Review & Sinopsis Ziarah, Kesetiaan Hingga Maut Memisahkan

Sebuah film yang mengisahkan tentang cinta kebanyakan akan menampilkan kisah romantis antara seorang pria tampan dan wanita cantik dimana hubungan mereka akan disebut sebagai sebuah relationship goals. Namun sebuah film berjudul Ziarah akan menampilkan kisah cinta yang dikemas dengan cukup berbeda.

Kisah cinta yang disajikan dalam film ini adalah kisah cinta dan kesetiaan dari seorang nenek berusia 95 tahun. Penasaran mengenai bagaimana percintaan seorang nenek lanjut usia bisa menjadi sebuah film yang menarik dan mendapatkan banyak apresiasi? Berikut reviewnya film berjudul Ziarah!

Sinopsis

Sinopsis

  • Tahun rilis : 2016
  • Genre : Drama
  • Produksi : Purbanegara Films
  • Sutradara : B. W. Purbanegara
  • Pemeran : Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Ledjar Subroto,

Film Ziarah yang memiliki judul internasional Tales of Otherwords ini menceritakan tentang sosok Mbah Sri, seorang nenek berusia 95 tahun yang berusaha mencari makam sang suami. Suami Mbah Sri, Pawiro Sahid merupakan seorang tentara Indonesia pada masa Agresi Militer Belanda II. Sejak pergi pada perang tersebut, Pawiro Sahid tak pernah kembali ke rumah.

Meski sang suami tak pernah kembali sejak perang, Mbah Sri tetap setia pada suaminya. Dari berbagai kabar, ia mengetahui bahwa Pawiro Sahid gugur di medan perang dan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan. Namun, setelah ia berusia 95 tahun, seorang kerabat memberitahunya bahwa Pawiro Sahid tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Mbah Sri memiliki keinginan agar ia bisa dimakamkan di sebelah makam suaminya jika ia meninggal suatu hari nanti. Demi menemukan makam sang suami dan mewujudkan keinginannya tersebut, Mbah Sri pun memulai perjalanan panjang seorang diri.

Ia pergi menempuh berkilo-kilometer dari rumahnya hanya dengan berbekal informasi yang ia dapatkan dari mulut ke mulut. Setiap bertemu dengan orang yang menurutnya mengenal sosok suaminya, ia akan bertanya mengenai makam tersebut. Namun Setiap orang yang ditemui Mbah Sri dalam perjalanannya memberinya versi cerita yang berbeda dengan sosok Pawiro Sahid.

Sementara itu, cucu dari Mbah Sri, Prapto, tengah merencanakan pernikahannya dengan sang kekasih. Namun rencanya itu harus tertunda karena Mbah Sri yang merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki Prapto pergi dari rumah tanpa berpamitan. Prapto pun mulai mencari Mbah Sri dengan bertanya pada warga di jalan yang sebelumnya dilalui Mbah Sri.

Prapto sempat menemukan Mbah Sri yang tengah berjalan tak tentu arah. Mereka berdua pun kembali pulang ke rumah. Namun tekad Mbah Sri untuk menemukan makam suaminya begitu besar. Ia kembali pergi dari rumah dan kembali mencari makam tersebut, hingga pada akhirnya Mbah Sri mulai menemukan sebuah titik terang mengenai makam suaminya tersebut.

Pada akhirnya, Mbah Sri memang berhasil menemukan makam dari Pawiro Sahid, sang suami yang diyakininya gugur dalam perang. Namun rupanya keyakinan tersebut salah. Dari batu nisan makam Pawiro Sahid tersebut, diketahui bahwa ia tidak meninggal dalam perang, melainkan meninggal dalam usia tua beberapa tahun lalu.

Di samping makam Pawiro Sahid tersebut juga berada satu makam lain dengan batu nisan yang tertulis nama Nyonya Pawiro Sahid. Meski tampak sedih dan sempat pingsan, Mbah Sri berusaha ikhlas dan tetap meneruskan prosesi ziarahnya di makam tersebut dengan berdoa dan menabur bunga.

Akting Mbah Ponco dan Para Pemeran Lain yang Mengagumkan

Akting Mbah Ponco dan Para Pemeran Lain yang Mengagumkan

Hal yang paling menarik dari film Ziarah tentunya adalah totalitas akting dari tokoh utamanya. Tokoh Mbah Sri dalam film ini diperankan oleh Ponco Sutiyem atau Mbah Ponco, seorang lansia yang sudah berusia 95 tahun. Mbah Ponco juga bukanlah seorang aktor. Ia adalah penduduk asli  Gunung Kidul, Yogyakarta yang dipilih sendiri oleh sang sutradara setelah mencari dari rumah ke rumah.

Meski bukan seorang aktris, akting Mbah Ponco dalam film ini sangat mengagumkan. Mbah Ponco tampak begitu menjiwai perannya sebagai seorang istri yang mencari suami yang dicintainya. Bukan hanya Mbah Ponco saja, para pemeran pendukung lainnya juga bukan berasal dari kalangan aktor atau aktis, namun akting mereka tetap terlihat natural dan tidak kaku.

Plot Twist Tak Terduga dan Kisah Mengharukan

Plot Twist Tak Terduga dan Kisah Mengharukan

Jika kamu berpikir film Ziarah akan menyajikan alur cerita yang membosankan, maka pendapat tersebut sepertinya salah. Film ini justru memiliki plot twist yang tak terduga yang akan terungkap pada bagian akhir film ini. Jika sepanjang film kita disajikan dengan cerita tentang Pawiro Sahid sebagai pahlawan yang gugur di medan perang, maka fakta di akhir cerita akan menjadi twist tak terduga.

Baca juga:

Di sepanjang film ini, penonton juga akan melihat kisah yang mengharukan dari kesetiaan Mbah Ponco pada sang suami selama bertahun-tahun dan bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh nenek tersebut demi menemukan makan orang yang dicintainya. Di akhir film, keikhlasan Mbah Ponco  juga akan membuat akhir cerita ini terasa begitu miris, pilu, dan haru.

Sinematografi yang Indah Sepanjang Film

Sinematografi yang Indah Sepanjang Film

Kekuatan film Ziarah tak hanya berada pada cerita dan totalitas akting para pemerannya saja, melainkan juga teknik sinematografi yang diperlihatkan di sepanjang film. Film ini memang cukup banyak memperlihatkan teknik shot dengan durasi yang cukup panjang, namun hal tersebut tidak akan membuat bosan.

Penonton justru akan disajikan visual dengan ragam beauty shot yang indah. Tak hanya itu saja, di sepanjang film juga akan banyak diperlihatkan mengenai keindahan alam dari lokasi-lokasi yang didatangi oleh Mbah Sri. Visual dan sinematografi yang indah ini semakin membuktikan Ziarah sebagai salah satu film terbaik di Indonesia.

Berjaya di Festival Internasional

Berjaya di Festival Internasional

Ziarah merupakan salah satu karya terbaik sineas Indonesia yang sudah banyak diapresiasi pada ajang penghargaan level internasional. Pada Salamindanaw Film Festival tahun 2016, film ini meraih kategori sebagai film terbaik. Prestasi lainnya dari film ini adalah Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016 dan Nominasi Penulis Skenario Film Terbaik Festival Film Indonesia 2016.

Pada ajang ASEAN International Film Festival and Awards 2017, Ziarah juga mendapatkan penghargaan untuk kategori Best Screenplay. Prestasi yang paling menarik perhatian dari film ini adalah pengahrgaan Special Jury Award untuk Mbah Ponco Sutiyem pada ajang AIFFA 2017 atas aktingnya yang luar biasa sebagai Mbah Sri.

Itulah sedikit review dan sinopsis dari film Ziarah, sebuah film tentang kesetiaan, keikhlasan, dan cinta sejati dari sosok nenek berusia 95 tahun. Dengan semua pencapaian dan prestasi dari film ini, Ziarah menjadi film yang harus menjadi rekomendasi tontonanmu.

Apakah kamu juga sudah menonton film ini? Apa yang kamu rasakan setelah mengikuti perjalanan Mbah Sri yang berakhir tidak seperti keyakinannya? Ceritakan tanggapanmu mengenai film ini di kolom komentar ya!

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *