Kisah Nabi Zakariya dan Ilustrasi Rumi soal Doa

Kisah Nabi Zakariya adalah kisah tentang ketegaran dan kesabaran. Hingga di usianya yang senja ia belum juga dikarunia putra.

Ada yang menyebut saat itu usia Nabi Zakariya sudah 120 sementara istrinya 98 tahun. Ia telah mengharapkan kehadiran seorang anak sejak menikah di usia 20 tahun. Namun harapan Zakariya tak pernah goyah.

Salah satu doa Nabi Zakariya direkam dalam Al-Qur’an adalah, “Qala rabbi inni wahanal ‘adhmu minni wasyta’lar ra’su syaiban walan akun bidua’ika rabbi syaqiyya.” 

Nouman Ali Khan mendeskripsikan kekuatan dan kelembutan doa tersebut dengan mengulas kata syaqiyya yang dipilih oleh Nabi Zakariya. Kata itu mengandung banyak makna. Ia bisa bermakna kecewa, tertekan, atau terburu-buru ingin segera dikabulkan.

Jadi, kalau diterjemahkan barisan doa tersebut menjadi, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban. Dan aku tidak pernah kecewa, merasa tertekan, atau tergesa-gesa agar segera Kau kabulkan permintaanku dalam berdoa kepada-Mu.” 

Jika doa adalah cermin rohani, maka kita bisa melihat betapa kuat dan sabar seorang Zakariya. Kita barangkali tidak memiliki ketabahan itu. Ketika berdoa kita umumnya menyelipkan harapan dan desakan agar permohonan kita lekas dikabulkan. Seminggu, sebulan, setahun rasanya terlalu lama. Lalu kita kecewa ketika merasa doa-doa kita tampaknya tidak digubris oleh Tuhan.

Berbeda dengan Nabi Zakariya, kita sering menganggap doa, meminjam istilah Kang Jalal, sebagai lampu Aladin yang dengan sekali atau dua kali usap lalu muncul jin yang siap melaksanakan perintah. Kita memperlakukan doa sebagai lampu ajaib dengan Tuhan sebagai jin.

Melalui doanya Nabi Zakariya tidak saja mengajarkan tentang kesabaran tapi juga tata krama di hadapan Allah. Dalam berdoa kita adalah hamba yang meminta, bukan orang yang mengacungkan perintah  dan mendiktekan ini itu kepada jin.

Bahkan Tuhan telah memenuhi sebagian besar kebutuhan kita tanpa kita harus meminta. Betapa repotnya jika untuk bernapas, melihat, mendengar, berbicara, tertawa, berjalan dan aktivitas-aktivitas lainnya kita harus meminta terlebih dahulu.

Cara menempatkan diri dalam hubungan dengan Tuhan mempengaruhi sikap kita dalam berdoa. Kita jadi gampang kecewa kepada Tuhan jika harapan kita tidak dikabulkan. Atau melupakan-Nya jika merasa sedang tidak butuh pertolongan.

Dalam Matsnawi, Rumi membuat ilustrasi yang menarik tentang doa, melalui cerita tentang penangkap ular dan pencuri.

Dikisahkan ada seorang pencuri merasa sangat beruntung karena berhasil mencuri ular besar dari penangkap ular. Ular itu adalah hasil tangkapan pertama dari penangkap ular, tapi sang pencuri tidak menyadari bahwa bisa ular itu mematikan, begitupun si penangkap!

Kalut karena perasaan malang yang dialami, pikiran si penangkap ular itu dipenuhi cara untuk menemukan pencuri dan mengambil kembali tangkapannya yang berharga, yang diharapkan akan dapat ditukar dengan segepok uang.

Penangkap ular itu pun menuju kota, bermain-main dengan berbagai rencana untuk menjerat si pencuri. Tiba-tiba, di tengah jalan ia melihat sesosok mayat tergeletak di pinggir jalan. Dari gejala yang tampak ia segera dapat mengenali penyebab kematiannya, racun ular.

“Pasti ularku yang merenggut nyawanya!” ia membatin. Penangkap ular itu makin diyakinkan oleh jejak yang ditinggalkan ular di sisi mayat. Ia tercekat. Amarahnya kepada si pencuri mendadak surut. Rasa sakit karena kehilangan berubah jadi syukur yang tak terhingga.

“Saya berdoa begitu keras agar bisa menemukan jiwa yang malang ini dan mendapatkan kembali hasil tangkapan saya. Tapi, untunglah doa-doa saya tidak diindahkan Tuhan. Saya mengira telah kehilangan seekor ular yang dapat dijual, nyatanya saya telah mendapatkan kembali hidup saya! “

Kita pun mungkin pasti sering mengalami hal serupa. Kita marah karena doa kita diabaikan oleh Tuhan. Tapi di kemudian hari kita menyadari betapa doa-doa yang kita panjatkan adalah permintaan yang akan mengantar kita pada kehancuran kalau dikabulkan.

Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Saya ingat beberapa pertanyaan Kang Jalal, apa jadinya kalau doa milyaran orang yang ingin dipanjangkan umurnya pada ranjang kematiannya diijabah? Apa jadinya jika doa lima calon presiden agar menang dikabulkan semua?   

Dunia pasti akan kacau balau.

Maka, sebagaimana penangkap ular, kita juga seharusnya bersyukur atas doa-doa yang tak didengar oleh Tuhan, dan berharap bahwa doa-doa tolol yang pernah kita panjatkan tidak akan pernah diwujudkan suatu hari nanti. Karena syukur tidak selalu karena ada pemberian. Syukur juga bisa karena tidak diberi. Bahkan adanya rasa syukur dalam diri adalah karunia besar yang patut disyukuri.

Doa Nabi Zakariya mengajarkan kita untuk belajar menjalani hidup dengan ridho, yakni meleburkan kehendak kita dengan kehendak Allah. Keridaan Nabi Zakariya akhirnya dijawab Allah dengan kelahiran Yahya. Putra yang sangat berbakti, penerus dakwahnya, dari rahim yang sudah dianggap mandul.


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin FaizMuh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap hari.

Baca juga:  ‘Consent’ Itu Justru Ngajarin Skill Nolak Ajakan Mantap-mantap Beresiko, Bukan Sebaliknya


Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *