Mempertanyakan Anies Baswedan dan Pemprov DKI soal ‘Road Bike’ yang Boleh Keluar Jalur

MOJOK.COAnies Baswedan bikin jalur khusus sepeda, Pemprov DKI malah bolehkan pesepeda road bike keluar jalur di waktu-waktu tertentu. Lah?

Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memberi dispensasi bagi pesepeda road bike untuk keluar jalur sepeda memicu kontroversi. Meski dispensasi ini hanya untuk waktu-waktu tertentu (dari jam 05.00 – 06.30 WIB), tapi tetap saja banyak pihak yang menilai kebijakan ini berat sebelah.

“Selama ini mayoritas (orang) memandang sepeda sebagai alat olahraga, sport, harus diubah menjadi transport. Ini sedang kami kerjakan, dengan adanya infrastruktur sepeda itu, harapannya pengemudi sepeda merasa lebih nyaman kalau ada di jalan menggunakan sepeda-sepeda transport,” kata Anies Baswedan, November lalu.

Anies Baswedan sebenarnya sudah tepat ketika berencana menciptakan infrastruktur untuk pesepeda road bike. Dengan begitu, pesepeda road bike bisa berkendara dengan nyaman, sedangkan pengguna kendaraan bermotor konvensial bisa aman ketika melintas.

Bahkan, Anies akan menambah fasilitas bagi para pesepeda road bike baru-baru ini.

“Adapun jalur sepeda saat ini adalah 63 kilometer, lalu tambahan tahun ini (akan) ada 101 kilometer,” kata Anies (03/06).

“Jadi kami tambahkan, jalur sepeda yang dibangun di Jakarta tujuannya menfasilitasi warga untuk bisa menggunakan kendaraan sepeda secara aman,” tambahnya.

Tidak ada yang salah dengan hal itu, hanya saja ketika Pemprov DKI juga mengizinkan pesepeda boleh keluar jalur khusus untuk waktu-waktu tertentu, ya tentu saja muncul pertanyaan: Lantas buat apa dong dibangun infrastruktur jalur khusus sepeda segala, Maliiih?

Baca juga:  Komentar Nylekit Kader PKS Salman Alfarisi dan Tifatul Sembiring kepada Yahya Staquf

Udah ngabisin anggaran buat bangun road bike, tapi boleh keluar jalur juga akhirnya.

Lebih ngenesnya lagi, kebijakan Pemprov DKI Jakarta ini sebenarnya tidak ada dasar hukumnya. Kebijakan ini muncul karena menurut Wakil Gubernur DKI-nya sendiri, Ahmad Riza Patria, kegiatan bersepeda ini ada nilai positifnya.

“Seperti yang kami sampaikan, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada komunitas yang melaksanakan kegiatan positif,” kata Riza.

“Namun diatur dan dibatasi jamnya, jam 05.00-06.30 WIB dimungkinkan di hari Senin-Jumat,” tambahnya.

Pertanyaannya adalah kegiatan ini positif buat siapa? Buat orang-orang yang bersepeda karena emang tidak mampu beli kendaraan bermotor, atau untuk orang-orang kaya yang bersepeda demi gaya hidup?

Meski begitu, rasa-rasanya publik Jakarta tidak perlu mengkritik Anies Baswedan begitu keras. Cukup kiranya memakai kata-kata blio sendiri waktu kampanye dulu. Itu lho saat Anies Baswedan bilang dengan lantang, “Ini soal keberpihakan.”

Oh.

BACA JUGA Pengendara Honda Beat vs Rombongan Gowes: Doxing dan Perang Analogi Si Miskin vs Si Kaya dan tulisan KILAS lainnya.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *