Bangladesh, UNESCO ingatkan pentingnya jaga bahasa ibu dari kepunahan

Untuk peringatan tahun ini, kami ingin mendorong agar pendidikan berbagai jenis bahasa (khususnya bahasa ibu, red) diberikan sejak dini, sehingga anak-anak nantinya dapat menggunakan bahasa ibu mereka sebagai kekuatan

Jakarta (ANTARA) – Bangladesh dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada peringatan “Hari Bahasa Ibu Dunia” kembali mengingatkan negara-negara untuk menjaga bahasa ibu agar tidak punah.

Kedutaan Besar Bangladesh Jakarta lewat keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, menerangkan pesan itu disampaikan oleh Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia, Marsekal Muda Mohammad Mostafizur Rahman, saat membuka acara peringatan “Hari Bahasa Ibu Dunia” Selasa (23/2).

“Hari Bahasa Ibu Dunia” telah diperingati oleh negara-negara tiap 21 Februari sejak 2000 setelah Bangladesh mengusulkan ke UNESCO bahwa bahasa ibu perlu dilindungi dari ancaman kepunahan.

UNESCO menerima usulan itu dan menetapkan 21 Februari sebagai “Hari Bahasa Ibu Dunia” pada 1999.

Baca juga: Kemendikbud peringati Hari Bahasa Ibu Internsional 2014
Baca juga: Hari Bahasa Ibu momentum pengembangan budaya lokal

Dubes Mostafizur Rahman, saat memberi sambutan, menceritakan banyak orang Bangladesh gugur karena memperjuangkan Bangla sebagai bahasa nasional melalui unjuk rasa pada 21 Februari 1952.

Setidaknya, lima orang tewas dan ratusan demonstran luka-luka setelah polisi menembakkan peluru demi membubarkan unjuk rasa.

Mayoritas warga Bangladesh, yang saat itu masih bagian dari Pakistan, keberatan dengan keputusan pemerintah yang pada 1948 menetapkan Bahasa Urdu sebagai satu-satunya bahasa nasional.

Warga Bangladesh, yang dulu dikenal dengan Pakistan Timur, menuntut pemerintah turut mengakui Bahasa Bangla sebagai bahasa nasional.

Otoritas di Pakistan baru menerima tuntutan massa dan mengakui Bahasa Bangla sebagai bahasa nasional pada 1956. Akan tetapi, langkah itu tidak menghentikan keinginan warga Bangladesh untuk memisahkan diri dari Pakistan.

Bangladesh pun memproklamirkan kemerdekaan pada 1971 setelah melewati perang gerilya melawan tentara Pakistan.

Berkaca dari perjuangan rakyat Bangladesh, Dubes Mostafizur Rahman mengajak negara-negara dunia agar memanfaatkan momen “Hari Bahasa Ibu” sebagai momentum melindungi dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahasa ibu di masing-masing daerah.

Dalam sesi seminar yang sama, Prof. Imtiaz Ahmed, ahli hubungan internasional University of Dhaka, menyampaikan aksi massa pada Februari 1952 atau Gerakan Kebahasaan (Language Movement) merupakan bukti bahwa bahasa lebih dari alat berkomunikasi. Menurut dia, gerakan itu menunjukkan bahasa merupakan identitas dan kekuatan yang menjaga persatuan bangsa.

UNESCO menetapkan “Fostering multingualism for inclusion in education and society” sebagai tema utama peringatan “Hari Bahasa Ibu Dunia” 2021. Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay, sebagaimana dikutip dari laman resmi PBB, mengatakan tema itu, yang berarti “melestarikan berbagai jenis bahasa ibu secara inklusif di pendidikan dan masyarakat” mendorong agar bahasa ibu digunakan di sekolah-sekolah dan keseharian.

Azoulay menyebut masih ada 40 persen warga dunia yang tidak dapat mempelajari dan mendalami bahasa ibunya sehingga mereka tidak dapat memiliki akses pengetahuan terhadap warisan budaya di daerahnya.

“Untuk peringatan tahun ini, kami ingin mendorong agar pendidikan berbagai jenis bahasa (khususnya bahasa ibu, red) diberikan sejak dini, sehingga anak-anak nantinya dapat menggunakan bahasa ibu mereka sebagai kekuatan,” kata Azoulay.

Baca juga: Pemenang lomba esai KBRI Beijing punya ibu penggemar lagu Indonesia
Baca juga: Digitalisasi aksara nusantara ikhtiar lestarikan budaya

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *