Filsafat Telor

Telor dalam jagat kuliner di Indonesia menempati posisi paling unik dan berkarakter. Jika tempe dan kerupuk sering dilekatkan—sekalipun secara gegabah—pada persoalan mental, telor langsung menduduki posisi puncak karena sering digunakan dalam berbagai pertanyaan filosofis-retoris macam: Lebih dulu mana ayam sama telor?

Orang boleh saja menyanggah, posisi telor kalah dengan ayam. Tapi prakteknya tidak demikian. Telor jelas banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dibanding ayam. Dan ayam tak pernah sanggup memposisikan dirinya dalam situasi genting sebagaimana peribahasa: ibarat telor di ujung tanduk. Sudahlah, harus diakui, posisi ayam di depan telor selesai dengan hasil pasti bahwa ayam kalah telak.

Dari sisi praksis gerakan sosial kuliner, posisi telor sudah pasti sangat strategis. Ia bergizi, tapi mudah diolah. Dibikin telor dadar, dalam kondisi yang sangat terbatas, cukup dikasih garam. Waktu masaknya pun hanya singkat, kurang dari 2 menit saja. Telor juga bisa diceplok. Siapa sih yang tidak suka telor matasapi? Ya, persis. Tentu orang yang tak suka telor matasapi. Tapi survei membuktikan, itu hanya 1 banding 10. Survei dari mana? Ssshhh, tidak semua hal harus Anda ketahui, bukan?

Telor juga bisa menjadi bahan kuliner rekreatif. Bagi Anda penyuka hal-hal rekreatif tentu tidak asing lagi dengan bahan jamur tlethong sapi alias jamur tai sapi. Bagi sebagian kecil orang biasanya disup. Tapi itu kecil banget. Yang paling mudah dan disukai banyak orang, cukup diolah dengan telor, dijadikan jamur telor dadar. Jos gandos!

Menariknya, dari sisi keagamaan, Islam misalnya, punya kaidah fiqih yang menarik soal telor. Seluruh hal yang berwujud telor ternyata halal. Tentu dengan beberapa syarat dan ada khilaf di antara para ulama. Kalau Anda kurang yakin, silakan tanya kepada orang alim terdekat Anda. Maklum, saya hanya lulusan ngaji madrasah. Semoga ingatan saya tidak salah.

Sekarang mari masuk dalam inti pembahasan telor. Telor ini identik dengan sistem kepemimpinan yang pernah dijabarkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang juga merupakan filsafat pendidikan khas Nusantara. Semoga Anda masih ingat: Ing ngarso sung tuladha; Ing madya mangun karsa; Tut wuri handayani. Kira-kira terjemahan bebasnya begini….

Ing ngarsa sung tuladha
Seorang pemimpin/pendidik jika di posisi depan, haruslah memberi contoh yang baik.

Ing madya mangun karsa
Seorang pemimpin/pendidik jika di posisi tengah, maka harus pintar melakukan manajemen kehendak atau menjaga gairah publik/murid dalam mencapai kebaikan bersama.

Tut wuri handayani
Jika seorang pemimpin/pendidik di posisi belakang, mesti bisa dipimpin dan bisa mendorong dari belakang demi kemaslahatan.

Apa hubungannya dengan telor? Begini…. Telor itu bisa jadi menu utama ketika disajikan di atas meja. Ia bisa diceplok atau didadar, atau apalah. Tak ada lauk lain. Cukup didampingi sambal atau kecap. Namun ketika itu terjadi, telor bisa tampil sebagai lauk utama yang optimal.

Posisi telor juga bisa di tengah alias jadi makanan pendamping. Misalnya di berbagai varian soto, membutuhkan telor. Baik berupa telor yang diiris separuh atau sate telor burung puyuh. Telor asin pun bisa jadi makanan pendamping yang cocok untuk seporsi rawon yang lezat.

Dalam posisi di belakang, telor yang diolah menjadi kue manis, pun bisa menjadi hidangan penutup yang menenteramkan hati. 

Saking hebatnya telor, bahkan banyak menu atau hidangan yang membutuhkannya. Soal kue butuh telor, ah sudahlah. Itu sudah banyak yang tahu. Telor juga menarik dijadikan pelapis untuk bandeng goreng, campuran perkedel, perekat dan pelapis teri nasi, bahkan bakwan jagung akan lebih memikat lidah jika dicampur telor. Makan mi instan tanpa telor, duh… ibarat pergi keluar rumah di saat pandemi tanpa masker. 

Sebagai penutup, kita tahu bahwa sebagian selera orang terbelah dalam soal telor. Ada orang yang suka telor dadar, di sisi lain ada barisan garis keras orang suka telor ceplok. Selain itu, ada banyak orang suka putih telor, dan ada sebagian lagi yang suka kuning telor. Tapi perbedaan itu tak membuat orang ribut sebagaimana perbedaan antara orang yang suka bubur diaduk sebelum makan dan yang tidak diaduk. Ribut melulu nggak jelas. Penyuka telor terbelah tapi tetap damai. 

Namun pencinta telor juga manusia biasa yang bisa marah besar. Kalau tidak percaya, ketika kamu makan bersama orang yang suka bagian telor yang kuning, biasanya mereka menyisakan sebagian di akhir. Untuk gong penutup. Saat mereka mau mengemploknya, coba ambil dan makan. Niscaya segala hal sangat mungkin menimpa Anda.

Tidak percaya, silakan buktikan….

BACA JUGA 5 Cara Masak Telur Paling Bener dan ‘Ndog’ Paling Enak Sedunia dan esai-esai Puthut EA lainnya di rubrik Kepala Suku

Baca juga:  Letak Kita dalam Masalah Corona

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *