6 Investasi yang Sering Dilupakan Banyak Orang

Akhir-akhir ini, kata “investasi” wabil khusus investasi saham, marak didengungkan banyak orang. Tentu itu hal yang baik. Menyiapkan segala hal untuk sesuatu yang kelak kita tahu akan dibutuhkan adalah ciri manusia bernalar. Setiap orang semestinya tahu bahwa ada saat kita tak kuat lagi bekerja, otak kita melemah, pensiun dari pekerjaan, sakit yang tak terduga, dll. Maka dari itu, tabungan dan investasi yang kita kerjakan di saat semua masih optimal sesungguhnya adalah naluri purba. Kalau dilacak dari tahapan kebudayaan manusia, itulah yang membuat peradaban berburu dan meramu melangkah setapak lebih maju lagi menjadi peradaban menanam dan memanen. Berproduksi. Menjangkau sesuatu ke depan dengan sebuah persiapan.

Saya bukan ahli ekonomi, bukan seorang perencana keuangan, tapi saya adalah makhluk ekonomi sekaligus makhluk sosial. Menurut saya, ada beberapa investasi yang juga perlu dikerjakan manusia, selain lazimnya investasi.

Pertama, nama baik. Nama baik tidak turun dari langit. Ia ditanam, dirawat, dan ditumbuhkan. Nama baik membentengi kita dari keburukan yang paling mengancam, yakni ketidakpercayaan orang pada diri kita. Tentu ini bukan nama baik yang dipoles dan dipermak. Sebagus-bagusnya nama baik itu disemprot minyak wangi, dipoles hingga mengilap, dipermak hingga tampak indah, pada akhirnya waktu akan menunjukkan siapa dia sesungguhnya. Mudahnya, nama baik itu ditumbuhkan dengan perbuatan baik. Jika berjanji, dia menepati. Jika berkata, dia tidak berbohong. Jika diberi amanah, dia tidak khianat. Lalu bisa ditambah dengan sederet hal lain seperti peduli pada orang lain, suka membantu, bersikap ramah, tidak mudah curiga, dan lain sebagainya. Nama baik dipercaya mendatangkan kebaikan dan kepercayaan. Dua modal yang paling penting dalam menjalani kehidupan.

Baca juga:  Dunia Buku, Kopi, dan Jokowi

Kedua, daya dukung sosial. Kita tidak bisa hidup sendirian. Di rumah, kita punya lingkungan sosial bernama tetangga, kampung, desa, dan seterusnya. Di dunia pekerjaan, kita punya teman-teman sekantor. Punya anak buah. Punya atasan. Di pergaulan bisnis, kita punya kolega bisnis, stakeholder bisnis, ekosistem bisnis. Semua hal itu bukan bersifat natural. Lingkungan rumah yang baik bisa kita bangun bersama. Lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan bisa kita upayakan bersama. Anda bisa saja menjaga kebersihan rumah Anda, tapi jika tetangga Anda tidak menjaganya, penyakit bisa mendatangi bukan hanya rumah yang tak terjaga kebersihannya, melainkan juga rumah yang Anda jaga kebersihannya. Nyamuk yang bertelur di rumah tetangga Anda, bisa menggigit anggota keluarga Anda. Tikus yang banyak berkeliaran di rumah tetangga Anda yang jorok dan kotor, bisa membawa penyakit dan gangguan ke dalam rumah Anda. Sampah menggunung dan menyengat di rumah tetangga Anda, bisa mengganggu Anda dan keluarga.

Demikian juga situasi di kantor. Semua orang punya persoalan sendiri-sendiri. Kantor adalah sebuah lembaga kerja yang terkait satu sama lain. Satu orang tak punya menjalankan tugas dengan optimal maka pasti akan mengganggu organisasi kerja secara keseluruhan. Organisasi sama seperti organ tubuh kita (akar katanya sama kok). Kalau Anda sedang sakit gigi, tidak bisa berpikir jernih. Kalau kaki Anda terkilir, bisa mengganggu mobilitas Anda. Satu organ tubuh memengaruhi keseluruhan organ tubuh. Hal yang sama dalam bisnis dan ekosistem bisnis. Satu hal kacau, menimbulkan situasi yang kacau juga.

Baca juga:  Kebenaran Gerakan Ganti Presiden Indonesia Menurut Tagar #2019GantiPresiden

Ketiga, keluarga. Tentu ini hal yang paling mudah dipahami. Hubungan antar-anggota keluarga, pola komunikasi, dan saling mengisi, jelas diperlukan. Dan itu semua juga tidak datang tiba-tiba. Ada secara magis. Butuh diusahakan dan kadang kala diusahakan dengan ketekunan. Dukungan keluarga yang penuh, biasanya akan berpengaruh pada banyak hal di diri kita. Sebaliknya, kekacauan segala hal bisa bermula dari kekacauan di dalam keluarga.

Keempat, karya. Banyak orang lupa bahwa berkarya adalah investasi yang sangat penting. Seorang perupa yang suntuk dengan proses kekaryaan sampai melakukan pameran adalah sebuah investasi. Seorang penulis yang menghasilkan tulisan dan buku, juga bagian dari investasi yang penting. Tapi itu bukan hanya untuk seniman, para pekerja juga begitu. Sebutan “karyawan” memang agak ambigu untuk para pekerja alias buruh. Itu bisa kita baca sebagai penghalusan kata saja. Tapi hemat saya, tak ada yang keliru jika bekerja dianggap sebagai karya. Menjalankan proses organisasi tempat kita bekerja sesungguhnya adalah proses berkarya itu sendiri. Sebab bagi saya, karya tak harus berwujud secara kasatmata. Pemimpin yang membuat sistem kerja yang baik adalah sebuah karya. Pekerja yang menjalankan, membenahi, membuat dinamika kerja, adalah sebuah proses berkarya.

Kelima, kesehatan. Khusus untuk poin ini, segala hal yang mencakup kesehatan seperti kesehatan fisik, mental, dan spiritual adalah investasi yang penting. Waktu yang kita luangkan untuk berolahraga atau menjaga kebugaran; waktu tidur yang cukup; ada waktu untuk menikmati hiburan; melakukan kegiatan ibadah; semua adalah bagian dari investasi. Dengan begitu, kita tidak mudah sakit, tidak mudah stres dan depresi, serta punya tujuan penting dalam hidup ini yang dijadikan agenda dalam laku spiritual.

Baca juga:  Menualah seperti Tok Dalang, Lansia Ceria yang Tak Pernah Kesepian  

Keenam. Sebetulnya hanya cukup lima poin di atas. Tapi ada satu lagi menurut saya yang penting, yaitu hobi. Anda boleh saja membantah, hobi kok investasi? Bagi saya, iya. Dengan melakukan hobi, kita bisa tenggelam sejenak dalam berbagai situasi yang membuat kita rileks, senang, dan kreatif. Memang banyak orang bilang, hobi yang baik adalah hobi yang mendatangkan keuntungan finansial. Tapi bagi saya sih tidak selalu begitu. Tak selalu apa-apa berakhir dan bermuara pada uang. Hobi memelihara tumbuhan, tidak harus kemudian jadi bisnis tumbuhan. Memelihara tumbuhan itu sendiri, asal mendatangkan kesenangan, antusiasme, pelepasan stres, itu sudah investasi yang luar biasa. Hobi menikmati udara bebas, tidak harus berakhir dengan harus dibikin vlog dan bisa dimonetisasi. Nanti malah sibuk mikir vlog dan monetisasinya sehingga hal substansial dari menikmati udara bebas di alam malah tereduksi. Bisa-bisa yang terjadi justru sebaliknya. Dulu ketika tidak mikir vlog dan monetisasi, setiap jalan-jalan ke alam terbuka bisa membuat energi kita tersuntik lagi. Begitu mikir vlog malah terbebani dan stres. Hobi ya dinikmati saja.

Eh, tapi ngomong-ngomong, kok saya mulai terlihat sebagai seorang motivator ya? Haha. Tapi semoga tulisan ini berguna.

BACA JUGA Dear mahasiswa, Investasi Tuh Kayak Makan Pecel Padahal Bisa Lunch Mewah dan esai-esai Puthut EA lainnya di rubrik Kepala Suku.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *