PSI Desak Usut Tuntas Kekerasan Seksual di SMA SPI Kota Batu

Malang: Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendesak pengusutan tuntas kasus kekerasan seksual, kekerasan verbal, dan fisik terhadap puluhan siswa di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Jawa Timur. PSI mendukung penuh kepolisian untuk mengusut kasus tersebut.
 
“Kami berharap kepolisian bekerja dengan cepat, tegas dan tidak tebang pilih. Siapa pun yang terlibat di dalamnya, harus diusut tuntas. Kasus ini sangat memalukan, mencoreng nama baik dunia pendidikan Indonesia. Ironisnya, kasus tersebut melibatkan pemilik sekolah,” kata Jubir DPP PSI, Imelda Berwanty Purba dalam keterangan tertulis, Minggu, 6 Juni 2021. 
 
Kasus ini terungkap dan menyita perhatian publik berkat laporan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) ke Polda Jawa Timur. Sekolah berkonsep asrama (boarding school) tersebut selama ini menjadi salah satu sekolah favorit lantaran terakreditasi A dan menorehkan sejumlah prestasi di level nasional maupun internasional. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

Tak hanya itu, SMA ini juga tidak memungut biaya apa pun karena peserta didiknya merupakan anak yatim piatu dan berasal dari keluarga tidak mampu.
 
Lebih jauh, Imelda mengatakan, kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi bersama, terutama Dinas Pendidikan untuk memperbaiki pola pengawasan sekolah dan institusi pendidikan lainnya. 
 
“Sembari mengawal kepolisian bekerja, kita harus evaluasi bersama sistem pendidikan kita. Untuk Dinas Pendidikan setempat, mereka harus bertanggung jawab. Bagian dari tanggung jawab itu adalah memperbaiki pengawasan terhadap sekolah umum maupun yang berkonsep asrama di kemudian hari,” imbuhnya. 
 
Baca: Disdik Jatim Pastikan Siswa Sekolah SPI Batu Tak Mengalami Trauma
 
Selain itu, Imelda juga menyesalkan banyak kasus pelecehan seksual dan kekerasan fisik terjadi di lingkungan sekolah. Sekolah, seharusnya jadi tempat aman dari segala bentuk pelecehan seksual dan kekerasan fisik atau verbal.  
 
“Jelas ini menunjukkan anomali dunia pendidikan kita. Sekolah seharusnya menjadi tempat aman dari praktik pelecehan seksual dan kekerasan fisik atau verbal bagi peserta didik, agar mereka fokus dan nyaman menuntut ilmu. Tapi kejadian di SMA SPI justru menghadirkan beban traumatis pada peserta didik. Itu yang sangat kami sesalkan,” tandasnya.  
 
Terakhir, harus dipikirkan pendampingan agar para korban tidak mengalami trauma atau gangguan psikologis lain.
 
“Sebagian besar korban masih dalam proses menuju kedewasaan. Kasus ini harus dipastikan tidak mengganggu proses tersebut. Mesti ada psikolog yang mendampingi mereka,“ pungkas Imelda.
 
(ALB)
Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *