Sinopsis & Review The Human Centipede 3: Final Sequence

The Human Centipede 3 merupakan film terakhir dari trilogy Human Centipede karya Tom Six. Ceritanya masih berputar di proyek gila menyatukan manusia hingga membentuk kelabang raksasa. Kali ini melibatkan seluruh narapidana di sebuah penjara yang terkenal kerap rusuh.

Sebanyak ratusan orang harus menerima nasib buruk; dihukum sebagai kelabang. Sebagiannya lagi bahkan menjadi human caterpillar dan ditembak mati. Film ini melibatkan dua karakter utama Human Centipede sebelumnya. Seperti apa kegilaan yang ditawarkan sekuel ketiga sekaligus terakhir ini? Baca sinopsis serta review-nya lebih dulu yuk!

Sinopsis

  • Tanggal/Tahun Rilis: 22 Mei 2015
  • Genre: Eksploitasi, Horor, Thriller, Kriminal, Gore
  • Produksi: Six Entertainment Company
  • Sutradara: Tom Six
  • Pemain: Dieter Laser,Laurence R. Harvey, Robert LaSardo, Tommy “Tiny” Lister

Sebuah penjara di negara bagian George W. Bush di Texas, dipenuhi para napi yang kerap membuat masalah. Mereka tidak pernah patuh pada peraturan dan cenderung melawan. Perkelahian antar napi adalah keributan yang hampir terjadi setiap hari. Akibatnya biaya operasional untuk penjara ini, terutama biaya medis menjadi sangat tinggi.

Kerusuhan yang terjadi di penjara ini akhirnya sampai ke telinga gubernur setempat. Sang kepala daerah memberi sebuah ultimatum pada kepala penjara, William “Bill” Boss (Dieter Laser) untuk segera menangani hal ini. 

Hal ini membuat sang kepala penjara bertambah pusing tujuh keliling. Suatu ketika, Gubernur Hughed (Eric Roberts) berkunjung ke penjara dan melihat William sedang menggunakan kekerasan untuk menertibkan napinya. Ketika itu Bill sedang menghukum seorang narapidana yang mengancamnya dengan cara menyiramkan tiga ember air panas.

Kekerasan seperti itu tidak membuat sang gubernur terkesan. Dia memerintahkan Bill dan asistennya, Dwight Butler (Laurence R. Harvey) untuk menghentikan kekerasan di dalam penjara. Bila tidak, keduanya akan diberhentikan sebab dianggap tidak mampu mengelola penjara dengan baik.

Dalam keadaan marah dan bingung, Bill memerintahkan pengebirian masal terhadap para narapidana. Sial bagi salah satu napi, diperankan oleh Robert LaSardo, dia menjadi tahanan pertama yang dikenai hukuman tersebut. Menjijikan, testis yang sudah dipotong, dimasak kemudian dimakan oleh Bill sebagai makanan berenergi.

Sebagai asisten sekaligus akuntan pribadi Bill, Dwight ikut bingung dan memikirkan cara yang tepat untuk menertibkan para napi. Dia kemudian menyarankan sebuah ide gila yang terbersit setelah menonton film The Human Centipede, yaitu membuat kelabang raksasa yang tersusun dari manusia.

Dwight menjelaskan bahwa nanti setiap narapidana berada dalam posisi merangkak dan berbaris. Kemudian mulut napi akan dijahitkan pada anus atau pantat napi yang ada di depannya, begitu seterusnya hingga seluruh napi habis.

Ide gila ini semula ditentang oleh Bill. Namun setelah bermimpi buruk, dia berubah setuju dan langsung menghubungi Tom Six, sang sutradara film The Human Centipede itu sendiri. Bill lantas menjamin bahwa tindakannya tersebut akan 100% akurat secara medis. Tom Six pun menyetujui dengan syarat dia harus menyaksikan operasi medis yang dijanjikan.

Sebelum memulai aksi gilanya, dua orang ini mempertontonkan dua film The Human Centipede kepada para napi dan mengatakan bahwa hal ini yang akan terjadi pada mereka akibat kerusuhan yang selalu dibuat. Terang saja hal ini membuat para napi tidak terima, berontak dan keributan tidak bisa lagi dihindarkan. 

Operasi gila pun dimulai. Bill berkeliling ke tiap lantai dan menembaki para narapidana dengan tembakan bius. Narapidana yang memiliki stoma pada tubuhnya dan cacat, bernasib tak kalah tragis. Mereka dibunuh dengan cara ditembak. Sementara narapidana yang dijatuhi hukuman mati, tubuhnya dipotong-potong guna keperluan khusus.

Tom Six, sang sutradara kembali datang ke penjara. Dia turut menyaksikan bagaimana para narapidana diperlakukan dengan kejam. Setidaknya ada 500 orang narapidana yang ”disusun” dalam proyek mengerikan ini. Setelah operasi selesai, kelabang manusia berhasil dibuat, Gubernur Hughes melihatnya dengan jijik.

Takkalah mengerikan, narapidana dengan hukuman seumur hidup dibuat menjadi “ulat manusia”. Tangan dan kaki mereka dipotong sehingga mereka benar-benar tak berdaya, hanya bisa melata persis caterpillar

Hughes yang semula jijik dengan ide ini, lalu kembali ke penjara dengan perubahan suasana hati. Dia mengatakan bahwa hukuman Human Centipede ini adalah yang sebenarnya dibutuhkan oleh penjara-penjara di Amerika. Senang mendapat pujian, Bill dan Dwight merayakan kesuksesan mereka.

Namun, di akhir film sesuatu yang tidak terduga justru terjadi. Apa yang terjadi dengan Bill dan Dwight? Apakah pujian yang dilontarkan gubernur itu berujung plot twist

Melibatkan Pemain The Human Centipede 1 & 2

The Human Centipede 3 dibuat dengan melibatkan pemain seri sebelumnya, yaitu Dieter Laser danLaurence R. Harvey. Dieter Laser diketahui menjadi pemeran utama untuk seri Human Centipede yang pertama. Di sana dia berperan sebagai Dr. Heiter, seorang dokter ahli bedah yang biasa mengoperasi atau memisahkan anak kembar siam yang salah satu bagian tubuhnya dempet.

Sementara Laurence R. Harvey meninggalkan ingatan mengerikan tentang seorang Martin Lomax. Dia adalah seorang pria dengan gangguan mental yang terobsesi terhadap Human Centipede seri sebelumnya. Tanpa bekal pengetahuan medis dan peralatan yang steril serta memadai, dia nekat menyusun 12 orang menjadi kelabang manusia.

Berlakon sebagai dua psikopat, karakter  mereka dipertemukan dalam seri ketiga film ini. Masing-masing berperan sebagai Bill dan Dwight. Bill diceritakan sebagai kepala penjara yang hobi sekali menghisap cerutu. Dia arogan dan chauvinistic sehingga menganggap orang lain lemah dan hanya golongan dia lah yang kuat. 

Bill beradu akting dengan Laurence R. Harvey. Di sini dia berperan sebagai Dwight, yaitu asisten Bill yang pertama kali menyarankan kegilaan ini. Keterlibatan dua psikopat gila tersebut sebenarnya terasa aneh sebab masing-masing sudah punya image yang kuat sebelumnya. Namun, jika Anda ingin melihat dua karakter gila itu berinteraksi, The Human Centipede 3 adalah jawabannya.

Kedatangan Sang Sutradara

The Human Centipede sepertinya memang dibuat sebagai ajang bersenang-senang bagi Tom Six. Pasalnya dia bertindak sebagai sutradara, produser sekaligus penulis untuk tiga film gilanya ini. Bahkan pada film yang terakhir, dia muncul dalam scene. Dia hadir sebagai dirinya sendiri; sang sutradara.

Tom Six merupakan sutradara asal Belanda kelahiran 1973. Usianya masih sangat muda tapi imajinasinya dipenuhi hal-hal gila. Setelah kontroversial dengan series Human Centipede-nya ini, Six kembali menjadi sutradara untuk film horror psikologis berjudul The Onania Club. 

Mendapat Banyak Kritik

Telah ditunggu-tunggu selama empat tahun oleh penikmat film gore, The Human Centipede 3 dinilai tidak sebagus yang terdahulu. Berdasarkan data di Rotten Tomatoes, ia hanya mendapat rating sebanyak 17% dan 46 ulasan yang rata-rata memberi rating 2,2/10. Beberapa pendapat setuju bahwa film yang seharusnya menjadi “gong” ini justru tidak lebih baik daripada Human Centipede 2.

Membuat kelabang dari 500 manusia adalah sebuah premis yang mengerikan. Namun eksekusinya dinilai buruk. Sebagai film gore, The Human Centipede 3 minim adegan berdarah-darah. Ia tidak sesadis film sebelumnya yang sangat mencekam.

Selain itu, keterlibatan banyak pemain pendukung membuat film ini terasa lebih santai dibanding pendahulunya. Sensasi sangat terteror dan mual dengan sosok Dr. Heiter dan Martin Lomax, sama sekali tidak terasa dalam film terakhir Human Centipede ini.

Tom Six dan ide gilanya menciptakan Human Centipede, bagaimanapun menambah panjang disturbing film yang bisa disaksikan oleh para penyukanya. Kita tidak bisa mendebat jika itu sudah soal selera. Kontroversial yang diterima film-film karyanya dan sempat dilarang tayang di beberapa negara, justru adalah bentuk kesuksesan dari film semacam ini. Setuju? Jadi apakah tertarik untuk mengikuti kegilaan Tom Six selanjutnya?

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *