Sinopsis & Review The Hunger Games: Mockingjay – Part 2 (2015)

Seharusnya berakhir di satu film saja, yaitu “Mockingjay”, ternyata franchise “The Hunger Games” membuat ending-nya menjadi dua bagian. “Mockingjay” Part 1 dirilis pada bulan November tahun 2014, dan Part 2 dirilis setahun setelahnya yaitu November 2015.

Kira-kira kenapa film terakhirnya harus dibagi dua, ya? Apakah karena durasi atau hal lainnya? Anyway, film ini menjadi akhir yang sesungguhnya dari perjalanan peperangan antara warga distrik bersama Katniss dkk melawan Capitol dan Presiden Snow. Penasaran dengan sinopsis dan review filmnya dari Bacaterus? Scroll saja terus sampai bawah, yuk.

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2015
  • Genre: Perang, Fiksi ilmiah, Petualangan, Film fantasi, Cerita seru, Drama
  • Produksi: Lionsgate Films, Color Force, Studio Babelsberg (Part 2)
  • Sutradara: Francis Lawrence
  • Pemeran: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Elizabeth Banks, Jeffrey Wright, Jena Malone, Willow Shields, Mahershala Ali, Elden Henson, Stef Dawson

Sakit hati dan kalut karena Peeta Mellark (Josh Hutcerson) tidak mengingatnya, dan setelah diserang secara fisik oleh versi-hijacked-Peeta, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) pun bergabung dengan tim perang Distrik 13 secara diam-diam.

Ia menyelinap ke pesawat pengangkut barang dan makanan yang akan pergi ke gudang senjata Capitol, Distrik 2. Karena sudah terlanjur datang ke wilayah perang, Katniss pun diajak tim pemberontak yang ada di sana seperti Gale Hawthrone (Liam Hemsworth) dan Boggs (Mahershala Ali) untuk meyakinkan Distrik 2 agar ikut memberontak.

Mengajak warga Distrik 2 untuk memberontak tidaklah mudah. Karena, Distrik 1 dan 2 adalah distrik-distrik yang ‘disayang’ oleh Capitol. Alasan utamanya mungkin karena kedua distrik tersebut memproduksi benda yang paling penting dan paling disukai Capitol.

Distrik 1 merupakan penambangan berlian dan pembuat aksesoris juga barang mewah. Sedangkan Distrik 2 merupakan benteng alami karena lokasinya yang paling dekat dengan Capitol (di Rocky Mountain). Distrik 2 juga merupakan markas pesawat, senjata, dan alat tempur Capitol, serta kebanyakan Peace Keepers (polisi/tentara di Panem) dilatih dan diambil dari sana

Jadi, kedua distrik tersebut mendapatkan ‘perlakuan istimewa’, seperti makanan yang lebih berlimpah, Peace Keepers yang tidak terlalu kejam, bahkan anak-anak di sana dilatih dan bersemangat untuk mengikuti The Hunger Games.

Makanya anak-anak dari Distrik 1 dan 2 yang menjadi tribut biasanya malah volunteer, bukan pergi karena terpaksa. Bagi mereka, pergi ke arena The Hunger Games apalagi memenangkannya merupakan kebanggan. Distrik 1 dan 2 adalah distrik yang di-Capitol-kan.

Makanya, mengajak Distrik 1 dan 2 untuk join the uprising merupakan langkah terakhir tim utama pemberontak sebelum semua distrik bisa berperang menjatuhkan Capitol. Pada saat itu, ceritanya Distrik 1 sudah ikut pemberontakan, yang tersisa hanya Distrik 2 saja.

Para pemberontak terpaksa membuat warga Distrik 2 tunduk dengan ‘cara kasar’, karena melalui propo dan ajakan pemimpin Distrik 2, warganya masih tak mempan juga. Sebagian besar dari mereka masih menganggap Capitol tak jahat dan lebih baik berada di bawah perlindungan Capitol alih-alih ikut pemberontakan.

Tim pemberontakan pun menutup akses oksigen di gunung yang disebut The Nut agar para pekerja penjaga hovercraft Capitol keluar, menyerah, dan tunduk pada para pemberontak. Ada satu warga Distrik 2 yang maju untuk menembak Katniss, tapi ia malah tertembak (mungkin oleh pemberontak yang dipihak Katniss).

Namun, begitu baik hatinya Katniss malah menghampirinya untuk menolong. Namun, orang itu malah mendapatkan kesempatan untuk menodongkan pistolnya ke leher Katniss. “Beri aku alasan untuk tidak menembakmu.”, kata warga itu.

Katniss menjawab, “Aku tak bisa (memberikan alasan). Kami menyerangmu dan kau menyerang kami. Jadi kalau kau mau membunuhku, lakukanlah, buat Snow senang. Aku muak membunuh budak-budaknya, demi dia.”

Baca juga:

Warga Distrik 2 itu masih denial, “Aku bukan budaknya.” Lalu, Katniss menjawab, “Aku budaknya (Snow). Itulah mengapa aku membunuh Cato, dia membunuh Tresh, dan Tresh membunuh Clove. Hal ini terus berputar dan terjadi lagi. Tapi, siapa yang menang? Snow. Antar distrik tak punya perang kecuali apa yang Snow tanamkan untuk kita.”.

Setelahnya, orang itu tidak jadi menyerang Katnisss. Namun, Katniss akhirnya tetap tertembak oleh salah satu orang di kerumunan Distrik 2. Penembakan itu membuatnya dirumahsakitkan kembali di Distrik 13.

Oh, Katniss tidak mati, karena ia menggunakan baju anti peluru. Tapi, organ dalamnya memang terluka. Insiden itu semakin membuat Presiden Coin tidak membiarkan Katniss terjun ke medan perang secara langsung, yaitu di Capitol.

Namun, Johanna Mason (Jena Malone) menawarkan untuk menyelundupkan Katniss agar bisa pergi ke sana, untuk bergabung dengan tim yang disebut ‘Pasukan Bintang’. Tim tersebut berisi Gale, Finnick Odair (Sam Claflin), Boggs (Mahershala Ali), dan tiga orang prajurit lainnya, serta tiga orang juru kamera dari Capitol yang sebelumnya merekam propo Katniss.

Sayangnya, Pasukan Bintang tidak benar-benar ‘berperang’. Mereka ada di medan perang, tapi di tempat yang kosong tak ada orang, karena mereka dikirim Presiden Coin untuk merekam propaganda saja. Katniss tidak puas tentu saja, tapi ia punya niat lain, yaitu diam-diam kabur dari tim tersebut untuk membunuh Presiden Snow dengan tangannya sendiri.

Akan tetapi, tak lama setelah ketibaan Katniss di sana, tiba-tiba ada anggota baru di Pasukan Bintang, yaitu Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang kondisi mentalnya belum 100% pulih.

Peeta masih dilema antara Katniss yang ia kenal selama ini dan ‘Katniss yang dibuat oleh Capitol’. Pengiriman Peeta ke Pasukan Bintang membuat Katniss dan Boggs berpikir kalau Peeta sengaja dikirim untuk membunuh Katniss, atas kemauan Presiden Coin.

Well ternyata Coin busuk juga! Soalnya Presiden Coin kan mengincar posisi Presiden Snow untuk menguasai Panem. Sedangkan jika peperangan ini selesai dan pemberontak menang, tentu orang-orang akan lebih setuju jika Katniss yang menjadi presiden, bukan? Secara, Katniss lah yang sudah membakar semangat para pemberontak untuk berani melawan.

Tapi, Katniss mengaku kalau ia tidak tertarik dengan posisi tersebut. Dan, Boggs mengatakan, “Iya kamu tidak tertarik, tapi kamu punya ‘suara’. Dan, jika orang pertama yang kamu pikirkan untuk menjadi presiden selanjutnya bukanlah Coin, tentu kamu menjadi halangan untuknya.”. Wow!

Walau membawa Peeta juga seperti membawa bom yang berdetik, mau bagaimana lagi? Tidak mungkin mereka meninggalkan Peeta sendirian, bukan? Mereka pun bergantian ‘menjaga’ Peeta (karena siapa tahu tiba-tiba ia lepas kontrol) sambil terus maju mendekati jantung Capitol.

Namun, saat melanjutkan perjalanan, Boggs tidak sengaja mengaktifkan bom sehingga itu menjadi tanda kalau di sana ada pemberontak. Peta (berisi di mana letak bom dan jebakan lainnya) yang menjadi acuan Pasukan Bintang ternyata tidak update atau Capitol sengaja mengubahnya.

Ternyata CCTV di area tersebut pun masih ada yang berfungsi dan akhirnya ketahuan kalau Katniss dan gerombolannya ada di Capitol. Pasukan Bintang pun langsung diburu oleh Peace Keepers. Pasukan Bintang dianggap telah mati ketika Peace Keepers berhasil meruntuhkan gedung yang menjadi sumber tembakan.

Mereka pikir semua Pasukan Bintang ada di sana, padahal hanya ada dua orang saja, sedangkan Katniss dan lainnya telah melarikan diri. Snow pun mengumumkan ‘kematian’ para pembelot itu dengan suka cita.

Namun, siaran langsung Snow dipotong oleh Coin yang mengatakan kalau kematian Katniss harusnya menjadi martir untuk para pemberontak, agar menjadi lebih semangat lagi untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Coin sambil akting nangis gitu, sampai di-jugde oleh Plutarch yang duduk di sampingnya. Katniss sendiri ‘kaget’ dan berbicara dengan sarkastik “Oh, ternyata aku begitu berarti di matanya.” Padahal kan Coin memang ingin Katniss mati.

Karena jalur darat (di atas tanah) sudah terbukti tidak aman lagi, Pasukan Bintang pun memilih menggunakan jalan bawah tanah. Tapi, Snow tetap mengetahuinya dan mengirim Mutt ke sana untuk memburu Katniss juga kawan-kawannya.

Mutt, atau muttation, adalah makhluk hidup mirip hewan yang direkayasa game maker. Biasanya Mutt dihadirkan di dalam The Hunger Games saja. Tapi, sekarang Snow menggunakannya juga untuk peperangan sungguhan. Di adegan ini ada MCD alias major character death.

Karena para pemberontak lainnya (bukan Pasukan Bintang) telah sangat dekat dengan warga Capitol, Snow pun mengajak para warga untuk mengungsi ke mansion-nya di mana ada tempat tinggal, keamanan tingkat tinggi, dan makanan.

Padahal Snow ingin membuat human shield karena kalau banyak warga tidak bersalah tentu para pemberontak tidak akan menghancurkan mansion, bukan? Anyway, itu merupakan momen terbaik yang dianggap Katniss dan Gale untuk bisa menyusup ke dalam mansion dan membunuh Snow. Mereka pun menyamar menjadi penduduk Capitol dan ikut barisan untuk bisa masuk ke mansion.

Saat sudah dekat dengan mansion, tiba-tiba ada ledakan yang ternyata berasal dari para pemberontak. Rencana Katniss dan Gale pun gagal karena para pemberontak pun tidak tahu ada mereka di sana, kan. Takut jadi korban salah sasaran (Katniss & Gale sedang berpura-pura jadi warga Capitol), mereka pun ikut bertarung dulu bersama para pemberontak.

Namun, Gale tertangkap oleh Peace Keepers. Sebelumnya, Gale, Katniss, dan Peeta telah berjanji satu sama lain jika salah satu dari mereka tertangkap maka bunuhlah mereka. Karena Peeta bergerak sendiri, ia diberi pil untuk ‘bunuh diri’, sedangkan Katniss dan Gale menjadi tim. Mati dengan cara itu mereka anggap lebih baik daripada disiksa oleh Capitol.

Akan tetapi, Katniss tidak sanggup membunuh Gale, sehingga Gale pun menjadi tawanan. Lalu, tiba-tiba ada tayangan mandat dari Snow yang mengatakan agar anak-anak Capitol yang di bawah umur segera dikirim ke mansion. Memang kalau dalam perangkap biasanya yang diselamatkan terlebih dahulu adalah anak-anak, wanita, lalu lelaki.

Para orang tua pun dengan berat hati dan terburu-buru mengirimkan anak-anak mereka ke barisan depan. Walau anak-anak sudah berjajar di pagar mansion, tetap saja pintu tidak dibukakan. Berarti benar spekulasi di mana Snow memanfaatkan warga Capitol untuk membuat perisai manusia, bukan?

Saat itu, ada hovercraft (kalau di film ini hovercraft itu berarti pesawat perang) Capitol yang melintas, menjatuhkan parasut kecil yang biasa muncul di The Hunger Games sebagai hadiah dari sponsor. Melihat itu, tentu anak-anak Capitol mengira itu adalah pemberian Capitol, mungkin berisi makanan. sehingga mereka menerimanya dengan senang hati.

Namun, tiba-tiba saja, BOM!! Parasut itu meledak, membuat anak-anak Capitol ada yang meninggal di tempat dan ada juga yang luka-luka. Tim medis dari distrik langsung turun tangan untuk menolong anak-anak tersebut. Tentu saja ada Primrose Everdeen, adik Katniss, di sana. Sejak dulu Prim selalu tertarik untuk menolong orang dan ia telah dididik menjadi dokter di Distrik 13.

Katniss yang melihat adiknya di sana merasakan firasat yang tak enak. Berniat menyuruh Prim pegi jauh dari sana, namun, semua itu terlambat. Karena bom yang kedua meledak, membunuh semua yang ada di situ termasuk Prim. Bom tersebut membuat Katniss terlempar dan tidak sadarkan diri namun tidak terlalu terluka karena jaraknya dari bom cukup jauh.

Saat terbangun, Katniss diberi tahu Haymitch kalau berkat bom tersebut, peperangan terhenti. Karena bom tersebut dianggap datang dari Snow, warga Capitol dan Peace Keepers jadi murka dan ikut melawan Snow. Presiden Snow juga telah mendeklarasikan kekalahannya.

Sambil menunggu hari pengadilan, Snow dipenjara di mansion tersebut. Namun, walau disebut penjara, tempatnya terlalu indah karena itu merupakan ladang bunga mawar genetika yang selama ini sering Snow gunakan. Katniss bertemu dengan Snow di sana dan mereka ‘berdiskusi’ singkat.

Snow mengatakan ia sangat menyesal bahwa bom itu membunuh adiknya Katniss, Primrose. Bahwa bom tersebut sangat tidak diperlukan dan tidak semestinya, karena Snow sebenarnya sudah mau menyerahkan diri saat parasut berisi bom itu dijatuhkan.

Katniss menjawab, kau yang mengirimkan parasut itu. Akan tetapi, Snow mengelak. “Kau tahu betul kalau aku tidak keberatan membunuh anak-anak, tapi aku membunuh atas dasar suatu alasan. Aku tidak menyia-nyiakan nyawa begitu saja. Untuk apa aku membunuh barisan anak-anak Capitol, para penerus Capitol?”

“Hal yang aku sesali adalah, aku tidak cepat menyadari ide Coin di balik semua ini. Dia membuat distrik-distrik dan Capitol saling menghancurkan, lalu dia masuk untuk mengambil posisi Snow (sebagai presiden Panem). Kita terlalu sibuk saling mengawasi masing-masing, Katniss, sehingga kita tak sadar sudah dipermainkan Coin.” Lanjutnya.

Katniss pun menyadari satu hal, kalau bom itu bukan buatan Capitol. Karena, bom yang meledak dua kali setelah beberapa saat itu merupakan ide para pemberontak, khususnya Gale. Pada saat di Distrik 2, Gale pernah membicarakan bom tersebut.

Kronologinya, bom pertama akan meledak, lalu tentu orang-orang yang masih sehat akan menolong orang yang terkena ledakan, bukan? Nah, saat itulah bom kedua meledak.

Katniss yang tersadar akan hal itu pun menginterogasi Gale yang selama peperangan selesai belum pernah menemui dirinya lagi. Berarti memang Gale merasa bersalah sehingga enggan untuk bertemu dengannya.

Dan, benar saja, bom tersebut merupakan buatan Distrik 13. Mereka melepaskan bomnya menggunakan pesawat perang Capitol berdasarkan perintah Presiden Coin, untuk mengambinghitamkan Snow. Di situlah celah keretakan hubungan Katniss dan Gale untuk selama-lamanya.

Setelahnya, Coin mengadakan rapat dengan victors Hunger Games dan tim inti pemberontakan. Di sana ia mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Panem.

Ia membuat voting, apakah mereka sebaiknya mengadakan The Hunger Games yang terakhir sebagai ‘peringatan’ untuk warga Capitol dan ‘penanda’ peperangan selesai, tapi kali ini tributnya diambil dari anak-anak Capitol yang tersisa! Terlebih anak-anak petinggi Capitol, seperti cucu Snow, misalnya.

Ada beberapa orang yang tak setuju karena ini hanya akan memupuk dendam dan perang lainnya di kemudian hari. Akan tetapi Katniss yang masih dendam dan tak berpikir jernih memilih ya, ia setuju asalkan ia bisa membunuh Snow dan disaksikan orang-orang. Karena mayoritas orang mengikuti kemauan Mockingjay, Katniss, akhirnya diputuskan untuk membuat another game.

Adegan selanjutnya adalah hari eksekusi mati Snow. Akan tetapi, setelah perbincangan singkatnya dengan Snow, Katniss menyadari hal baru, bahwa ada tirani baru yang akan menggantikan Snow, yaitu Coin. Jadi, alih-alih melepaskan panahnya ke Snow, Katniss malah membidik dan membunuh Coin. Sedangkan Snow mati entah karena penyakitnya atau karena diamuk massa.

Setelah membunuh Coin, Katniss tadinya berniat bunuh diri dengan meminum pil berisi ekstrak Nightlock (buah beri beracun). Akan tetapi, Peeta menghentikannya, dan Katniss pun dibawa masuk ke suatu ruangan, semacam ditahan, tapi tidak dipenjara.

Setelah menunggu entah berapa jam, Haymitch menghampiri Katniss dan membacakan surat dari Haymitch yang mengatakan kalau Katniss akan diampuni walau telah membunuh ‘presiden sementara’ Panem, tidak akan ada lagi The Hunger Games yang terakhir, dan ia akan dipulangkan ke Distrik 12.

Selama di Distrik 12, Katniss sendirian, well ada Haymitch yang merupakan tetangganya di Victors’ Village. Tak banyak warga lainnya yang kembali pulang, mengingat hanya 950 orang saja yang selamat dari 10.000 orang saat Capitol membom Distrik 12.

Dan, banyak orang yang merasa terlalu ‘sakit’ untuk kembali. Sedangkan Peeta masih ada di Capitol untuk mengatasi kondisi mentalnya terlebih dahulu. Namun, kemudian, Katniss melihat Peeta di depan rumahnya.

Peeta sedang menanam bunga Primrose (sejenis mawar) sebagai penghormatan untuk mendiang adik Katniss. Semenjak itu, Katniss mendapatkan keluarganya lagi, yaitu Peeta dan Haymitch.

Scene berlanjut, Peeta dan Katniss mendapatkan surat dari Annie Cresta, istri mendiang Finnick Odair. Annie bercerita kalau anaknya telah lahir, ibu Katniss ada di Distrik 4 untuk merawat para korban, Gale juga ada di sana ternyata dan ia dipromosikan sebagai Kapten.

Lalu, di televisi disiarkan kalau yang menjadi presiden Panem selanjutnya adalah Komandan Paylor dari Distrik 8, yang sempat Katniss temui waktu itu.

Epilog, bertahun-tahun kemudian, Katniss dan Peeta masih bersama dan dikaruniai dua orang anak. Katniss berbicara pada bayinya yang menangis karena memiliki mimpi buruk.

Ia mengatakan kalau ia juga memilikinya (mimpi buruk), bahwa ia akan memberi tahu anak-anaknya tentang semua yang telah ia lalui dan bagaimana cara keluar dari ketakutan itu. “Ada banyak permainan yang lebih buruk untuk dimainkan.” adalah kalimat terakhir Katniss sebelum film selesai.

Simpati Penonton pada Peeta

Jangan kesal dengan karakter Peeta di film ini karena terlihat lemah! Ia telah melalui siksaan dan juga cuci otak, sehingga wajar jika kondisi mentalnya tak stabil dan ia juga tak percaya pada siapapun, termasuk Katniss. Kadang Peeta bisa berbicara dan berperilaku ‘normal’, tapi kadang ia bisa kembali ke kondisi terpuruknya. Jalan cerita ini sangat masuk akal karena orang-orang yang mengalami peperangan memang cenderung mengalami PTSD.

Adegan Perangnya Kurang ‘Nendang’

Menurut saya, scene aksi dan perang dalam film “Mockingjay Part 2” ini masih bisa lebih bagus lagi, atau setidaknya lebih detail lagi. Mutt yang ada di film tidak sama seperti yang diterangkan di novel. Mutt adalah ‘hewan’ mutasi yang diciptakan oleh game maker untuk menakuti bahkan membunuh tribute di dalam The Hunger Games.

Tapi, dalam peperangan ini, Snow mengeluarkan Mutt juga untuk memburu Katniss dan para pemberontak. Sebenarnya dari film pertama pun Mutt yang divisualisasikan cukup berbeda dari yang diterangkan di novel, tapi Mutt terakhir di film Part 2 ini yang paling jauh menurut saya, sehingga cukup mengecewakan. Terornya kurang ‘ngena’.

Lalu, adegan ketika akhirnya Katniss dan teman-temannya berhasil mendekati mansion Snow pun terlalu pendek dan terkesan dipersingkat, padahal saya pikir itu adalah bagian paling menegangkan. Jika di novel, adegan ketika Katniss dan Gale akan menyusup ke mansion Snow terkesan lebih masuk akal.

Karena mereka ‘berdandan’ ala warga Capitol agar tidak ketahuan. Sedangkan di film Katniss dan Gale berjalan polos saja tanpa masker maupun penyamaran. Seperti memang tidak berniat untuk menutupi diri sama sekali.

Perang Final Katniss yang Mengejutkan

"We are gathered to witness an historic moment of justice. Today, the greatest friend to the revolution will fire the shot to end all wars. May her arrow signify the end of tyranny and the beginning of a new era. Mockingjay, may your aim be as true as your heart is pure." - Presiden Coin

Ketika Katniss seharusnya membunuh Snow di hadapan seluruh orang di distrik, ia malah mengarahkan panahnya ke Coin dan, ya, Coin meninggal seketika. Melihat itu, Snow tertawa terbahak-bahak, namun kemudian ia diserbu oleh rakyat yang murka, dan pasti ia mati ditempat juga.

Scene ini membuat banyak orang bertanya-tanya, kenapa Katniss membunuh Coin bukannya Snow? Kenapa Coin harus dibunuh? Well, jika kamu baca novelnya kamu akan lebih tahu kebusukan Coin.

Memang, di film, modus asli Coin dibuat abu-abu, sehingga wajar jika ada orang yang berpihak ke Coin. Tapi, panah Katniss memang benar bukan? ‘Mengakhiri kepemimpinan tirani dan peperangan’?

Saat Katniss memilih membunuh Coin, Haymitch dan Plutarch tidak terkejut, mereka malah mengira (dan diam-diam mengharapkan) Katniss melakukan itu. Selain karena Coin secara tidak langsung merupakan pembunuh adiknya, Prim, Coin juga sudah menunjukkan tanda-tanda ketiraniannya.

So, satu-satunya pilihan yang Katniss miliki adalah membiarkan pemimpin lama mati dan menyingkirkan pemimpin baru. Dengan itu, Katniss memberikan Panem memiliki pilihan nyata untuk menjadi negara demokrasi.

Jika Coin hidup, ia hanya akan menjadi the next Presiden Snow, atau bahkan bisa lebih parah. Dan, saya pikir cara Snow mati di tangan warga distrik ‘lebih adil’ karena ia telah menakuti dan menghancurkan kehidupan warga distrik selama bertahun-tahun.

Jika ia mati dengan panah Katniss, maka kematiannya tidak slow dan painfull. Tak hanya peperangan sungguhan, Katniss juga memiliki perang tambahan, yaitu apakah ia bisa memaafkan Gale karena secara tak sengaja telah membunuh Primrose dan apakah Katniss bisa memaafkan dirinya sendiri?

Tak Ada Orang yang 100% Jahat maupun Baik

Kita bisa melihat bahwa Presiden Snow setidaknya peduli pada rakyatnya (yang kaya raya di Capitol), berniat memberikan perlindungan di mansion miliknya (walaupun tidak cepat dilakukan, well mungkin karena ia ingin membuat barikade manusia untuk melindungi dirinya sendiri juga).

Tapi, ia memberi tahu kejujuran pada Katniss kalau bom terakhir yang membunuh ratusan anak Capitol sekaligus adiknya Katniss bukanlah perintah Snow. Ia juga, sebagai penjahat, setidaknya masih memiliki martabat.

Salah satu alasan Snow adalah penjahat yang hebat karena ia menghormati musuhnya, Katniss. Tidak seperti Coin, Snow tidak pernah meremehkan kecerdasan, kekuatan, dan pengaruh Katniss.

Snow juga mengakui kekalahannya, tidak pernah berbohong bahkan pada musuhnya (Katniss), tidak self destructive, dan tidak mengajak orang didekatnya untuk ‘ikut turun’ bersamanya. Lalu, Snow adalah orang pertama yang memberi Katniss ucapan belasungkawa atas Prim, loh!

Kita juga tahu bahwa ada beberapa orang di Capitol yang merasa bahwa apa yang terjadi selama ini tidak benar dan menanti kapan terjadinya pemberontakan, dan beberapa dari mereka pun tak sungkan untuk membantu warga district untuk melakukan uprising.

Dan, ternyata ada juga orang-orang district yang seakan lebih pro ke Capitol dengan alasan entah karena takut, entah karena tak percaya dengan Katniss. Kalau khusus untuk Distrik 1 dan 2 kan orang-orangnya cenderung enggan membelot karena selama ini merasa diberi perlindungan, makanan, juga uang yang ‘lebih’ dibandingkan district lainnya.

Lalu, ternyata para pemberontak juga memiliki sisi jahat. District 2 dan 13 membuat Ticker Bomb, bom yang akan meledak di tempat yang ramai. Ledakan pertama akan membunuh/melukai korban. Kemudian, beberapa waktu berlalu sekiranya cukup untuk membiarkan penyelamat, petugas medis, dan orang-orang dari kamp musuh mendatangi korban ledakan.

Dan, begitu mereka lengah, ketika mereka berpikir yang perlu dilakukan hanyalah merawat yang terluka atau membawa korban ke tempat yang aman, ledakan lain akan terjadi sehingga menyebabkan kerusakan dan kematian bagi mereka yang tadinya selamat dari ledakan awal juga mereka yang datang untuk membantu.

Trik bom pemberontak ini sangat keji, seperti memerangkap binatang, bukannya manusia. Katniss juga tidak menyetujui hal ini tapi tetap saja disahkan oleh Presiden Coin. Dan, ketika bom itu meledakkan anak-anak Capitol sekaligus tim medis yang ternyata datang dari pihak pemberontak (ada Primrose Everdeen juga di sana), itu semua atas perintah Coin.

Walaupun, saya yakin Coin tidak bermaksud untuk membunuh ‘orang-orangnya sendiri’. Tapi, tetap saja Primrose dan orang-orang distrik ada yang ikut meninggal akibat bom tersebut, kan?

Film Terlalu Panjang atau Mengikuti Tren?

Banyak sekali franchise besar seperti “Harry Potter” misalnya, yang membagi film terakhirnya menjadi dua bagian. Bisa saja pembagian tersebut dilakukan karena ceritanya memang terlalu panjang untuk dirangkum dalam satu film.

Tapi, taktik seperti ini terlalu sering terjadi hingga penonton pun mau tidak mau curiga. Apa karena sangat booming sehingga ‘tega’ membuat penonton menunggu lama untuk mengetahui akhir ceritanya?

Sedikit bercerita tentang pengalaman pribadi saya. Sebenarnya saya sudah baca novel triloginya, jadi saya tahu persis ending-nya seperti apa. Tapi, sebagai penikmat film, saya juga ingin tahu bagaimana Lionsgate memvisualisasikan cerita ini sampai akhir.

Ketika tahu film “Mockingjay” akan dibagi dua, saya lumayan sebal karena setelah menonton yang Part 1 saya harus menunggu lagi hingga Part 2 keluar. Untungnya semua film “The Hunger Games” rilis setahun sekali, sehingga penantian saya (dan fans “The Hunger Games” lainnya) tidak terlalu panjang.

Hal yang paling menarik tentang “The Hunger Games” adalah konsepnya yang berdampingan dengan dunia nyata. Manipulasi masyarakat melalui media, seperti pengalihan isu dari masalah kemiskinan dan ketidaksetaraan, kehidupan selebriti yang kaya raya dan fashionista + dongeng romantis terkesan lebih menarik, bukankah itu semua familiar?

Secara keseluruhan, “The Hunger Games” sangat pantas menjadi franchise yang besar. Inti cerita yang sangat menarik dan mirip dengan dunia nyata, dikemas dengan akting, pengambilan gambar, dan editing yang luar biasa.

“The Hunger Games” bukan tentang kisah cinta remaja, tapi lebih dari itu. Bagaimana menurut kamu tentang film “The Hunger Games” dari satu sampai empat (karena kan film terakhirnya dibagi dua)?

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *