Sinopsis & Review Film The One and Only Ivan (2020)

Pertunjukkan sirkus digemari orang karena menampilkan atraksi dari manusia dan hewan. Pertunjukkan itu kerap menampilkan sesuatu yang nggak biasa. Ada orang yang bisa melompat dari satu tali ke tali lain di ketinggian, ada hewan yang bisa mengikuti perintah dan banyak atraksi lainnya. Nggak mengherankan dari jaman dahulu, sirkus selalu menarik perhatian orang-orang.

Di balik gemerlap pertunjukkan spektakuler yang ditampilkan, ada kenyataan yang pahit. Sirkus yang melibatkan hewan mengharuskan para hewan dikurung dan dilatih supaya bisa memberi pertunjukkan yang bagus. Bagaimana kalau hewan itu bisa berbicara dan mengungkapkan keinginannya? Film The One and Only Ivan mencoba mengungkap sisi itu.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2020
  • Genre: Fantasy, Drama
  • Produksi: Walt Disney Pictures, Jolie Pas Productions
  • Sutradara: Thea Sharrock
  • Pemain: Bryan Cranston
  • Pengisi Suara: Sam Rockwell, Angelina Jolie, Danny DeVito, Helen Mirren

Pada tahun 1973, seekor gorilla bernama Ivan menjadi salah satu hewan yang ditampilkan dalam pertunjukkan sirkus pimpinan Mack. Pertunjukan sirkus itu dilangsungkan di sebuah tempat bernama Big Top Mall. Selain Ivan, ada hewan-hewan lain juga yang tampil.

Ada seekor gajah bernama Stella, anjing pudel bernama Snickers, ayam bernama Henrietta, seekor kelinci bernama Murphy, burung bayan bernama Thelma dan singa laut bernama Frankie.

Ivan dan hewan-hewan lainnya dikurung secara terpisah. Satu-satunya hewan yang dekat dengannya adalah seekor anjing bernama Bob yang seringkali diam-diam masuk ke dalam mall dan mengobrol dengan Ivan. Hanya saja, kalau ketahuan penjaga mall, Castello, Bob akan diusir. Tapi Ivan terbiasa hidup sendiri di kandangnya karena sejak kecil dia sudah hidup seperti itu.

Petugas kebersihan mall, George, membawa anaknya, Julia, ke mall dan melihat-lihat hewan untuk pertunjukan sirkus. Julia sering berinteraksi dengan Ivan. Suatu hari, Julia membawa krayon miliknya dan menggambar di depan Ivan. Ivan tertarik dengan kegiatan Julia dan mencoba menggunakan krayon untuk menggambar. Gambar buatan Ivan nggak bisa dimengerti oleh orang lain tapi Julia bisa memahaminya.

Big Top Mall mulai sepi pengunjung. Mack nggak kehilangan akal, dia membeli seekor gajah kecil baru bernama Ruby. Ruby langsung ditampilkan dalam pertunjukan sirkus dan menarik minat banyak penonton. Hal itu membuat posisi Stella yang juga seekor gajah digantikan oleh Ruby. Kondisi kesehatan Stella menurun, maka Ruby menjadi satu-satunya gajah andalan untuk tampil.

Ivan memberi semangat pada Ruby agar bisa tampil sendirian. Tubuh Ivan semakin besar dan naluri hewannya pun ikut membesar. Mack mencoba memahami perubahan yang terjadi pada Ivan, tapi Helen, mantan istri Mack, menyarankan agar Ivan nggak lagi dirawat karena sudah nggak bisa bekerja dengan baik.

Banyaknya pengunjung sirkus membuat Mack melakukan langkah besar, dia membeli Big Top Mall untuk dijadikan arena sirkus. Sebelum mati, Stella meminta Ivan agar menjaga Ruby baik-baik. Selain itu, Stella juga meminta agar Ruby bisa bebas dari kurungan sirkus suatu hari nanti dan hidup di alam bebas.

Mack mulai melatih Ruby agar bisa menjadi penampil tunggal di sirkusnya. Ivan nggak merasa senang karena melihat Ruby tertekan. Dia pun mencari cara agar Ruby bisa bebas. Nggak sanggup menggunakan cara yang ekstrim, Ivan menggunakan cara lain yaitu menggambar. Ivan menggambarkan mimpinya bahwa suatu saat hewan-hewan akan hidup di alam bebas.

Mack menemukan bahwa Ivan punya kemampuan spesial dalam menggambar. Dia meniatkan kemampuan Ivan itu untuk menjadi tontonan baru dalam pertunjukan sirkusnya. Kabar gorilla bisa menggambar langsung menyebar cepat. Tapi Ivan memilih untuk mempersulit niat Mack dengan nggak bertindak kooperatif.

Pada malam hari, Ivan beserta hewan lain berhasil mengalihkan pengawasan Castello dan melarikan diri. Mereka keluar dari bangunan dan sampai di jalan tol. Mereka kemudian mencari hutan tapi kesulitan karena di sekitar mereka adalah daratan yang sudah berubah menjadi kota-kota lain. Apakah Ivan dan hewan lainnya akan bebas? Atau tetap terpenjara menjadi komoditas sirkus?

Adaptasi dari Buku

Adaptasi dari Buku

The One and Only Ivan merupakan adaptasi dari buku yang berjudul sama persis karangan K.A. Applegate. Bukunya sendiri mendapat penghargaan Newbery Medal di tahun 2013, sebuah penghargaan untuk literasi yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Dengan menambah sedikit bumbu, cerita di buku berhasil ditransformasikan menjadi film.

Baca juga:

Buku The One and Only Ivan terinspirasi dari kisah nyata. Ivan berasal dari Kongo dan ditangkap pada tahun 1962. Dia kemudian dijual pada orang Amerika, Ruben dan Lois Johnston. Ruben dan Lois kemudian merawat Ivan dan menjadikannya salah satu komoditas sirkus. Kisah tentang Ivan ini menarik perhatian masyarakat dengan banyak berita yang mengangkat sosoknya.

Penggabungan Live Action dan CGI

Penggabungan Live Action dan CGI

The One and Only Ivan menggabungkan live action dan penggunaan CGI. Mack, Castello, George dan Julia bermain live action sebagaimana karakter mereka adalah manusia. Sedangkan Ivan dan hewan-hewan lainnya menggunakan CGI yang menjadi keharusan karena ada banyak dialog serta ekspresi yang perlu ditampilkan.

Kualitas CGI yang ditampilkan di film ini berhasil membuat cerita menjadi believable. Interaksi antar hewan maupun hewan dan manusia terasa nyata. Tapi yang perlu disoroti secara lebih adalah bagaimana penggunaan CGI untuk menggambarkan berbagai ekspresi Ivan. Ivan bisa bercanda, mengobrol, sedih dan menahan marah lewat ekspresi menggunakan CGI yang apik.

Menampilkan Karakter yang Kompleks

Menampilkan Karakter yang Kompleks

Ivan dan Mack menjadi dua karakter utama di film The One and Only Ivan. Diproyeksikan untuk menjadi hiburan bagi segala usia, termasuk anak-anak, film ini justru menampilkan karakter yang cukup kompleks. Ivan yang digambarkan hidupnya tragis karena dikurung dan harus tampil dalam sirkus, perlahan-lahan menjadikan gambar sebagai sarana untuk menyampaikan impiannya.

Ivan bermimpi bahwa suatu hari, hewan-hewan yang terpenjara seperti dia dan teman-temannya bisa hidup bebas di alam liar. Mereka ingin hidup di tempat seharusnya mereka hidup. Sebagaimana cerita di dalam buku, Ivan nggak melakukan perlawanan yang konfrontatif. Dia memilih jalan yang halus untuk bisa terbebas.

Sedangkan Mack nggak kalah kompleksnya. Di beberapa adegan, kita akan diperlihatkan sosok Mack yang mengincar keuntungan dengan menampilkan atraksi dari hewan yang sebenarnya tersiksa dijadikan atraksi sirkus. Tapi di adegan lain, dia ditampilkan lebih humanis dengan mau merawat Ivan seperti merawat anaknya sendiri.

Kompleksitas karakter Ivan dan Mack berimbas pada pesan yang coba disampaikan dalam film. Sejatinya, film ini ingin mengangkat pesan tentang hak-hak atas hewan. Tapi di sisi lain karakter Mack yang menyayangi Ivan membuat pesan tersebut menjadi kabur. Hal itu juga yang menjadi sasaran para kritikus film pada film ini.

Walau begitu, kita masih bisa memaknai cerita di film ini dengan sudut pandang positif yaitu di balik kebutuhan akan uang dari sirkus, ada hak-hak hewan yang seharusnya hidup di alam liar harus lebih dikedepankan. Sebuah pesan yang rasanya semakin hari semakin terasa relevan bagi banyak orang.

The One and Only Ivan mencoba menyentuh sisi emosional penonton lewat hewan. Bukan formula baru karena film-film Hollywood lainnya pun pernah mengangkat tema serupa. Hanya saja karena berdasarkan kisah nyata, sentuhan cerita yang ada terasa jauh lebih mendalam dan berhasil disampaikan dengan baik. Apa kamu sepakat? Ayo bagikan pendapatmu di kolom komentar, teman-teman!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *