Review & Sinopsis Film Pendek Cops & Robbers (2020)

Film merupakan salah satu media yang paling efektif untuk memberikan hiburan atau pesan tertentu. Bisa itu pesan moral, pesan sosial dan juga satir. Bahkan nggak sedikit juga yang menggabungkan unsur-unsur tersebut dalam satu film sekaligus. Dengan menggabungkan visual dengan audio, penonton akan terbawa masuk ke dalam cerita.

Selain film panjang yang berdurasi lebih dari satu jam, ada juga film pendek dengan durasi yang lebih pendek dari itu. Biasanya, durasi akan disesuaikan dengan kebutuhan pembuatnya. Salah satu film pendek tapi tetap powerful adalah Cops and Robbers yang rilis tahun 2020. Seperti apa review dan sinopsisnya? Langsung simak di bawah ini ya, teman-teman!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2020
  • Genre: Animation, Drama
  • Produksi: Roundabout Entertainment, Spin VFX
  • Sutradara: Arnon Manor, Timothy Ware-Hill
  • Pemain/pengisi suara: Timothy Ware-Hill

Seorang pria keturunan Afrika-Amerika berlari di pagi hari di sebuah lingkungan. Dia mulai berbicara mengenai isu sosial yang dibuat secara spontan. Kata-katanya itu berisi tentang bagaimana perbedaan berbagai permainan pada masa kecil dibandingkan dengan kejadian masa kini. Bukannya menceritakan keindahan dan kenaifan, melainkan bagaimana kondisi jauh lebih mengerikan saat ini.

Pria itu mengungkapkan kemarahan dan dukanya tentang bagaimana masih banyak terjadi rasisme, diskriminasi dan prasangka buruk pada ras lain selain kulit putih, terutama kulit hitam. Dia berlari, sesekali berjalan, sementara gambar berubah menjadi animasi. Animasi itu menunjukkan betapa menderitanya mendapat perlakuan karena hanya permasalahan berbeda warna kulit.

Menampilkan Berbagai Macam Animasi

Menampilkan Berbagai Macam Animasi

Bagi yang ingin menonton sebuah film animasi dengan ilustrasi cerita yang panjang ketika menonton Cops and Robbers mungkin akan kecewa. Pasalnya, film ini hanya menampilkan ilustrasi dari kata-kata yang diucapkan Timothy Ware-Hill ketika lari pagi. Durasinya pun nggak lama, yaitu di bawah empat menit saja.

Selama kurang dari empat menit, gambar Timothy di awal film akan mengalami transisi menjadi animasi. Animasi itu merupakan ilustrasi dari tindakan diskriminasi dan rasisme akibat sistem hukum yang ada di Amerika. Hebatnya, animasi itu bukan hanya berasal dari satu jenis. Ada animasi tradisional, 2D, 3D, stop motion bahkan rotoskop bergantian satu sama lain.

Banyaknya jenis animasi yang ditampilkan merupakan sebuah terobosan baru. Biasanya, film animasi hanya akan menampilkan satu jenis animasi dari awal hingga akhir film. Cops and Robbers melibatkan kurang lebih 40 animator untuk membuat ilustrasi dari isu sosial yang ada di Amerika. Bukannya terganggu, kita malah akan dibuat kagum dengan visualisasi di film ini.

Penampilan Timothy Ware-Hill

Penampilan Timothy Ware-Hill

Penampilan nyata Timothy Ware-Hill hanya bisa dilihat selama beberapa detik saja di film Cops and Robbers. Dia kemudian berubah menjadi bentuk animasi kemudian berbagai animasi bergantian sebagai interpretasi dari kata-kata yang diungkapkannya. Kalau menganggap akan membosankan, justru film ini bisa membuat kita tertegun mendengarkan kata-kata Timothy.

Timothy menunjukkan berbagai ekspresi dari wajahnya. Dia bisa tersenyum, menahan amarah kemudian memuntahkan kemarahannya lewat kata-kata. Nada suaranya pun berubah. Ketika membandingkan permainan masa kecil terdengar dilakukan dengan nada biasa. Ketika dibandingkan dengan kenyataan yang pahit, nadanya berubah menjadi lirih bercampur marah.

Timothy banyak berkata “I want to go back when ….” untuk menunjukkan betapa naifnya manusia ketika masih kecil. Dia kemudian melanjutkan kalimatnya dengan “become” dan “now” untuk menunjukkan seberapa jauh perubahan terjadi. Parahnya perubahan itu bukannya menuju pada kebaikan tapi malah menuju pada keburukan yang nggak berakhir juga.

Perbandingan dari bagaimana ketika bermain basket, kedua tangan diangkat untuk memblok tembakan, kini banyak orang kulit hitam harus mengangkat tangan karena dianggap pelaku kejahatan. Kemudian bagaimana petak-umpet yang dulu digunakan untuk bermain kini menjadi cara untuk bersembunyi karena kulit hitam selalu dikambinghitamkan.

Adegan paling meyedihkan adalah ketika Timothy menyebut bagaimana permainan May I yang dulu berganti menjadi teriakan mengerikan seorang ibu yang meminta jasad anaknya. Apakah bisa mendapat keadilan? Ini yang paling emosional bagi penonton, siapa pun pasti akan relate  dengan kepedihan seorang ibu.

DI akhir film, wajah Timothy kembali muncul. Setelah melontarkan kata-kata, dia memberikan pertanyaan atas apa yang sudah terjadi selama bertahun-tahun dan tetap terjadi. Pertanyaan itu terdengar sederhana dengan bunyi mengapa. Dia menutup dengan tegas bahwa mungkin memang nggak ada jawaban.

Mengangkat Isu Relevan

Mengangkat Isu Relevan

Cops and Robbers mencoba mengangkat isu relevan yang terjadi di Amerika. Sayangnya, isu itu bukan berlangsung selama beberapa tahun ke belakang melainkan sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Pada jaman dulu, ada politik apartheid yang membuat orang kulit hitam diperlakukan sebagai budak dan direndahkan oleh kulit putih.

Baca juga:

Pada tahun 1870-an, muncul sebuah organisasi bernama KKK yang mempunyai ideologi supremasi kulit putih, menolak keberadaan ras lain serta perkawinan antar ras.  Organisasi itu sempat meredup pergerakannya sampai pada pemerintahan Trump, mereka berani secara terbuka menunjukkan keberadaan mereka.

Dengan masyarakat heterogen, tentu keberadaan mereka nggak bisa diterima tapi bukan berarti menghentikan pergerakan mereka. Pada tahun 2020 lalu, ada kasus kematian George Floyd yang menimbulkan reaksi di seluruh dunia. Orang-orang beramai-ramai menunjukkan solidaritasnya. Isu sosial yang nggak kunjung selesai itu dibingkai dengan kata-kata Timothy

Terinspirasi Kisah Ahmaud Arbery

Terinspirasi Kisah Ahmaud Arbery

Ahmaud Arbery merupakan seorang pria berusia 25 tahun keturunan Afrika-Amerika yang tewas ketika dia sedang jogging di Brunswick, Georgia. Dia tewas ditembak oleh ayah-anak berkulit putih, Gregory dan Travis McMichael. Walau sempat menyangkal, mereka mengaku membunuh Arbery yang dianggapnya berandil dalam banyaknya tindakan kriminal di lingkungan mereka.

Nggak cukup dengan membunuh, Gregory dan Travis pun mengungkapkan makian bernada rasis setelah Arbery tewas. Kejadian itu diabadikan dalam sebuah video yang diambil saksi mata. Kejaksaan Brunswick awalnya menyatakan nggak punya alasan untuk menangkap ayah dan anak tersebut. Kontan, pernyataan itu mengundang reaksi protes besar-besaran.

Cops and Robbers terinspirasi dari kisah Arbery yang tewas sia-sia karena dia nggak melakukan tindakan kriminal apapun. Timothy Ware-Hill sengaja mengambil video ketika dia sedang jogging mengelilingi lingkungannya, mirip dengan Arbery. Tindakan itu merupakan tribut dengan kemiripan untuk apa yang dialami oleh Arbery.

Pesan Menyentuh “Just Being Themselves

Pesan Menyentuh “Just Being Themselves”

Setelah Timothy selesai berkata-kata, ada sebuah pesan di akhir film dengan tulisan “Just Being Themselves”. Tiga kata itu punya makna yang luar biasa besar dikaitkan dengan rasisme. Banyak orang kulit hitam yang menjadi korban kebrutalan aparat berwajib, prasangka buruk, dikambing hitamkan dan mendapat perlakuan diskriminatif karena satu hal, warna kulit.

Nggak ada manusia yang bisa memilih warna kulitnya. Cops and Robbers mencoba untuk menyadarkan kita bahwa solidaritas terhadap kulit hitam bukan hanya kata-kata tapi juga harus melakukan aksi. Timothy juga mengingatkan agar mereka bisa kembali melihat bagaimana menyenangkannya anak kecil bermain Cops and Robbers, tanpa membedakan warna kulit.

Cops and Robbers nggak butuh waktu lama, bahkan kurang dari 10 menit untuk menyampaikan pesan sosial. Setiap kata dan pengibaratan yang diucapkan Timothy Ware-Hill terasa begitu powerful ketika disandingkan dengan berbagai animasi. Suka film animasi? Segera nonton lalu bagikan pengalamanmu di kolom komentar, teman-teman!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *