Sinopsis & Review Terminator: Dark Fate, Manusia Melawan Mesin

Di dunia film, judul Terminator sudah melanglangbuana dan dikenal oleh banyak orang. Muncul perdana di tahun 1984, film ini seperti nggak ada habisnya untuk kembali diangkat dengan cara-cara yang berbeda. Hampir menginjak 20 tahun sejak film pertama dirilis, sudah ada empat judul lain yang berfondasi pada cerita yang sama yaitu manusia melawan mesin.

Di tahun 2019 lalu, instalasi teranyar Terminator dirilis. Walau nggak cukup lama setelah instalasi sebelumnya dirilis, tapi Terminator yang dijuduli Dark Fate ini dianggap menjadi sebuah karya yang berbeda. Respons kritikus film pun beragam dalam mengulas film karya sutradara Tim Miller ini. Mau tahu sinopsis dan reviewnya? Kamu bisa menyimaknya di sini.

Sinopsis

  • Tahun Rilis: 2019
  • Genre: Science Fiction, Action
  • Produksi: Paramount Pictures, Skydance Media, 20th Century Fox, Tencent Pictures
  • Sutradara: Tim Miller
  • Pemain: Linda Hamilton, Arnold Schwarzenegger, Mackenzie Davis, Natalia Reyes, Gabriel Luna

Pada tahun 1998, Sarah Connor bersama sang anak, John, bisa menikmati kehidupan mereka setelah menghancurkan Cyberdyne System Corporation. Kebahagiaan mereka nggak bertahan lama karena Skynet mengirim mesin berupa robot dari masa depan dengan tujuan membunuh John. Di masa depan, John akan menjadi pemimpin gerakan manusia melawan mesin. Untuk mencegahnya, John dieksekusi oleh T-800 Terminator.

Di masa kini, tepatnya tahun 2020, Dani Ramos, wanita yang bekerja di pabrik dikejutkan oleh kedatangan sosok sang ayah tapi berbeda karakter. Ternyata di balik wujud sang ayah itu adalah Terminator bernama Rev-9. Rev-9 dikirim dari masa depan untuk membunuh Dani. Rev-9 bisa membagi tubuhnya menjadi dua entitas dan mengejar Dani serta adiknya, Diego.

Upaya Rev-9 dalam membunuh Dani mendapat hambatan dengan kedatangan Grace yang datang dari tahun 2042. Grace nggak bisa balik membunuh Rev-9 tapi berhasil menghambatnya. Rev-9 berhasil membunuh Diego dan menyudutkan Dani serta Grace. Nyawa mereka berdua diselamatkan oleh Sarah yang menggunakan peledak untuk merusak dua entitas dari Rev-9.

Dani, Grace dan Sarah bersembunyi. Sarah menyatakan bahwa dia menemukan keberadaan Dani karena mendapat pesan yang terenkripsi dari masa depan. Pesan itu selalu diakhiri dengan kalimat untuk John, sebuah penanda agar perjuangan anaknya yang tewas di masa depan nggak sia-sia. Grace menyatakan bahwa di masa depan, John dan Skynet sudah nggak ada.

Hal itu ternyata disebabkan oleh Sarah yang berhasil menghancurkan Skynet sehingga masa depan berubah. Di waktu yang sama, ada Artificial Intelligent (AI) lain bernama Legion. Legion dibentuk untuk sebuah program bernama Cyberwarfare, serangan digital pada keamanan sebuah negara yang bisa berdampak besar.

Keberadaan Legion sulit untuk dihentikan dan menjadi ancaman bagi umat manusia. Pasalnya, Legion dengan programnya dapat mengaktifkan nuklir yang bisa membinasakan manusia dalam waktu singkat. Di masa depan, yang tersisa hanya segelintir manusia. Manusia kemudian membentuk gerakan untuk melawan Legion.

Grace melacak pesan yang diterima Sarah. Pesan itu datang dari seseorang bernama Carl. Grace, Sarah dan Dani berhasil menemui Carl yang ternyata adalah T-800, pembunuh John. Carl merupakan mesin yang berhasil menuntaskan misi Skynet dan nggak punya tujuan lain. Dari situ, dia mulai mempelajari tingkah manusia dan memilih untuk hidup sebagaimana manusia.

Pertemuan dengan Carl nggak serta-merta membuat Sarah bisa merelakan tindakan Carl pada John. Walau begitu, John meyakinkan Sarah, Grace dan Dani bahwa dia siap bekerja sama untuk menghentikan upaya Rev-9. Sarah yang awalnya enggan berbaikan dengan Carl, perlahan-lahan melunak dan setuju untuk bekerja sama dengan tujuan menyelamatkan umat manusia.

Grace, Sarah, Dani dan Carl bekerja sama mencari kelemahan Rev-9. Rev-9 mengejar mereka yang melarikan diri menggunakan pesawat. Grace menyatakan bahwa motif Rev-9 memburu Dani adalah di masa depan Dani akan memimpin manusia melawan mesin. Bisakah Dani diselamatkan dan masa depan nggak berubah lagi?

Kembalinya Sentuhan James Cameron

James Cameron merupakan kunci di balik populernya sosok Arnold Schwarzenegger yang menjadi mesin pembunuh di Terminator yang dirilis pada tahun 1984. Cameron melanjutkan kinerjanya dengan berperan dalam menulis naskah di dua instalasi Terminator berikutnya. Setelah itu, kualitas Terminator dianggap menurun karena hilangnya jasa Cameron.

Di Terminator: Dark Fate, Cameron kembali turun tangan menulis naskah dan menjadi produser untuk disutradari oleh Tim Miller. Hasilnya, Terminator edisi terbaru ini dianggap berhasil mengembalikan kualitas dua instalasi Terminator pertama. Bahkan film ini menjadi lanjutan dari T2 dan nggak terhubung dengan tiga instalasi Terminator setelah T2 yaitu Rise of the Machines, Salvation dan Genisys.

Eksekusi Menarik dari Premis Sederhana

Terminator: Dark Fate mengusung premis sederhana yaitu upaya menyelamatkan Dani dari Rev-9. Sebagai manusia biasa yang belum mendapat personifikasi dirinya di masa depan, dia dibantu oleh Grace yang datang dari masa depan. Bantuan lain datang dari dua karakter paling ikonik di Terminator yaitu Sarah dan T-800 yang kini bernama Carl.

Baca juga:

Dari segi premis, kalau dibandingkan dengan instalasi Terminator lain, jelas nggak ada sesuatu yang baru. Cerita yang diusung tetaplah sama yaitu kemunculan mesin dari masa depan agar merusak masa kini sehingga berpengaruh pada takdir di masa yang akan datang. Tapi, Terminator: Dark Fate berhasil mengemasnya menjadi tontonan menarik.

Nostalgia pada Terminator pertama dibangkitkan oleh kehadiran Sarah Connor yang dibintangi Linda Hamilton. Tentu saja sosok Arnold yang merupakan ikon dari film ini masih dipertahankan. Kemunculan keduanya bisa membawa memori di film terdahulu dan terhubung secara langsung dengan cerita di Dark Fate.

Untuk urusan laga, Dark Fate menyuguhkan keseruan dengan banyaknya suara hantaman besi sebagaimana yang dilawan adalah mesin. Kejar-kejaran, pertarungan dari jarak dekat, serta tempat-tempat yang sebelumnya nggak ditampilkan menjadi sajian baru yang menyegarkan. Dengan eksekusi yang tepat cerita yang tertebak pun bisa tetap membuat kita terpaku duduk menonton.

Tiga Karakter Utama Wanita

Terminator dianggap sebagai tontonan untuk para lelaki dengan dipenuhi adegan-adegan laga yang keras. Asumsi itu coba dipatahkan dalam Terminator: Dark Fate yang tiga karakter utamanya merupakan wanita yaitu Dani, Grace dan Sarah. Hasilnya, mereka bisa menyajikan tontonan yang sama serunya.

Sarah walau karakternya secara usia sudah nggak muda, tetap bisa tampil keren. Begitu juga dengan Grace yang rela menolong Dani. Di masa depan Dani menolongnya ketika nggak ada orang yang rela melakukannya. Sementara karakter Dani yang kelak akan menjadi pemimpin manusia, digambarkan masih belum terbentuk secara sempurna.

Kombinasi ketiganya ini berhasil saling melengkapi dan membuat jalan cerita menjadi dinamis. Keterlibatan Sarah dan Carl bisa dibilang merupakan keputusan tepat. Mereka adalah karakter ikonik di Terminator pertama. Memunculkan mereka seperti memberi pesan bahwa Dark Fate bukanlah film yang terpisah dari pendahulunya.

Terminator: Dark Fate secara cerita nggak memberikan sesuatu yang baru. Tapi secara kualitas jauh lebih bagus dari tiga film sebelumnya. Bagi yang belum menonton sekuel secara keseluruhan, Dark Fate masih bisa diikuti karena menampilkan cerita dari pendahulunya dengan cukup jelas. Kalau mau membagikan ulasanmu, silakan tulis di kolom komentar ya, teman-teman!

Terminator: Dark Fate

6 / 10
Bacaterus.com

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *