Sinopsis & Review The Hunger Games: Catching Fire (2013)

“Catching Fire” adalah sekuel dari film sebelumnya yang berjudul “The Hunger Games“. Film ini dirilis satu tahun setelah film pertamanya. Para pemeran utamanya masih sama, hanya ada beberapa tambahan karena karakternya pun bertambah, seperti Jena Malone, Sam Claflin, Philip Seymour Hoffman, Jeffrey Wright, Lynn Cohen, dan Amanda Plummer.

Film yang kedua ini menerima banyak respon positif untuk sinematografi dan juga akting pemainnya. Sub-judul “Catching Fire” sendiri memiliki arti mendalam.

Katniss, sang protagonis utama, mengatakan “fire is catching” di salah satu scene-nya yang berarti api (semua) saling berkaitan. Jadi, jika orang-orang district hancur, maka Snow dan pemerintahannya juga akan ikut hancur. Inilah sinopsis dan review The Hunger Games: Catching Fire (2013) dari Bacaterus.

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2013
  • Genre: Laga, Fiksi ilmiah, Petualangan, Cerita seru
  • Produksi: Lionsgate Films, Color Force
  • Sutradara: Francis Lawrence
  • Pemeran: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Lenny Kravitz, Donald Sutherland, Liam Hemsworth, Jena Malone, Sam Claflin, Philip Seymor Hoffman

Memenangkan The Hunger Games merupakan hal yang menggembirakan. Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) sama-sama masih hidup, serta sama-sama mendapatkan ketenaran dan kemahsyuran.

Namun, mereka lupa kalau para victor (pemenang The Hunger Games) harus melakukan Victory Tour alias Tur Kemenangan. Mereka akan pawai ke semua distrik lalu berakhir di Capitol untuk ‘merayakan’ kemenangan mereka di game. Katniss dan Peeta juga harus menjadi mentor untuk calon tribute The Hunger Games selanjutnya.

Sehingga, tentu saja ‘akting’ berpura-pura saling jatuh cinta yang dilakoni Katniss dan Peeta harus dilanjutkan, karena kehidupan mereka selamanya akan ditelevisikan. Tentu orang-orang tidak akan menyukai jika star-crossed lover yang menghebohkan seantero Panem putus, atau malah ketahuan kalau selama ini hanya berakting, bukan?

Dan, Presiden Snow pun secara langsung memerintahkan Katniss untuk membuat orang-orang percaya, bahwa aksinya yang berkaitan dengan Nightlock (baca review The Hunger Games 1) merupakan ‘atas dasar cinta’, bukan karena ingin memicu pemberontakan. Karena, well, telah terjadi pemberontakan di distrik-distrik.

Para victor diberkahi dengan uang, tempat tinggal baru yang mewah di Victors’ Village di distrik masing-masing, kemahsyuran, dan tentunya dapat tetap hidup setelah melalui game. Akan tetapi, ada yang berbeda dengan The Hunger Games ke-75 yang jatuh pada tahun ini.

Digadang-gadang, game kali ini lebih menarik. Karena Capitol menyebutnya sebagai Quarter Quell setiap 25 tahun sekali berarti ada yang spesial daripada The Hunger Games biasanya. Entah itu misalnya tanpa makanan, tanpa tempat berlindung, pokoknya arena dan alur permainan akan lebih ekstrim dari biasanya.

Akan tetapi, tema The Hunger Games Quarter Quell kali ini tidak pernah disangka oleh siapapun juga. Karena, yang akan menjadi tribut pada game tahun ini diambil dari nama para victor. Ya, ini berarti Katniss harus kembali ke arena, karena ialah satu-satunya pemenang wanita dari District 12.

Presiden Snow ingin membunuhnya secara halus. Saat nama tribute pria diundi, nama yang keluar adalah Haymitch Abernathy (diperankan Woody Harrelson). Tentu otomatis Peeta volunteer karena ingin melindungi Katniss di arena. (walaupun percintaan Katniss dan Peeta hanya ‘akting, Peeta benar-benar menyayangi Katniss).

Tentunya The Hunger Games yang ke-75 ini jauh lebih berat, karena para tribut harus melawan peserta yang pernah menang sebelumnya. Mau tak mau, kali ini Katniss dan Peeta harus menggunakan taktik berbeda. Pada awalnya, Katniss ingin hanya ber-team dengan Peeta saja.

Tapi, itu akan membuat mereka menjadi sasaran empuk. Kenapa? Bayangkan saja, Katniss dan Peeta merupakan victor terbaru dan mereka belum pernah bertemu victor lainnya. Sedangkan yang lainnya sudah saling kenal bahkan berteman selama bertahun-tahun.

Baca juga:

Maka itu, Katniss dan Peeta diminta untuk membuat aliansi oleh Haymitch. Katniss sebenarnya hanya memilih tiga orang saja, tapi Peeta memilih dua orang lainnya. Mereka pun beraliansi dengan Beetee & Wiress dari District 3, Mags & Finnick Odair dari District 4, dan Johanna Mason dari District 7.

Ternyata, aliansi tersebut bukan hanya untuk saling melindungi, berbagi makanan, juga tempat berlindung selama game, tapi ada rahasia yang tidak diketahui Peeta dan terutama Katniss. Kira-kira bagaimana akhir dari sekuel ini, ya?

Kehidupan Katniss & Peeta yang ‘Membaik’

Setelah memenangkan The Hunger Games lalu, Katniss dan Peeta masing-masing mendapatkan rumah di Victor’s Village, yaitu perumahan super mewah (jika dibandingkan dengan rumah lainnya di distrik) yang difasilitasi oleh pemerintahan Capitol untuk para victor. Mereka bisa mengajak keluarga mereka untuk tinggal di sana.

Tak hanya tempat tinggal, mereka juga punya makanan yang cukup, uang yang melimpah, pakaian yang bagus, dan sebagainya.

Khususnya keluarga Katniss, mereka memiliki obat-obatan yang ‘mahal’ dan ‘terbaik’ yang bisa didapatkan di district, sehingga adik Katniss, Primrose, dan ibunya Katniss bisa aktif kembali sebagai ‘penyembuh’. Jadi, bisa dibilang kehidupan Katniss dan Peeta ‘membaik’ bukan?

Plot Semakin Intens

Mungkin Katniss tidak berpikir panjang ketika ia mengajak Peeta memakan Nightlock, buah beri mematikan, saat di dalam game. Karena, sejatinya Katniss hanya ingin ia dan Peeta tetap hidup.

Aktingnya yang ‘berpura-pura’ membalas perasaan Peeta menyentuh hampir semua warga Capitol tapi tidak untuk warga distrik, terutama distrik yang benar-benar ‘terjajah’ alias tidak diberi kelonggaran (ini berarti semua distrik kecuali District 1 & 2).

Revolusi dimulai dari api kecil. Jika dibiarkan, api itu akan membesar dan menyebar. Itulah yang Presiden Snow takutkan. Makanya, Snow memerintahkan Katniss untuk meyakinkan seluruh warga Panem kalau aksinya dengan buah beri itu adalah murni atas dasar cinta, bukan karena ia ingin melawan pemerintah.

Warga District Mulai Berani Memberontak

Usaha Katniss dan Peeta untuk ‘mendamaikan warga’ dengan cara terus berpura-pura saling mencintai ternyata tidak terlalu membuahkan hasil. Karena, di beberapa distrik, aksi Katniss dan Peeta yang seolah-olah ingin bunuh diri bersama dengan memakan buah beri beracun (Nightlock) saat permainan The Hunger Games ke-74 lalu merupakan aksi pemberontakan.

Jika Katniss dan Peeta bisa lolos begitu saja setelah melakukan penghinaan dan pemberontakan di siaran langsung televisi yang mana ditonton seluruh orang, apa yang bisa menghentikan warga district untuk melakukan yang sama? ‘

The girl on fire‘, api kecil yang dianggap manis pada film pertama, kini mulai membakar semangat para pemberontak untuk menggulingkan rezim Presiden Snow karena dibiarkan.

Plot Twist untuk The Hunger Games ke-75

Permainan The Hunger Games yang pertama kali Katniss ikuti adalah yang ke-74, maka setahun setelahnya adalah game yang ke-75. Setiap 25 tahun sekali ada segmen spesial yang diberi nama Quarter Quell, yang berarti akan ada yang berbeda dari The Hunger Games tahun ini.

Baru saja merasakan ketenangan sebentar, Katniss, Peeta, dan Haymitch dikejutkan ketika Presiden Snow mengumumkan kalau tribute The Hunger Games Quarter Quell yang ke-3 ini diambil dari nama-nama victor.

Menurut Snow, mandat itu sudah ditulis sejak pertama kali The Hunger Games dibuat, berarti sejak 75 tahun lalu. Akan tetapi, dilihat dari kertasnya yang masih rapi dan bagus untuk ukuran kertas yang sudah disimpan puluhan tahun, rasanya tidak mungkin sekali. Terlihat sangat disengaja, bukan, bahwa peraturan The Hunger Games kali ini dibuat untuk membunuh Katniss?

Pergolakan Katniss untuk Membentuk Aliansi

The Hunger Games ke-75 berbeda dengan permainan yang sudah-sudah, karena kali ini para tribute merupakan victor alias pemenang dari game sebelumnya.

Jika pada game ke-74 Katniss dikumpulkan bersama dengan para ‘anak baru’, kali ini Katniss harus berhadapan dengan orang-orang yang lebih keji, lebih cerdik, dan lebih beruntung karena mereka pernah menjadi pemenang dari game kematian tersebut.

Yang membuat posisi Katniss juga Peeta lebih terancam lagi adalah, semua victor telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun. Karena Katniss dan Peeta merupakan victor terbaru, maka mereka tidak kenal dengan siapapun.

Hal ini membuat posisi mereka berdua menjadi sasaran empuk. Haymitch selaku mentor Katniss dan Peeta mengusulkan agar mereka membentuk ally atau aliansi.

Ada Rahasia yang Tidak Katniss Ketahui!

Wajar Katniss marah, karena ia dibiarkan clueless dan seperti ‘dimanfaatkan’ karena semua ini terjadi tanpa sepengetahuan dan consent Katniss. Aliansi yang Katniss dan Peeta pilih ternyata memiliki rencana sendiri. Mereka tidak hanya ingin memenangkan game, tapi juga melakukan pemberontakan kepada Snow.

Mereka tidak mengatakan ide ini pada Peeta maupun Katniss (terutama Katniss) karena takut rencana ini bocor, soalnya Katniss dan Peeta adalah orang yang paling diperhatikan oleh Presiden Snow saat ini.

Saya cukup takjub bagaimana rencana para pembelot bisa berhasil tanpa dukungan dari pion utama mereka, yaitu Katniss. Tapi, mereka memang diam-diam menyuntikkan psikologi terbalik agar Katniss dan Peeta berlaku mengikuti keinginan mereka.

Seperti Katniss yang menyadari force field di arena, Katniss yang berpisah dengan Peeta di akhir game, dan saya paling ingat kata-kata Finnick pada Katniss.

Remember who the real enemy is.”. Mendengar itu Katniss sadar, kalau musuhnya bukan satu sama lain, bukan distrik antar distrik, melainkan distrik dengan Capitol, dan dengan Presiden Snow. Katniss pun yang tadinya mau menyerang Finnick dengan panahnya, jadi menembakkan panah tersebut ke force field.

Itu membuat arena luluh lantak. Para pemberontak bisa menyelamatkan Katniss, Finnick, dan Beetee. Sayangnya, mereka kehilangan Peeta dan Johanna. Setelah kejadian ini, terjadi uprising (pemberontakan) di tujuh district.

Ending Menggantung yang Bikin Makin Penasaran

Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Game berakhir begitu saja, para pemberontak bisa menyelamatkan beberapa tribute tapi sisanya yang tertinggal ditangkap dan dibawa ke Capitol. Katniss sangat murka pada Haymitch, karena ia telah membuat pria tersebut berjanji untuk menyelamatkan Peeta, karena pada game pertama Haymitch lebih cenderung menyelamatkan dirinya.

Akan tetapi, Haymitch memiliki janji lainnya dengan Peeta, yaitu untuk menyelamatkan Katniss. Dan, ia juga punya rencana yang lebih lagi dari itu semua, yaitu untuk membuat Katniss menjadi ‘face of rebellion‘.

Ketika Katniss sadar beberapa hari kemudian, orang pertama yang ia lihat adalah Gale, sahabatnya. Katniss bertanya, apa mereka ada di Distrik 12? Gale menjawab, sudah tak ada lagi Distrik 12, Capitol menghancurkannya.

Apakah film ini lebih baik dari film pertama? Saya pikir sama saja, karena tiap film memiliki jalan cerita yang sangat berbeda. Tapi, yang jelas sekuel ini membuat saya (dan mungkin penonton lainnya juga) sangat penasaran bagaimana ending-nya. Bagaimana menurutmu tentang film “Catching Fire” ini?

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *