Perempuan dan ‘Kutukan’ Menstruasi

Bagian belakang rokmu merah. Kamu mendapat hari menstruasi yang pertama tanpa bersiap membawa pembalut. Keringatmu mendadak bercucuran. 

Kamu meminta bantuan teman perempuan sebangku untuk berjalan di belakangmu agar noda darah yang makin melebar dan terasa lengket dan membanjir pada celana dalammu tak terlihat oleh orang lain. 

Keringatmu semakin banjir menyadari sebentar lagi darah yang keluar dari vaginamu melewati sela pahamu sudah akan mencapai lutut. Untung saja ada stok pembalut di kotak obat UKS. Setelahnya, kamu masih harus mencuci rokmu di toilet sekolah dengan tergesa.

Bertahun-tahun setelah hari pertamamu mendapat menstruasi, kamu dan saya paham bahwa menstruasi adalah siklus reproduksi yang terjadi tiap bulan pada tubuh manusia perempuan.

Setiap bulan, tubuh perempuan menebalkan dinding rahim untuk mempersiapkan diri bagi kehamilan. Apabila tidak ada sel telur yang dibuahi, maka dinding rahim akan meluruh dan keluar dalam bentuk darah melalui vagina. Menstruasi betul-betul merupakan peristiwa biologis biasa. 

Sama seperti peristiwa biologis lainnya ketika dalam keadaan tertentu tubuh berkebutuhan untuk lapar, berak, bahkan bernafas dalam rangka mempertahankan kehidupan.

Jika ia adalah kejadian biologis yang biasa saja, kenapa perempuan remaja mesti bisik-bisik saat berbelanja pembalut di warung tetangga lalu membungkusnya dengan plastik dobel agar tak tampak beraktivitas membeli sebungkus pembalut? 

Kenapa kamu pernah mengumpulkan rambut yang rontok saat menyisir untuk dikumpulkan jadi satu kembali ketika keramas mandi besar?

Sebagian dari kita adalah sisa-sisa generasi yang dididik untuk percaya bahwa menstruasi adalah sesuatu yang memalukan. Tubuhmu sedang tidak suci saat menstruasi, dan sebaiknya kamu diam-diam saja.

Tabu menstruasi adalah sejarah panjang bagaimana dunia tergagap mengenali kondisi fisiologis perempuan yang berbeda dari laki-laki.

Jauh sebelum manusia berpengetahuan, dunia laki-laki memikirkan kenapa manusia perempuan mengeluarkan darah dari vaginanya dan mesti berpayah-payah mengandung yang bikin fisiknya berubah hingga bertaruh nyawa untuk melahirkan. 

Ribuan tahun lalu, dunia menyimpulkan jawaban kepayahan-kepayahan itu sebagai akibat legenda manusia perempuan pertama, Hawa yang menggoda Adam di surga. Sehingga, keturunan perempuan dikutuk untuk menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.

Sebagai “penggoda” yang mendapat kutukan, manusia perempuan itu kotor dan tak suci, sehingga ia mesti disucikan. Jauh sebelum Islam, dalam tradisi Yahudi dikenal ritual pensucian diri yang dilaksanakan dalam mikve (baca: mikvah). Perempuan dalam siklus menstruasi tak boleh bersentuhan dan harus tidur di ranjang yang terpisah dengan suami sampai selesai mandi suci di kolam mikve.

Kamu bisa menonton film Unorthodox di Netflix kalau penasaran bagaimana ritual mikve dijalankan. Hati-hati, kalau kamu sedang sakit kelainan reproduksi, film ini cukup membangkitkan trauma buat ditonton.

Kalau kamu nonton film Padman yang dibintangi Akhsay Kumar, atau versi dokumenternya berjudul Period: End of Time, kamu akan terkaget-kaget menonton bagaimana tradisi Hindu di India memandang siklus menstruasi perempuan. 

Perempuan menstruasi bukan hanya tak boleh disentuh suaminya, mereka bahkan tinggal di ruangan khusus yang terpisah dari rumah utama, tak boleh masuk ke dapur dan terlarang memakai alat makan yang sama.

Saya pernah terkesiap membaca data perihal faktor yang menyebabkan anak-anak perempuan di seluruh dunia terputus dari sekolah. Alasan pertama, tentu saja kemiskinan, tapi alasan tertinggi kedua adalah menstruasi.

Apa hubungan menstruasi dengan angka putus sekolah?

Di India dan Nepal, masih ada anak-anak perempuan dari keluarga yang sangat miskin menjalani isolasi sendirian saat menstruasi di sebuah bangunan terpisah dari rumah yang lebih mirip kandang sapi. 

Rumah mereka kecil, dan karena miskin tak punya ruang khusus untuk menyendiri. Sedangkan tradisi tetap melarang mereka untuk memasuki dapur, kamar serta menyentuh segala peralatan yang ada dalam rumah.

Dalam kandang isolasi yang tanpa kasur atau kursi itu, seorang anak perempuan mengerang kesakitan sepanjang hari dan terkadang baru menerima kiriman jatah makanan pada malam hari.

Ia meringkuk memegangi lututnya dan menuju sungai pada malam hari untuk mencuci kain bekas yang mesti ia pakai kembali keesokan harinya dalam keadaan lembab.

Saat tradisi tersebut mulai luntur karena aktivitas pergi bersekolah, ternyata anak-anak perempuan ini harus memakai kain bekas karena tak punya uang untuk membeli pembalut. Kain bekas ini beresiko membuat vagina iritasi serta memicu penyakit-penyakit reproduksi berat lainnya.

Ketika akhirnya, anak-anak remaja perempuan itu mendapat pembalut atau tampon menstruasi, ternyata sekolah mereka tak punya toilet yang ramah perempuan. Jumlah toilet hanya sedikit dan tidak higienis.

Beberapa bulan lalu ketika memfasilitasi pelatihan kesehatan reproduksi dan seksualitas untuk remaja, seorang remaja perempuan dari Jawa menyadarkan pada saya jika mitos-mitos menstruasi yang membuat perempuan terisolasi sekaligus terdiskriminasi itu bukan isu remaja Nepal atau India, tapi masih dekat dengan kita sendiri. 

Anak ini bercerita saat menstruasi, ia pun tak boleh memakai kamar mandi yang sama dengan anggota keluarga lainnya. Saya sampai tak percaya kita ada di tahun 2021 saat mendengar kisahnya.

Satu cerita lagi dari remaja perempuan yang tiap kali menstruasi mesti mengganti pembalutnya sejam sekali saking derasnya. Ia beberapa kali mesti transfusi darah dan opname di rumah sakit karena siklus menstruasi yang berat. Sejak pertama kali menstruasi usia SD hingga kini telah kuliah, siklus menstruasinya berlangsung dalam waktu yang sangat panjang hingga dua minggu, dengan sangat deras setiap harinya.

Saya hanya bisa tercengang mendengar ceritanya dan berbisik: Bagaimana bisa kamu menjalani hidup dengan begitu kuat selama ini? Bersahabat setiap bulan dengan tubuhmu sendiri yang sering menghadirkan trauma?

Al-Quran adalah kitab yang sedari mula melihat menstruasi sebagai siklus reproduksi perempuan (aza) yang menghadirkan rasa sakit (maridl). Oleh sebab itu, teks Quran yang membahas menstruasi adalah larangan laki-laki untuk melakukan hubungan seksual penetrasi (azl) kepada pasangannya yang sedang menstruasi.

Rasulullah minum dari gelas yang sama dengan Aisyah RA di saat tradisi kuno mengisolasi perempuan yang menstruasi. Nabi Muhammad bahkan meminta tolong Aisyah RA untuk mengambilkan sajadah kecil Nabi yang tertinggal di dalam masjid. Ketika Aisyah mengatakan bahwa ia sedang haid, Nabi berujar bahwa haid itu ada di vaginamu, bukan di tangan dan kakimu. 

Nabi tentu menyadari, pada zaman itu belum ada pembalut ukuran 40 cm seperti hari ini. Maka, masuk saja beliau perbolehkan, tapi untuk berdiam diri di tempat salat, tetap beresiko untuk mengotori lokasi.

Merinding betul membayangkan kejernihan Nabi dalam melihat siklus menstruasi perempuan dalam zaman yang masih begitu gelap.

Tapi, merinding betul menyadari bahwa hingga hari ini, masih banyak anak perempuan yang kesakitan, menderita dampak dari lingkungan yang tak higienis, terputus dari sekolah, juga hidup dalam ketakutan di kandang sapi….


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Baca juga:  Apa Tuhan Bisa Bertindak Melawan ‘Hukum Alam’?


Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *