School of Rock (2003): Belajar Menjadi Guru dari Seorang Anak Band

Peran seorang guru dalam mendidik siswa-siswanya di sekolah, beberapa kali, dijadikan tema sebuah film. Beberapa film bertema guru yang menarik untuk ditonton adalah film Deads Poets Society (1989), Dangerous Minds (1995), School of Rock (2003), dan Freedom Writers (2007).

Satu film yang saya bahas di tulisan ini adalah School of Rock (2003).  Tokoh guru dalam film ini berbeda dengan film yang saya sebutkan di atas. Tokoh guru dalam film-film tersebut aslinya berprofesi sebagai guru. Hal ini berbeda dengan School of Rock (2003) yang tokoh utamanya seorang anak band. Ia berpura-pura menjadi temannya yang melamar pekerjaan guru di sekolah itu.  Selain itu, film ini tidak bernuansa serius sehingga film ini dikategorikan sebagai film komedi.

Keberadaan aktor Jack Black di film ini menjadi satu daya tarik tersendiri. Sebagai aktor, Jack Black sukses berperan di banyak film, seperti High Fidelity (2000), King Kong (2005), Nacho Libre (2006), Bernie (2011), dan Goosebumps (2015). Di film Goosebumps, ia juga berperan sebagai guru. Untuk film School of Rock, Jack Black meraih sebagai nomine di enam acara penghargaan dan  satu gelar Best Comedic Performance  dari MTV Movie Award.

Dari Rocker Menjadi Guru

Menjadi guru bagi sebagian orang memang bukan perkara mudah. Takterkecuali bagi seorang Dewey Finn, rocker idealis yang dikeluarkan dari grupnya sendiri. Dalam film ini, Finn ditantang untuk beradaptasi dari seorang rocker yang bergaya urakan menjadi guru sekolah dasar (SD).

Dewey Finn, yang diperankan Jack Black, adalah seorang vokalis sekaligus gitaris sebuah grup band yang biasa manggung dari kafe ke kafe. Finn harus menerima kenyataan dikeluarkan dari grupnya sendiri karena idealismenya dalam bermusik tidak diterima oleh rekan-rekannya.

Dalam keadaan menganggur, taksengaja ia menerima telepon dari sebuah SD swasta. Telepon itu ditujukan untuk Ned Schneebly, teman sekamar Dewey, yang melamar sebagai guru pengganti di sekolah itu. Karena tergiur dengan gaji sebagai guru pengganti, Dewey berpura-pura sebagai Ned Schneebly dan menyatakan diri siap mengajar.

Hal yang membuat Dewey bersemangat mengajar adalah niatnya untuk berpartisipasi di sebuah festival band di kota setempat. Dewey menjadikan siswa-siswanya sebagai anggota sekaligus kru band yang dibentuk Dewey. Tentu saja hal ini dilakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan kepala sekolah dan orang tua siswa.

Dalam interaksinya bersama para siswa untuk proyek festival band tersebut, Dewey terlihat piawai memainkan perannya sebagai guru. Dewey dapat menggali potensi-potensi siswanya dalam bermusik yang sebelumnya kurang terapresiasi.  Ia berhasil membentuk formasi band yang tediri atas pemain drum, gitaris, bassist, keybordist, dan penyanyi latar. Ia sendiri berperan sebagai vokalis utama.

Tidak hanya personil band, Dewey juga piawai menggali potensi siswa-siswa lainnya sebagai kru band. Ia memberi kepercayaan kepada siswa-siswanya untuk menangani berbagai hal, seperti kostum, efek visual panggung, tim keamanan, dan merchandise band. Dewey terlihat hanya memberikan arahan berupa garis besar dan selebihnya ia serahkan kepada para siswanya untuk berkreasi.

Dalam kapasitasnya sebagai seorang musisi, Dewey digambarkan menguasai berbagai alat musik. Saat adegan latihan, ia memberi arahan sekaligus contoh praktis cara memainkan alat atau bernyanyi untuk tiap-tiap anggota band. Sebagai seorang pemimpin band, ia dapat pula mengonsep dengan cepat gambaran penampilan yang akan mereka mainkan di panggung.

Pemahaman Dewey terhadap musik sangat kuat. Dalam satu adegan, Dewey memberikan tugas kepada seluruh siswa melalui compact disc (CD) yang ia bagikan. Ia menyebutkan kepada tiap siswa di lagu apa siswa tersebut harus memperhatikan lebih. Begitu pula saat mengajarkan teori musik. Khusus babak ini, visualisasi dan latar lagunya dikemas sangat menarik. Digambarkan Dewey sedang memberi materi sejarah musik rock, kemudian menganalisis lewat video dari beberapa penampilan band-band terkenal. Adegan ini diiringi potongan lagu The Ramones “Bonzo Goes To Bitburg (My Brain is Hanging Upside Down)”.

Sebagai seorang musisi, idelisme Dewey tercurahkan di grup bentukannya ini. Idealisme tentang bermusik yang sebelumnya ditolak rekan-rekannya saat bermain band, ia tanamkan kepada para siswa dengan bahasa yang sederhana dan cara yang menghibur sehingga dapat dimengerti para siswanya yang masih berusia sekolah dasar.

Peran sebagai motivator sangat menonjol dalam kapasitas Dewey sebagai guru. Zach, siswa yang terpilih sebagai gitaris, awalnya kurang bersemangat tampil karena dilarang orang tuanya bermain gitar di rumah. Dengan gaya yang khas, Dewey dapat memotivasi Zach, bahkan sampai Zach dapat menulis lagu yang kemudian dipilih oleh Dewey untuk dimainkan di acara festival band. Sebagai bentuk terima kasih, dalam satu adegan, Zach memuji kepiawaian Dewey dalam melatih musik di depan guru-guru lain saat Dewey berkumpul dengan rekan-rekan guru di kantin.

Ada juga pemain keyboard yang digambarkan sebagai siswa “kutu buku” dan kurang percaya diri tampil di depan umum. Namun, ia termotivasi oleh Dewey dan ia katakan itu di depan Dewey. Kemudian, ada pula seorang anak yang awalnya dipilih sebagai tim pendukung yang mengurus merchandise. Anak itu menolak. Keesokan harinya, karena sebagai ketua kelas, ia tidak pantas menempati posisi tersebut. Dewey kemudian meminta anak itu sebagai manajer band dan memberikan kepercayaan penuh kepada anak tersebut untuk mengurus hal-hal di luar musik.

Takkalah menariknya adalah saat Dewey memotivasi salah seorang penyanyi latarnya yang menjelang audisi mendadak tidak percaya diri karena masalah berat badan. Dewey memberi contoh beberapa penyanyi dan juga dirinya yang memiliki berat badan lebih, tetapi punya kepercayaan diri. 

Student Centered ala Dewey

Pemikiran saya sebagai guru sama dengan filosofi Dewey dalam mengajar. Pola mengajar bukan teacher centered, melainkan student centered.  Siswa diperlakukan sebagai subjek belajar.  Guru bertindak sebagai fasilitator dan bukan satu-satunya sumber informasi. Dalam pola ini, guru bukan sebagai penceramah yang membuat siswa hanya sebagai pendengar pasif.

Salah satu kompetensi dasar (KD) di kelas XI SMA adalah pokok bahasan tentang drama. Saya membuat lomba pementasan drama antarkelas. Jumlah kelas tiap angkatan antara 3–4 kelas dengan jumlah siswa per kelas antara 15–20 orang.  Saya minta mereka membentuk tim yang terdiri atas sutradara, asisten sutradara, penulis naskah, properti, penata panggung, serta make up dan kostum. Naskah yang dipentaskan adalah cerita rakyat yang dikemas dengan kekinian. Para kru juga bertindak sebagai pemain, kecuali sutradara, asisten sutradara, koordinator properti, dan penata panggung.

Pengalaman sebagai anggota teater di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan terlibat di beberapa pementasan saat remaja menjadi modal saya dalam membimbing para siswa. Jarak waktu sejak pembentukan tim sampai hari H pementasan saya atur selama sebulan. Dalam proyek ini, saya membimbing semua divisi dari ide cerita, penulisan naskah, sampai pada hari-hari latihan. Namun, saya membatasi diri untuk tidak mengeluarkan semua pemikiran saya.  Saya beri ruang kepada anak-anak untuk mengeluarkan pemikiran dan potensi yang mereka miliki.

Saat hari H, sebelum pementasan, ada acara-acara pembuka, seperti musikalisasi puisi, modern dance, dan pantomim. Acara yang saya beri nama “Bahana Sastra” ini kemudian dijadikan sebagai acara rutin tahunan di sekolah saya sekarang ini. Karena pandemi, praktis sejak tahun lalu acara ini belum terselengara lagi.

Kembali ke film School of Rock (2003), kedok Dewey yang menyamar sebagai Ned Schneebly terbongkar.  Namun, karena hubungan emosionalnya dengan para siswa, mereka tetap mengikuti festival band secara diam-diam. Kepala sekolah dan para orang tua mengetahui aksi tersebut dan mereka ikut menyaksikan penampilan anak-anak mereka. Karena penampilan yang bagus, Dewey akhirnya dipercaya sebagai guru ekstrakurikuler musik bersama Ned Schneebly.

Dari film ini, Dewey Finn tidak hanya memiliki keahlian sebagai seorang musisi, tetapi juga sebagai seorang guru yang menguasai teori dan praktik. Ia juga dapat berperan sebagai motivator dan pembangkit potensi siswa dengan gaya khas yang dimilikinya. Potret guru yang ditampilkan oleh Dewey sangat berperan dalam pembentukan karakter siswa.

Baca juga: Rise of Empires: Ottoman (2020): Ambisi Kuasa dan Akhir dari Era Kota Benteng

Penulis: Nalendra Satyatama
Penyunting: Anggino Tambunan

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *