Sinopsis & Review The Human Centipede 2: Full Sequence

Industri film adalah industri kreatif, industri imajinasi, tempat sesuatu yang tidak mungkin dan tabu bisa terjadi. Persoalannya ada pada berani atau tidak sang sutradara melampaui batasan-batasan yang tidak terlihat tapi dipahami dan diterima bersama tersebut.

Adegan brutal, gila, vulgar, ekstrem hingga meneror psikis para penontonnya merupakan komposisi sebuah film yang akan langsung ditolak banyak pihak. Terbukti, The Human Centipede 2 (Full Sequence) dilarang tayang di beberapa negara, seperti New Zealand, seluruh bagian Britania Raya dan Australia. 

Walau begitu, penikmat genre-genre semacam ini justru semakin penasaran. Terlebih ide film karya Tom Six ini dengan mudah dan sangat berhasil menarik perhatian. Lagi pula siapa yang tidak terkejut dan bereaksi ketika mendengar ada sebuah film yang bercerita tentang seorang psikopat yang “menyusun” manusia hidup menjadi kelabang?

Jika Anda termasuk salah satu yang penasaran, akan lebih baik membaca sinopsis serta review-nya lebih dulu sebelum menonton. Sebagai peringatan, artikel di bawah berisi penggambaran beberapa adegan dalam film secara eksplisit. Sudah siap? Mari simak bersama!

Sinopsis

  • Tanggal/Tahun Rilis: 22 September 2011
  • Genre: Eksploitasi, Horor, Thriller, Kriminal, Hitam Putih, Gore
  • Produksi: Six Entertainment Company
  • Sutradara: Tom Six
  • Pemain: Laurence R. Harvey, Ashlynn Yennie, Maddi Black, Kandace Caine

Di tempat kerjanya, di sebuah loket garasi parkir yang berlokasi di London Timur, Martin Lomax (Laurence R. Harvey) tengah asyik menonton The Human Centipede (First Sequence) dari perangkat laptopnya. Lelaki itu tampak sangat menikmati sebab dia sudah menonton film itu berkali-kali, selayaknya menonton sebuah dokumenter yang dia nikmati.  

Rupanya benar, dia bukan hanya menonton film tersebut sebagai hiburan semata melainkan sekaligus terobsesi. Baginya tokoh utama dalam The Human Centipede (First Sequence) yaitu Dr. Heiter adalah pahlawan. Namun, dia merasa eksperimen sang dokter tidak terlalu berhasil sehingga ingin mencoba menyempurnakannya. 

Martin Lomax mulai mencari tahu bagaimana melakukan hal tersebut. Hanya berbekal DVD film The Human Centipede yang sudah dia tonton lebih dari sekali dan potongan gambar dalam film yang dia kumpulkan, Martin Lomax berencana untuk “menyusun” kelabang manusia versinya sendiri.

Lelaki ini ingin menyusun manusia kelabang yang terdiri atas 12 orang. Martin Lomax yang tidak punya latar belakang medis sama sekali ini, mulai melancarkan aksinya. Berbekal obsesi, Martin menyewa sebuah gudang kotor yang sudah tidak terpakai.

Lelaki gila itu kemudian mulai menculik korbannya satu per satu, termasuk pemeran wanita yang pernah terlibat dalam pembuatan film The Human Centipede (First Sequence), Miss Yennie (Ashlynn Yennie) dan perempuan yang sedang hamil. 

Sesuai rencana, Martin yang brutal dan gila berhasil menculik 12 orang dengan cara yang ekstrem. Para korbannya terdiri atas laki-laki dan perempuan. Satu per satu dari korbannya dibawa ke dalam gudang. Para korban tidak bisa melarikan diri sebab Martin memotong ligamen pada lutut para korbannya. Dia juga merontokkan gigi para korban menggunakan palu.

Tanpa peralatan medis yang steril dan pengetahuan tentang anatomi tubuh manusia, pria psikopat itu mulai menyatukan korban-korbannya membentuk kelabang. Menggunakan staples gun dan lakban, Martin menempelkan bibir korbannya ke tubuh bagian belakang korban lainnya.

Ketika ”menyusun” manusia kelabang ciptaannya, Martin mendapati satu korban bernama Rachel (Katherine Templar), wanita yang tengah hamil, tewas. Martin kemudian menyimpan wanita tersebut di sebuah sudut. Tidak jadi 12, manusia kelabang susunanya hanya terdiri atas 10 orang. Brutal, Martin yang terganggu dengan teriakan Miss Yennie merobek lidah sang aktris menggunakan tang.

Kegilaan orang ini belum berhenti. Sang penjaga parkir melanjutkan aksinya dengan menyuntikkan obat pencahar pada setiap korban. Akibatnya, seluruh korban mengeluarkan isi perut mereka yang otomatis langsung masuk ke dalam mulut korban lain yang tersusun di belakangnya. Melihat kondisi yang di luar akal sehat ini, Martin tertawa puas sebelum akhirnya muntah.

Bertambah gila, Martin memerkosa Kim, korban yang berada di urutan paling belakang dengan keadaan penis yang sudah dibungkus kawat berduri. Selesai dengan itu, Rachel ternyata belum meninggal. Dia berteriak dan melarikan diri. Nahas, wanita ini harus kehilangan bayinya.

Sementara itu susunan manusia kelabang yang sudah dibuat Martin harus rusak sebab seorang korban bernama Dick (Lee Nicholas Harris) merobek wajahnya yang menempel pada pantat korban lain di depannya dengan terpaksa. Melihat hal tersebut, Martin murka.

Dia menembaki semua korbannya, setelah kehabisan amunisi pria itu menggunakan pisau untuk menghabisi korban yang tersisa. Begitu sampai di depan Miss Yennie, Martin berlutut. Kesempatan ini tidak disia-siakan Miss Yennie. Dia meninju kelamin Martin, memasukkan sebuah corong ke dalam rectum lalu memasukkan kelabang peliharaannya.

Dalam keadaan kesakitan, Martin menikam Miss Yennie. Apakah sang aktris dapat selamat? Bagaimana dengan akhir hidup Martin? Film yang banyak ditolak tayang oleh beberapa negara ini memang membuat orang penasaran tapi juga meninggalkan sensasi jijik dan mual. 

Lebih Ekstrem dari Seri Pertama

Jika Anda cukup berselera untuk menonton The Human Centipede (First Sequence) tapi kecewa karena ternyata tidak semenyeramkan itu, The Human Centipede 2 dibuat oleh Tom Six untuk “melunasi”nya. Sang sutradara seolah membeli semua kritikan yang dijual banyak penikmat gore mengenai filmnya.

Dalam pembuatan sekuel film ini, dia menabrak semua norma-norma dalam pembuatan film terutama tentang adegan brutal yang tidak masuk akal. Ketika membuat The Human Centipede yang pertama, sang sutradara masih membuat jalan cerita setidaknya sedikit lebih masuk akal sebab pelakunya adalah seorang dokter.

Setidaknya pula seorang dokter lebih mengerti anatomi tubuh manusia dibanding orang awam. Sang dokter juga diceritakan membius pasiennya lebih dulu sebelum melakukan eksperimennya. “Penyusunan” pun dilakukan menggunakan alat-alat medis yang steril. Bila harus memilih, kegilaan yang dilakukan Dr. Heiter masih jauh manusiawi dibanding yang dilakukan Martin.

Pasalnya, Martin sama sekali tidak memahami anatomi tubuh manusia. Dia menggunakan alat-alat tidak masuk akal untuk membuat manusia kelabang. Selain itu, pria ini juga menyusun lebih banyak korban daripada Dr. Heiter. Kegilaan yang dilakukannya benar-benar hanya berdasarkan obsesi. Sesuatu yang dilakukan karena obsesi, rasanya tidak mengenal batas. Sutradara berhasil memperlihatkan hal tersebut.

Martin Lomax yang Meneror

Membicarakan film fenomenal seperti The Human Centipede 2, mari kita sedikit menarik hal ini pada suatu pemahaman mengenai karakter manusia. Siapa lagi jika bukan Martin Lomax, sang jagal yang seperti hilang akal. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana latar belakang kehidupan Martin Lomax hingga dia tumbuh jadi seorang yang gila.

Karakter Martin Lomax “dibentuk” dari hal-hal buruk yang bisa menimpa seorang manusia. Dia pernah mengalami pelecehan seksual oleh ayahnya sendiri ketika masih kecil hingga sang ayah dipenjara. Alih-alih mendapat perlindungan dari sang ibu, Martin justru disalahkan atas kejadian ini.

Sang ibu yang sudah tua dan terlihat tidak punya harapan untuk hidup lebih lama, hampir tiap malam berniat membunuh Martin. Merasa tertekan, Martin mendatangi dan meminta pertolongan seorang psikiater. Lagi-lagi, bukannya dibantu, Martin kembali mengalami pelecehan seksual.

Semua hal buruk yang terjadi, semakin lengkap dengan kondisi tubuhnya yang kerdil, obesitas, cacat secara mental dan menderita asma. Hiburan satu-satunya bagi Martin adalah menonton The Human Centipede berulang kali, sesekali sambil bermasturbasi.

Pada salah satu adegan ketika dia berhasil menciptakan manusia kelabang versinya, Martin tertawa puas. Baginya hal mengerikan semacam itu adalah hiburan, pelarian dari kekecewaan bertumpuk yang sudah dialami sepanjang hidupnya. Sang sutradara rasanya cukup berhasil mengembangkan karakter Martin hingga menjadi seorang psikopat.

Siapkan Mental Jika Ingin Menonton

Film-film penuh darah dan adegan kekerasan selama ini sudah banyak diproduksi. Pada dasarnya film bergenre semacam ini memang bukan untuk ditonton semua orang. Ia diciptakan khusus bagi para pecinta gore yang bisa menerima adegan demi adegan sadis hanya sebagai sebuah adegan dalam film. 

Namun, jika penasaran dengan jalan cerita dan kesadisannya, siapkan saja mental Anda. Akan lebih baik untuk mengajak beberapa teman untuk menonton bersama sebab adegan demi adegan sadis dalam film ini bisa membekas hingga berhari-hari.

Sensasi mual, jijik, akan terus terasa bahkan setelah film selesai diputar. Bukan tidak mungkin Anda juga akan merasa terteror dan sangat tidak nyaman hanya dengan melihat mata Martin Lomax. Berani?

Bagaimanapun, The Human Centipede 2 ibarat sayur atau lauk yang tersaji di sebuah warung Tegal. Jika Anda suka, ambil lalu makan, jika tidak pilih lauk yang lain. Jika ia terasa sangat pedas, ganti dengan menu lain yang pedasnya masih bisa diterima oleh lidah Anda. Jadi, apakah tertarik dan penasaran untuk mencoba rasa dan sensasinya? 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *