Sinopsis dan Review Film Netflix Malcolm & Marie (2021)

Ikatan cinta seorang sutradara film dan kekasihnya diuji  setelah mereka pulang ke rumah dari penayangan perdana filmnya dan menunggu ulasan dari kritikus. Malcolm & Marie adalah original film Netflix yang hanya dibintangi oleh John David Washington dan Zendaya yang diarahkan oleh Sam Levinson dimana mereka bertiga juga bertindak sebagai produser film yang dirilis pada 5 Februari 2021 ini.

Film ini menjadi film Hollywood pertama yang ditulis dan diproduksi saat pandemi COVID-19 melanda Amerika. Bahkan lokasi syutingnya pun dirahasiakan selama proses produksi sehingga tidak menimbulkan banyak pemberitaan. Tapi kemudian diketahui jika film ini melakukan syuting di kawasan pantai California, Carmel-by-the-Sea.

Film ini ditampilkan dalam presentasi tanpa warna alias hitam-putih yang langsung menciptakan nuansa kelam dan suram. Bagaimana performa film sederhana ini? Simak review kami berikut ini.

Sinopsis

  • Tahun: 2021
  • Genre: Drama, Romance
  • Produksi: Little Lamb, The Reasonable Bunch
  • Sutradara: Sam Levinson
  • Pemeran: John David Washington, Zendaya

Malcolm, seorang sutradara film, baru saja pulang dari penayangan perdana film terbarunya bersama kekasihnya, Marie. Saat dia berdansa sendiri, Marie membuatkannya makanan. Malcolm melihat ada raut kemarahan di wajah Marie, tapi Marie mencoba menyembunyikannya dan ingin membahasnya di keesokan hari saja.

Tapi Malcolm bersikeras ingin tahu, lalu Marie meluapkan kekecewaannya selama acara yang baru saja mereka hadiri, terutama karena Malcolm tidak menyebutkan nama Marie dalam ucapan “terima kasih”-nya saat berada di podium. Marie merasa kesuksesan film itu berdasarkan kisah hidupnya yang dituangkan ke dalam naskah dan film oleh Malcolm.

Tapi Malcolm menampiknya dengan tidak kalah keras pula. Dia membuka semua pengalaman masa lalunya dengan beberapa wanita yang bagian cerita bersama mereka menjadi inspirasi karakter utama filmnya. Perdebatan semakin melebar dengan emosi yang semakin memuncak. Tetapi tensi kemudian menjadi turun setelah Malcolm membaca ulasan tentang filmnya dari seorang kritikus.

Marie memberikan motivasi selagi Malcolm marah-marah tidak karuan ketika membaca ulasan itu dan mencaci-maki penulisnya yang dianggapnya tidak tahu-menahu tentang dunia sinema yang sangat dikuasainya. Padahal ulasan itu bernada positif. Suasana romantis kembali tercipta seiring obrolan positif di antara mereka berdua. Bahkan mereka tertawa bersama.

Tetapi itu tidak lama. Sesaat kemudian Marie meluapkan rasa kecewa lainnya, yaitu perihal kenapa Malcolm tidak memilihnya sebagai aktris utama film itu. Mereka memiliki argumentasi masing-masing yang kuat yang membuat perdebatan kembali panas bahkan mereka saling berteriak dan meninggikan suara. Lalu Marie mengambil pisau di dapur dan mulai bertingkah aneh, sepeti psikopat.

Tentu saja Malcolm kaget dan tegang ketika Marie berceloteh tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh Malcolm selama ini tentang dirinya. Disaat Malcolm semakin ketakutan, Marie menyudahi tingkahnya yang ternyata adalah akting belaka untuk menunjukkan kemampuan aktingnya. Malcolm kemudian meminta maaf dan mencurahkan isi hatinya. Dan emosi mereda saat mereka menerima satu sama lain.

Sederhana tapi Sarat Makna

Sederhana tapi Sarat Makna

Malcolm & Marie adalah film yang sederhana. Sesuai judulnya, pemerannya hanya dua orang saja dimana mereka berdua mendapat porsi waktu yang setara untuk menampilkan performa akting mereka. Lokasinya pun hanya di satu tempat saja yaitu di sebuah rumah mewah berinterior modern dengan pekarangan yang luas. Seting waktunya juga sesuai dengan durasi film.

Meski terkesan minimalis, tapi film seperti ini membutuhkan kekuatan naskah dan akting yang kuat dari para bintangnya. Dan untungnya, John David Washington dan Zendaya berhasil tampil dalam kualitas yang baik. Untuk naskahnya sendiri, di 30 menit awal kita akan dibuat sangat terikat dengan apa yang mereka luapkan lewat perdebatan yang sangat cepat dan keras.

Tapi sayangnya, masalah yang diutarakan sebenarnya tidak beranjak dari situ, hanya berputar dan melebar untuk kembali ke topik di awal. Padahal kita tentunya mengharapkan klimaks emosi di antara mereka berada pada topik yang belum diungkapkan yang membuat titik didih perdebatan berada pada batas maksimal. Tapi ternyata bukan begitu yang terjadi.

Penuh dengan Monolog

Penuh dengan Monolog

Film yang diisi hanya oleh dua pemeran saja mengingatkan kita dengan trilogi Before dengan Ethan Hawke dan Julie Delpy. Mau tidak mau, Malcolm & Marie, meski berbeda tema, pasti akan dibandingkan dengan ketiga film tersebut. Seting cerita seperti ini membutuhkan banyak hal untuk dijadikan bahan obrolan dan dialog sepanjang durasi film, ditambah dengan topik utama antara mereka tentunya.

Karena film ini menceritakan ungkapan rasa kecewa, maka dialog yang dimunculkan pun lebih banyak bernada penuh emosi. Perasaan tidak nyaman dan kerapuhan Marie ditimpali dengan sikap egois dan narsis dari Malcolm. Dengan sifat yang dimiliki keduanya ini, sudah pasti akan menghadirkan masalah panjang yang tidak akan berakhir jika tidak ada dari salah satunya yang mengalah.

Meski terkesan rapuh, justru di sepanjang film Marie berhasil membuat Malcolm diam berkali-kali, tapi kemudian Malcolm bisa membalasnya hanya untuk dibuat diam lagi oleh Marie. Sifat narsis dan egois Malcolm yang tampil saat di acara dengan tidak mengucapkan “terima kasih”-nya untuk Marie membuatnya selalu bisa membalas, meski beberapa kali dalam kalimat yang tidak masuk akal.

Kalimat itu kemudian dikutip oleh Marie dan dijadikan senjata untuk dihujamkan kembali ke Malcolm, seperti dimana Malcolm menceritakan wanita-wanita yang pernah mengisi hidupnya sebelum Marie yang beberapa bagian dari mereka menjadi inspirasi karakter utama filmnya yang sebelumnya diakui oleh Marie bahwa karakter itu hanya berdasarkan dari sosoknya saja.

Potongan kalimat itu kemudian dibalikkan lagi ke Malcolm yang dianggapnya justru lebih insecure dibandingkan dirinya yang kemudian membuat Malcolm terdiam seribu bahasa. Paling tidak tensi turun-naik seperti ini terjadi lima kali. Mayoritas kalimat itu diucapkan secara monolog yang sudah pasti akan sangat panjang dan sulit dicerna oleh kita sebagai penonton umum.

Kita hanya bisa menangkap inti kalimatnya saja, itu pun dibantu dengan penggunaan bahasa tubuh dan ekspresi yang baik dari kedua pemerannya, sehingga kita tidak kehilangan aura emosi yang ada pada keduanya. Film seperti ini memang tidak bisa dinikmati oleh semua penonton, hanya yang sabar dan memang tahan dengan muntahan dialog yang meluber dari para karakternya saja yang akan bertahan.

Chemistry yang Padu antara Washington dan Zendaya

Chemistry yang Padu antara Washington dan Zendaya

Cenderung membosankan, film ini tidak akan selamat jika bukan karena Washington dan Zendaya. Mereka berdua mampu menghidupkan karakter masing-masing dan menampilkan chemistry yang padu sehingga membuat kita terikat dalam cerita yang penuh emosi, amarah, rasa kecewa, ego yang tinggi dan air mata ini. Mereka bisa membuat kita ikut merasakannya juga.

Zendaya tampil sedikit lebih baik dimana dia bisa membuat kita merasakan apa yang ada di dalam pikiran Marie saat berbicara bahkan juga dalam diamnya. Penekanan intonasi suaranya saat melontarkan kalimat terasa natural, baik pada saat emosi tinggi atau di saat menahan emosinya agar tidak meledak. Dan Washington bisa mengimbanginya dengan mempertahankan keegoisan dan sifat narsisnya.

Adegan yang paling mengejutkan adalah ketika Marie mengambil pisau dan bertingkah seperti orang gila. Tidak hanya Malcolm, bahkan kita pun akan dibuat tegang dan sangat merasa cemas, seolah-olah inilah akhir dari film ini yang akan berakhir tragis. Tapi ternyata itu semua hanya akting saja, dan disitulah kualitas Zendaya terbukti.

Pada akhirnya, Malcolm & Marie adalah sebuah drama romantis yang penuh luapan emosi dan amarah dengan perdebatan panjang yang saling menjatuhkan dengan argumentasi masing-masing. Tidak biasa untuk penonton umum, tapi memiliki kualitas akting yang sangat baik di atas kelemahan naskah setelah setengah film berjalan.

Film ini tampil layaknya pentas teater. Bagi yang tidak biasa atau belum pernah menontonnya, film ini tentunya akan sangat melelahkan, akan menguras otak dan pikiran kita juga karena mencoba mengerti apa yang mereka bicarakan dengan segala referensi film yang kita kurang tahu. Tapi bagi yang menyukai film drama bertensi tinggi, maka film ini patut dicoba.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *