Kemiripan AC Milan, Inter, dan Juventus dengan Bu Kofifah, Gubernur Jatim

MOJOK.COTiga raksasa Serie A; AC Milan, Inter, dan Juventus, ternyata punya kemiripan dengan Bu Kofifah, Gubernur Jatim. Berikut analisisnya.

Sebelumnya saya belum pernah merasa sangat terwakili oleh sosok politikus. Namun, berkat Bu Kofifah, wakil rakyat yang kini menjabat Gubernur Jawa Timur, saya benar-benar merasa terwakili. Tidak hanya itu, saya juga merasa diberi contoh, semacam inspirasi. Suwun pol, Bu Kofifah.

Tahukah kamu, kalau beberapa waktu yang lalu, Bu Kofifah menggelar pesta ulang tahun? Duh, kok nggak ngundang saya, lho. Ketimbang mengundang Mas Katon. Kan mahal tuh honornya Mas Katon. Saya juga bisa menghibur di pesta ulang tahun, kok. Minimal baca puisi. Saya cukup dibayar lontong kupang atau seporsi bebek Tugu Pahlawan.

Oya, selamat ulang tahun, Bu. Semoga terhindar dari corona, sehat selalu, dan elektabilitasnya semakin meroket (saya yakin karier politik Ibu nggak bakal mentok di gubernur).

Nah, kalau saya renungkan, Bu Kofifah itu punya kemiripan dengan 3 klub Serie A yang saya cintai. Mereka adalah AC Milan, Inter, dan Juventus. Kenapa bisa begitu? Mari, saya jelaskan.

Bu Kofifah kayak AC Milan: Tegas, tapi asik

Bayangkan, di tengah pandemi, siapa yang tidak merasa jeri ketularan virus? Mau mudik aja pasti kalian pikir 7 kali. Tapi tidak dengan Bu Kofifah. Gak ngurus opo iku virus, pesta ulang tahun tetap jalan! Tegas!

Baca juga:  Cristiano Ronaldo Resmi Dipinang Si Nyonya Tua, Juventus

Sifat ini seperti AC Milan ketika menangani sikap Donnarumma dan Mino Raiola, agen super yang nggateli pol iku. AC Milan tidak mau dikontrol oleh sikap Donnarumma dan agennya. Kontrak baru sudah disodorkan. Terima atau tidak. Titik. Tidak ada negosiasi lagi.

Ketika Donnarumma dan Raiola terus mengulur waktu, AC Milan dengan tegas bertindak. Mereka langsung beli kiper baru, Mike Maignan. Nggak main-main, Maignan adalah kiper Lille, klub yang baru saja menjadi juara Ligue 1. Biaya transfernya cukup murah. Cuma 15 juta euro saja.

Di sini AC Milan dan Bu Kofifah punya kesamaan lain, yaitu tetap asik menyikapi situasi. Misalnya Bu Kofifah dengan enteng saja minta maaf. Sudah, masalah selesai. Sementara itu, AC Milan nggak mau terlalu pusing sama sikap Donnarumma dan Raiola. Sudah, beli saja kiper baru. Donnarumma silakan minggat secara gratis. Masalah selesai.

Kemiripan dengan Inter dan Juventus

Pagi ini, Rabu 25 Mei 2021, Inter dikabarkan akan berpisah dengan Antonio Conte. Sebuah kabar yang cukup mengagetkan. Konon, salah satu penyebab kabar ini adalah ketidakmampuan manajemen Inter untuk mendukung misi Conte menjadi juara Liga Champions musim depan.

Kesulitan ekonomi membuat Inter sulit menyuntik investasi demi pemain baru. Manajemen Inter tidak akan memaksa Conte untuk tinggal jika gairahnya itu tak terpuaskan. Namun, kabar ini kemungkinan sulit terjadi karena pesangon Conte cukup besar.

Baca juga:  Diogo Jota: Ujung Tombak dengan Corak Berbeda, Bukti Kejelian Liverpool Membeli Pemain

Sementara itu, Juventus, bersama Real Madrid dan Barcelona terancam didepak dari Liga Champions. Juventus, bersama dua raksasa Spanyol itu, dianggap sebagai otak di balik munculnya wacana Liga Super Eropa beberapa waktu yang lalu.

Sikap AC Milan, Inter, dan Juventus ini mirip dengan keberanian Bu Kofifah. Saya, sih, yakin Bu Kofifah pasti tahu kalau bikin kerumunan itu adalah kesalahan. Namun, yang namanya ulang tahun, kan, cuma sekali dalam satu tahun. Jadi ya, tabrak saja. Wani!

Keberanian itu didasarkan kepada kalimat sakti yang biasa dipakai oleh politikus ketika melanggar larangan di tengah pandemi. Bunyinya: “Asal patuh dan menjalankan protokol kesehatan.” Aman.

Bayangkan, Inter, yang baru saja menjadi juara Liga Italia, dengan berani tidak akan menahan Conte. Mungkin Inter sadar, cepat atau lambat, Conte akan hengkang juga. Kehilangan sosok yang bisa membangkitkan Inter musim pasti akan menyakitkan. Namun, asal sesuai dengan protokol kesehatan.

Sementara itu, sampai detik ini, Juventus masih bergeming. Mereka tidak pernah secara resmi menegaskan tidak lagi menjadi bagian dari Liga Super Eropa. Keberanian ini berpotensi membuat mereka terbuang dari Liga Champions. Sebuah liga di mana mereka kerap dianggap sebagai “badut”. Ini bukan saya, lho, yang bikin istilah.

Saya salut dengan keberanian AC Milan, Inter dan Juventus. Juga dengan keberanian Bu Kofifah. Mungkin Inter dan Juventus memang terinspirasi oleh Gubernur Jawa Timur itu. Atau, jangan-jangan, sebetulnya, Bu Kofifah ini sedang mengirim “pesan tersembunyi” bagi para pelaku seni dan olahraga.

Baca juga:  Luis Suarez Provokator! 5 Komentar Konyol Setelah Laga Barcelona vs Liverpool

Dengan menggelar pesta ulang tahun, dengan logika yang sama, berarti pelaku seni boleh bikin konser dengan ribuan penonton. Untuk dunia olahraga, sepak bola boleh dihadiri penonton sampai stadion penuh. Intinya adalah, ingat: mematuhi protokol kesehatan.

Nah, kamu pasti baru sadar, bukan? Ternyata Bu Kofifah sangat care dengan dunia konser dan sepak bola. Beliau memberi contoh dengan aksi.

Apakah ada politikus yang berani memberi contoh dengan aksi nyata? Sangat sedikit, meski akhirnya Bu Kofifah jadi sasaran kritik.

Tapi nggak masalah, kan, Bu? Yang penting mematuhi protokol kesehatan. Beres perkara. Wani!

BACA JUGA Lo Spirito Milan dan Omong Kosong Usia Senja Zlatan Ibrahimovic dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *