Jalan Pedih Tiongkok

TIONGKOK selalu memantik cemburu. Terutama, tentang pertumbuhan ekonomi mereka. Bahkan, di saat covid-19 bermula hingga menjadi pandemi global, Tiongkok tak kehilangan sinar cemerlang pertumbuhan mereka.
 
Betul bahwa saat virus korona mengguncang Wuhan pada Desember 2019, kemudian menjalar ke sekujur negeri, ekonomi Tiongkok terjun bebas. Di triwulan I 2020, saat awal-awal covid-19 melanda, pertumbuhan ekonomi terkontraksi hingga minus 6,8%. Padahal, sebelumnya pada triwulan IV 2019, ekonomi ‘Negeri Tirai Bambu’ itu tumbuh positif 6%. Para analis bahkan meramalkan Tiongkok akan tiarap dalam kurun lama.
 
Namun, prediksi itu meleset. Dalam waktu tak lebih dari enam bulan, kontraksi ekonomi bisa diatasi. Setelah tumbuh negatif di kuartal I 2020, pada kuartal II ekonomi Tiongkok langsung tumbuh positif 3,2%, lalu 4,9% di kuartal ketiga, dan 6,1% di kuartal terakhir 2020. Tiongkok pun menutup 2020 dengan pertumbuhan tahunan positif 2,3%.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 
Awal tahun ini, lagi-lagi ekonomi Tiongkok mulai bertaji. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 melompat sangat tinggi, mencapai 18,3%. Biro Statistik Nasional Tiongkok mencatat lesatan pertumbuhan tersebut menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang tajam setelah Tiongkok dihantam pandemi covid-19 sejak akhir 2019 lalu.
Penjualan ritel negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu tumbuh 34,2% di Maret 2021, melampaui ekspektasi pasar yang memproyeksikan pertumbuhan ritel 28%. Kinerja produksi industri juga tercatat tumbuh sebesar 14,1% kendati angka tersebut meleset dari proyeksi pasar yang diperkirakan tumbuh 17,2%.
 
Sebuah pesan yang jelas bahwa Tiongkok yang merupakan negara pertama berhadapan dengan wabah virus korona telah berhasil menangani wabah mematikan itu secara cepat. Bahkan, perekonomian negara tersebut sebagian besar telah pulih dari kelumpuhan akibat covid-19.
 
Indonesia perlu mencontek Tiongkok ihwal bagaimana bisa cepat mengendalikan covid-19. Tiongkok memilih jalan pedih dahulu menang kemudian. Jalan itu, misalnya, begitu diketahui sebuah wilayah mulai menyebar covid-19, langsung diterapkan lockdown total di wilayah itu. Semua disiplin dalam masa penguncian. Petugas dari berbagai jenjang juga sangat aktif melakukan tes, pelacakan, dan penanganan bagi mereka yang kena gejala korona.
 
Pemerintah juga melakukan gerak cepat tanpa debat, saat memutuskan untuk menutup jalur transportasi darat, laut, dan udara dari dan ke Kota Wuhan. Kunjungan kilat pejabat kesehatan Tiongkok Zhong Nanshan ke Wuhan saat melihat dan meneliti kasus setidaknya berkontribusi besar dalam pengambilan keputusan cepat pemerintah pusat untuk melakukan penguncian total Kota Wuhan tanpa ada perdebatan di ruang publik. Pendapatnya sebagai seorang ilmuwan dan ahli penyakit pernapasan sangat dihargai.
 
Suasana stasiun dan gerbong-gerbong kereta cepat yang biasanya hilir mudik mengangkut penumpang menjadi kosong melompong. Pusat perbelanjaan besar di Beijing dan tempat-tempat ibadah, termasuk masjid, ditutup menyusul pengumuman cepat pemerintah Beijing untuk menghindari kegiatan massal, menghindari penularan virus. Bahkan, informasi dan pengumuman (mencegah penularan virus) yang ditempel begitu cepat di gerbang-gerbang perumahan, pusat pertokoan, tempat keramaian, dan setiap pemegang telepon seluler dipatuhi warga tanpa debat.
 
Mekanisme ‘ganjaran dan hukuman’ juga ditegakkan dengan penuh kepastian dan keadilan. Keputusan cepat isolasi Kota Wuhan pun menjadi taruhannya. Pemerintah berani memilih jalur pedih dengan ‘mengorbankan’ ekonomi Kota Wuhan agar sebaran wabah covid-19 di Provinsi Hubei yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa dan memiliki produk domestik bruto (GDP) sekitar US$224,28 miliar itu tidak meluas. Aturan juga ditegakkan. Siapa melanggar sehingga membahayakan orang lain, penjara pun menanti. Hukuman dalam perang melawan wabah korona di Tuongkok tidak hanya berlaku bagi warga, tetapi juga berlaku bagi pejabat pemerintah.
 
Alhasil, hingga hari ini covid-19 hanya mengenai 90 ribuan warga Tiongkok dengan angka kematian sekitar 4.600-an. Penambahan harian kasus positif covid-19 juga tak sampai belasan, dengan angka kematian nol dalam beberapa bulan terakhir.
 
Begitulah cara Tiongkok membangkitkan kembali ekonomi mereka. Memilih bersakit-sakit beberapa bulan, tapi langsung ngegas kemudian. Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) bakal mengumumkan capaian pertumbuhan ekonomi RI di kuartal I 2021. Banyak yang memprediksi ekonomi kita masih terkontraksi dengan tumbuh negatif 0,6% hingga 0%. Tak mengapa, agar itu jadi bahan evaluasi. Setelah itu, putuskan segera langkah-langkah penting untuk tak malu meniru jalan pedih Tiongkok. Masih ada waktu.
 
*Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group

 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *