang menyelamatkan Buck dari perilaku kejam yang dilakukan Hal.

Karakter dari majikan Buck terlihat bagai representative sifat manusia yang tak sama antara satu dan lainnya. Hal yang pasti, hubungan Buck dengan mereka, sukses membuat cerita film ini berjalan dengan penuh pelajaran dan mengharukan.

Baca juga: Film Terbaik Tentang Persahabatan Anjing dan Manusia

Anjing Rumahan yang Menemukan ‘Rumah’

Dari sekian banyak moral value dalam cerita The Call of The Wild, Anda akan mendapatkan pesan yang paling bold mengenai definisi kebahagiaan. Banyak orang menambang emas, konon, untuk membuat hidupnya berkecukupan dan bahagia, tapi di saat bersamaan ia membuatmu terobsesi dengan kekayaan; dan obsesi sama sekali bukan jalan menuju kebahagiaan. Pada karakter Hal, itu justru petaka yang membuatnya kehilangan nyawa.

Mengikuti perjalanan Buck bersama John, terlebih saat Buck mulai diterima oleh kawanan serigala, John menarik para penonton dan memperlihatkan bahwa definisi bahagia adalah ketika kita berada di tempat yang tepat, yaitu tempat orang-orang bisa menerima keberadaan kita apa adanya. Ya! Dalam petualangannya ini Buck bahagia, karena anjing rumahan itu menemukan ‘rumah’.

CGI yang Memuaskan

The Call of The Wild fokus pada karakter Buck sebagai tokoh utama. Di bawah arahan sutradara Chris Sanders film ini memang dibuat dengan memadukan antara live action dan animasi. Karakter Buck sendiri, dibuat melalui proses komputerisasi. Ia produk animasi CGI yang dibuat berdasarkan sorot mata dan ekspresi wajah milik Terry Notary.

Sang aktor mendapat pujian dari sutradara karena bisa memperlihatkan keadaan emosional seperti bahagia, ketakutan, terancam sekaligus sedih, dengan luar biasa. Hasilnya, Anda berhasil terbawa oleh emosinya karena melihat karakter Buck sungguh hidup.

Sejujurnya, tidak ada yang baru yang ditawarkan oleh The Call of The Wild. Premisnya sudah cukup akrab dengan para penonton. Meski begitu Anda akan dibuat kagum dengan sinematografi dan emosi Buck sendiri. Daripada semakin penasaran, Anda bisa menontonnya secara langsung! Siapkan tissue ya karena film ini akan membuat Anda merasa kehilangan sekaligus menemukan.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *