Tiang Listrik Dicabut, Rakyat Flores Kecewa

TIDAK ada obat sehebat harapan, kata Orison Swett Marden, penulis inspiratif kelahiran New England berkebangsaan Amerika. Harapan itu sesungguhnya menjadi pertahanan dari dalam diri yang paling efektif dalam menghadapi pandemi covid-19.
 
Eloknya, harapan ditambah cinta kasih ditularkan kepada sesama manusia. Harapan, menurut tokoh antiapartheid Afrika Selatan, Uskup Agung Desmond Tutu, ialah kemampuan untuk melihat bahwa ada cahaya meskipun semua dalam kegelapan.
 
Cahaya yang membawa terang itulah yang menjadi harapan sejak lama masyarakat di pelosok negeri ini. Termasuk masyarakat di Kelurahan Golo Wangkung, Kecamatan Congkar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 
Mereka hidup dalam kegelapan sejak negara ini ada. Padahal, sama seperti warga negara lainnya, mereka selalu loyal untuk memenuhi kewajiban kepada negara. Satu harapan mereka ialah listrik.
Warga sangat merindukan kehadiran listrik. Saking rindunya, setiap kesempatan mereka melafalkan moto Perusahaan Listrik Negara (PLN), yaitu listrik untuk kehidupan yang lebih baik.
 
Warga di Kecamatan Congkar, juga daerah lainnya, berharap kehidupan mereka yang lebih baik dengan kehadiran listrik. Bagi warga, listrik itu bentuk nyata kehadiran negara dalam kehidupan keseharian mereka. Mereka tidak berharap muluk-muluk.
 
Harapan akan kehadiran listrik sudah bersemi sejak 2020. Masyarakat antusias melihat ada pemasangan tiang listrik. Bentuk antusiasme itu, antara lain, warga merelakan tanaman kopi milik mereka ditebang PLN demi tiang listrik.
 
Bayangkan saja, baru tiang yang dipasang, warga sudah menganggap PLN sebagai juru selamat. Mereka menggantungkan harapan akan listrik setinggi langit, nama PLN pun dipuja-puja.
 
Bukan selamat yang dihadirkan PLN di Congkar, melainkan kiamat. Sejak Maret lalu, PLN mencabut kembali puluhan tiang listrik yang sudah kukuh berdiri.
 
Seperti dikutip berita online Voxntt.com, Manajer PLN UP2K Flores Simi Lapabesi mengatakan PLN tidak dengan sengaja mencabut tiang yang sudah dipasang itu. Menurut dia, pencabutan tiang di wilayah Kelurahan Golo Wangkung disebabkan kesalahan teknis dan perencanaan.
 
Simi menjelaskan pencabutan tiang listrik memang harus dilakukan sebab penanaman sudah salah. “Saya perintahkan cabut ke arah sana itu. Kalau tidak, saya bisa bermasalah. Perencanaan belum sampai ke situ,” tandas Simi.
 
Pembangunan tiang listrik diikuti penarikan kabel tanpa arus sudah menjadi menu politik di Flores pada era Orde Baru. Ketika itu, setiap kali menjelang pemilu, dipasang tiang listrik dan kabel secara masif. Akan tetapi, setelah pemilu selesai, tiang listrik dicabut dan kabel digulung.
 
Apakah pemasangan tiang listrik diikuti pencabutan kali ini juga berkaitan dengan politik? “Saya bangun sudah 200 desa di Flores. Kita tidak berurusan dengan dapil-dapil (politik). Kita tidak terlalu campur. Semua butuh proses. Kita butuh perencanaan,” kilah Simi.
 
Kesalahan teknis dan perencanaan perlu digarisbawahi. PLN itu perusahaan besar yang visinya ialah ‘Menjadi Perusahaan Listrik Terkemuka Se-Asia Tenggara’ dan ‘#1 Pilihan Pelanggan untuk Solusi Energi’.
 
Menjadi perusahaan terkemuka, tentu saja, terkait dengan urusan teknis dan perencanaan sudah selesai. Karena itu, siapa pun yang salah dalam urusan teknis dan perencanaan itu sepatutnya diberi sanksi yang berat.
 
Meski demikian, yakinlah bahwa pencabutan tiang listrik itu bukan kebijakan PLN pusat. Malah, jika kasus pencabutan itu diketahui PLN pusat, pasti mereka sangat kecewa sama seperti rakyat yang kecewa.
 
Pencabutan tiang listrik itu merusak reputasi PLN yang tahun lalu meraup bersih 38,6% bila dibandingkan dengan perolehan laba tahun sebelumnya. Dengan demikian, manajemen PLN pusat sudah berjalan di rel yang benar meski diakui di daerah masih ugal-ugalan.
 
Pemberian sanksi yang berat bukan semata-mata karena alasan kesalahan teknis dan perencanaan. Jauh lebih berat lagi karena harapan rakyat akan listrik dibunuh dengan semana-mena.
 
Kekecewaan yang dialami warga Kecamatan Congkar jangan sampai meluluhkan imunitas tubuh yang pada gilirannya warga diserang virus korona yang tak kelihatan, tapi mencabut nyawa.
 
Selama ini, PLN pusat selalu membangkitkan harapan dan menebar cinta kasih di tengah pandemi. Karena itu, belumlah terlambat bagi PLN untuk melunasi utang harapan kepada rakyat Congkar. PLN mesti menjadikan Kecamatan Congkar sebagai prioritas pemasangan listrik saat ini juga, jangan ditunda-tunda.
 
*Gaudensius Suhardi, Dewan Redaksi Media Group

 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *