Keluarga Atta Halilintar Bikin Muak Warga Malaysia, Cerpen AS Laksana, dan Logan Paul: Para Hamba Gimmick

MOJOK.COKata gimmick memang udah melekat sama keluarga Atta Halilintar dan Logan Paul. Aneh aja kalau nama AS Laksana ketempelan juga.

Bisa jadi kata “hamba” di bagian judul agak terlalu keras untuk menggambarkan betapa kreator konten memeras otak mereka. Yah, mohon maaf kalau pilihan kata saya terdengar seperti itu. Maafkan, ya, namanya saja gimmick, biar tulisan ini sampai ke depan matamu itu.

Saya rasa, istilah yang lebih kita kenal adalah “hamba konten”. Demi sebuah konten pendulang penonton, seorang kreator konten rela berbuat apa saja. Namun, kalau dipikirkan lagi, esensi dari konten ada dua, yaitu perencanaan dan eksekusi. Kalau diperas lagi, konten itu diekseksi dengan sebuah gimmick.

Berdasarkan kamus Bahasa Inggris, kata gimmick punya arti ‘a trick or device intened to attract attention, publicity, or business’. Ndak bisa basa enggres? Mamam!

Sebuah trik atau alat yang bertujuan untuk menarik atensi, untuk tujuan publisitas, atau kepentingan bisnis. Atta Halilintar dan keluarga besarnya paling jago bikin gimmick. Selain keluarga Atta Halilintar, kata gimmcik lagi nempel banget sama peristiwa tayangnya cerpen yang bukan cerpennya AS Laksana di Jawa Pos dan pertandingan eksebisi Logan Paul vs Floyd Mayweather.

Menghabiskan waktu hampir setengah hari memantau timeline media sosial, banyak kata gimmick bertebaran mengekor kata kunci Atta Halilintar, AS Laksana, dan Logan Paul. Bukan hal aneh kalau kata tersebut nempel ke kata kunci keluarga Atta Halilintar dan Logan Paul. Nah, baru agak aneh kalau nempel ke AS Laksana.

Baca juga:  Potensi Duit dari Youtube yang Nggak Diambil Soleh Solihun

Saya tidak terlalu mengikuti ontran-ontran AS Laksana, Jawa Pos, dan sastrawan lainnya yang terasa sengit betul. Namun, satu kalimat yang masuk akal terlontar dari Agus Mulyadi, redaktur Mojok.

Agus bilang gini: “Kalau memang pengin mengubah status quo, kenapa AS Laksana nggak ngirim cerpen yang jelek aja, ya? Lha itu yang tayang di Jawa Pos bagus banget.”

Dia melanjutkan: “Kalau yang tayang yang jelek, berarti memang media itu cuma mempertimbangkan nama besar. Bukan kualitas kiriman.” Saya manggut-manggut. Bener juga kata Agus. Kebetulan, pemikiran Agus itu sama dengan pemikiran banyak netizen. Bahkan ada yang membubuhkan kata gimmick di sana. AS Laksana masih butuh gimmick biar dapat atensi? Ah, kamu bercanda. Beliau itu sastrawan kondyang. Nggak butuh gimmick.

Makanya, sangat aneh kalau kata gimmick menempel ke nama AS Laksana. Kalau nempelnya ke keluarga Atta Halilintar dan Logan Paul, sih, baru biasa aja. Terakhir, keluarga Atta Halilintar dikabarkan bikin warga Malaysia sampai muak.

Pasalnya, keluarga Atta Halilintar sering melanggar protokol kesehatan ketika lockdown tengah diterapkan Malaysia. Keluarga besar itu masuk mall ramai-ramai, tidak menjaga jarak, bawa kamera buat ngonten tapi nggak izin dulu, minta disponsorin brand premium dengan pakai nama Atta Halilintar, dan lain sebagainya.

Apakah keluarga Atta Halilintar bakal dibenci? Ya jelas. Apakah mereka peduli? Kayaknya enggak. Apakah mereka bakal kehilangan penonton dan penggemar? Kayaknya malah nambah. Kenapa? Ya kerena “pasar kita” berisi pemangsa dan penikmat gimmick seperti itu.

Baca juga:  Renungan tentang Klakson dan Tiga Macam Klakson di Mobil Saya

Logan Paul pernah bikin konten di hutan Aokigahara, Jepang. Dia menunjukkan kejadian (TW) bunuh diri padahal sudah ada larangan. Apakah dia dibenci? Enggak, tuh. Yah, dikit, lah sama penonton waras. Namun, yang terjadi adalah dia makin banyak dapat penonton kayak penonton Atta Halilintar.

Ah, saya malas melanjutkan tulisan ini. Saya rasa kamu sudah tahu kenyataan ini. Kita sama-sama membenci dan terus berusaha mengingatkan para kreator konten untuk nggak bikin gimmick murahan dan jauh dari hati nurani. Namun, di sisi lain, kita menikmatinya juga… meski sambil ngomel-ngomel.

Satu hal yang saya rasakan dari fenomena “hamba gimmick” adalah, ini kalau saya pribadi ya, kepercayaan kepada tokoh semakin berkurang. Ya gimana ya, nggak genuine lagi. Ibarat bensin, nggak Pertamax Turbo, tapi oplosan sama air comberan. Mesin digas, mesin protol.

Itu kalau saya, nggak tahu kalau Mas Anang, bapak mertuanya Atta Halilintar.  Eh, jokes lama masih bisa dipakai juga. Herman saya.

BACA JUGA Menghitung Penghasilan Atta Halilintar dari Monetisasi Youtube dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *