Inter dan Narasi Kebangkitan: Scudetto yang Terasa Sungguh Manis!

MOJOK.CONarasi kebangkitan sangat terasa dari keberhasilan Inter merengkuh Scudetto musim ini. Selamat, Interisti. Forza Inter.

Kalau boleh jujur, sebelum musim 2020/2021 sepak mula, Inter tidak masuk dua besar unggulan untuk merengkuh Scudetto. Saya mengira AC Milan dan Juventus yang akan menjadi dua kuda pacu Serie A hingga akhir musim. Saya senang prediksi itu salah.

Ketika Serie A mencapai setelah jalan, saya sempat ngobrol dengan salah satu teman. Dia fans Juventus. Kami sama-sama merasa kalau AC Milan tidak akan kuat mempertahankan status capolista. Badai cedera yang mulai datang dan inkonsistensi beberapa pemain akan menjadi pemicu kejatuhan Milan.

Di akhir obrolan, kami kembali sama-sama merasa bukan Juventus yang akan menjegal AC Milan. Tim yang kami rasa akan menjadi masalah bagi Milan adalah tetangga mereka sendiri, yaitu Inter. Ada tiga alasan yang membuat kami sepakat bahwa Inter akan naik ke puncak.

Pertama, konsistensi di dua lini. Inter memang tidak selalu bermain baik. Namun, lini depan mereka tak punya masalah mencetak gol. Sementara itu, lini belakang skuat asuhan Antonio Conte juga cukup kokoh. Sampai saat ini, Inter menjadi tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit.

Mengapa catatan ini penting? Karena bisa dengan mudah menggambarkan bahwa Inter itu menjadi sulit dikalahkan, sekaligus bisa memenangi laga dengan seketika. Yah, paling tidak, jika keadaan sedang tidak menguntungkan, mereka masih bisa meraih hasil imbang.

Kedua, aktivitas transfer yang cemerlang. Saya tidak tahu apakah tim transfer Inter memang jeli atau sedang beruntung. Masuknya Achraf Hakimi dan Nicolo Barella ke tim utama patut mendapat apresiasi. Dua pemain yang menyeimbangkan skuat Inter.

Baca juga:  Paul Pogba dan Kontrak Baru yang Logis: Cara Manchester United Menjauhkan Juventus

Ketiga, narasi kebangkitan, mulai dari pelatih hingga beberapa pemain. Dan saya rasa, alasan ketiga ini yang paling mendominasi. Ingat, orang yang berhasil melewati cobaan, lalu punya kemauan keras untuk bangkit, akan diganjar keberkahan pada akhirnya.

Napas Inter dari Conte, Lukaku, hingga Eriksen

Musim 2020/2021, meski berakhir manis, sebetulnya bukan musim yang manis untuk sebagian penggawa Inter. Terutama untuk Conte, sosok allenatore yang tak henti diragukan, bahkan oleh fans mereka sendiri. Cukup banyak insiden yang menghadirkan rasa pahit bagi Conte dan tim.

Salah satunya kegagalan di kompetisi Eropa. Kegagalan yang begitu pahit. Makian datang dari fans Inter, ledekan menyayat hati hadir dari fans rival. Bahkan, pada titik tertentu, muncul tuntutan untuk memecat Conte. Padahal, performa dan posisi di Serie A terbilang sangat baik.

Entah, tapi saya merasa apresisasi kepada Conte terasa sangat minim. Mungkin, statusnya sebagai legenda Juventus membuat pujian itu menjadi barang langka. Conte menghadapi pukulan demi pukulan kenyataan itu dengan khas dirinya. Terkadang canggung di depan jurnalis, terkadang terasa penuh keyakinan dalam sikapnya yang dingin.

Saya rasa, ledekan dan cacian itu tak pernah berhasil mengusasi diri Conte. Mantan pelatih Chelsea ini berhasil mengerjakan dua misi utama, yaitu membantu perkembangan pemain dan meracik strategi. Dia memacu dirinya sendiri untuk bangkit dari berbagai elegi yang menerpa Inter musim ini.

Konsentrasi dan daya amat Conte kepada potensi pemain terbilang sangat on point. Mata yang jeli dan kemampuan memotivasi itu menjadi elemen penting di atas lapangan, terutama kepada per individu pemain Inter. Di sini, kebangkitan tak hanya terjadi di dalam dada Conte. Api kebangkitan juga menular kepada pemain.

Baca juga:  Surat Terbuka Untuk Ronaldo, yang Ngambek Karena Messi Menang Ballon d’Or

Saya masih ingat betul betapa Inter ingin melepas Christian Eriksen di jendela transfer musim dingin. Kejadian itu masih awet tersimpan dalam memori saya karena Eriksen dihubungkan dengan Arsenal. Pemain asal Denmark itu diproyeksikan menjadi pengganti Mesut Ozil.

Namun, perpisahan urung terjadi. Eriksen bertahan hingga jendela transfer ditutup dan Conte pun memberinya kesempatan lebih luas. Saya tidak pernah meragukan kualitas Eriksen. Dan ternyata, kepercayaan dari Conte itu menjadi trigger perfoma stabil mantan pemain… itu.

Eriksen, di mata saya, tak hanya gelandang yang pandai. Dia juga punya kemampuan beradaptasi di berbagai posisi. Dia bukan pemain dengan skill yang mewah. Namun, Eriksen bisa membuat Inter lega karena kualita dirinya selalu stabil meski bermain di banyak posisi.

Kebangkitan Eriksen juga seperti menjadi “kaca” akan kebangkitan beberapa pemain lainnya. Beberapa pemain yang tak lagi mendapat kepercayaan. Beberapa pemain yang kehilangan kestabilan. Mereka adalah Ashley Young dan Alexis Sanchez.

Mungkin yang diwejangkan oleh orang bijak zaman dulu ada benarnya. Bahwa selain kejahatan, kebaikan itu juga menular. Termasuk narasi kebangkitan yang menjangkiti skuat Inter setelah Serie A berjalan separuh musim. Young dan Alexis tak lagi muda, tak konsisten, dan tersisih dari skuat Manchester United.

Bersama Conte, kedua pemain ini menemukan lagi kebahagiaan manis ketika dimandikan oleh kepercayaan. Keduanya tidak mencatatkan statistik yang sundul langit. Namun, keduanya sangat “berguna untuk tim”. Dan pada titik tertentu, berguna untuk sesama juga capaian tertinggi umat manusia.

Bagi pesepak bola, konsistensi adalah barang mahal. Persetan dengan usia, persetan dengan status. Kalau pemain tidak konsisten, dia pasti tersingkir dari sorotan panggung dunia. Conte membantu Young dan Alexis menemukan lagi jalur konsistensi itu.

Baca juga:  Jika Mourinho Sebut Pogba Bisa Jadi Bek Tengah, Belajarnya ke Jajang Mulyana Saja

Jalur yang sama juga turut ditemukan oleh Romelu Lukaku. Bagi saya, Lukaku adalah protagonista Inter musim ini. Masih segar dalam ingatan saya betapa Lukaku adalah ladang ledekan yang menyenangkan. Tidak punya first touch yang baik dan dianggap mandul ketika masih memperkuat Manchester United.

Tahukah kamu, saat ini, Lukaku menjadi pemain pertama di Serie A yang bisa mengumpulkan 20+ gol dan 10+ asis untuk satu musim? Ya, Lukaku mencatatkan statistik gila itu dan menjadi pemain pertama sejak Opta melakukan pencatatan pada musim 2004/2005.

Angka gol dan asis itu menggambarkan dua hal. Pertama, Lukaku bukan striker mandul. Dia sangat tajam di tangan pelatih dan lingkungan yang tepat. Kedua, Lukaku adalah team player. Dia memang tajam mengoyak jala lawan, sekaligus jeli membuat final ball untuk rekannya. Apalagi yang kamu harapkan dari striker komplet seperti ini?

Inter menebus Lukaku dengan harga mahal. Keputusan berani yang patut diapreiasi. Investasi itu kini berbuah manis. Team player, punya determinasi tinggi, pintar, mau berkorban, tajam, konsisten. Kebangkitan Lukaku kini menjadi wajah Inter sepenuhnya.

Rasanya pasti sangat manis ketika perjuangan untuk bangkit dari keterpurukan ternyata berhasil. Tetes air mata, keringat, dan darah itu tidak sia-sia. Laku prihatin dan kesadaran untuk bangkit membuat Inter menjadi dominan. Scudetto 2020/2021 ini manis sekali rasanya.

Selamat, Inter. Selamat Interisti. Forza Inter! Salam damai dari fans Arsenal.

BACA JUGA Seks and The Inter Milan, Conte Sarankan Pemainnya Untuk Rutin Kelon dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.


Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *