Soal Kartel Yamaha-Honda, Bisakah Harga Motor Diturunkan? Ini Kata Pengamat Hukum

Suara.com – Duo pabrikan motor terbesar di Indonesia, Yamaha dan Honda resmi dinyatakan bersalah karena melakukan kartel harga motor.

“Amar putusan tidak dapat Diterima,” demikian bunyi amar putusan PK yang dilansir website MA.

Setelah serangkaian sidang, KPPU pada 20 Februari 2017 memutuskan bahwa benar terjadi praktik kartel antara Honda dan Yamaha

Mahkamah Agung (MA) menolak pengajuan Peninjauan Kembali kasus tersebut akhir April lalu.

Baca Juga: Miris! Ini Alasan Morbidelli Harus Pakai ‘Motor Tua’ di MotoGP 2021

Kasus dugaan kartel tersebut memang sudah dihembuskan beberapa waktu lalu dan berlangsung cukup lama.

Dan akhirnya kasus kartel pun dinyatakan selesai setalah MA memutuskan kedua pabrikan motor dinyatakan bersalah.

Yamaha harus membayar denda Rp 25 miliar, sedangkan Honda membayar denda Rp 22,5 miliar.

Sidang Pemeriksaan dugaan Kartel Yamaha dan Honda. [Dok KPPU]
Sidang Pemeriksaan dugaan Kartel Yamaha dan Honda. [Dok KPPU]

Lalu setelah ditetapkan putusan ini, apakah nanti kedua pabrikan ini bakal menurunkan harga motor mereka?

Jika dilihat dari kacamata hukum, hal tersebut tidak bisa. Hal ini disampaikan oleh Mahendra Wirasakti, salah satu pengamat hukum di Rumah Hukum asal Jogja.

Baca Juga: Siap-Siap! Honda Bakal Hadirkan Motor 200cc dengan Genre Adventure

Berdasarkan UU No 5 tahun 1999 disebutkan hukuman untuk para pelaku monopoli perdagangan berupa denda serendah-rendahnya Rp 1 miliar dan setinggi-tingginya Rp 25 miliar.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *