Merawat Bapak Mertua, Melihat Bapak Bekerja

MOJOK.COBersama bapak merawat bapak mertua.

Rumah saya yang biasanya sepi kini menjadi meriah. Sudah beberapa hari terakhir ini bapak saya tinggal di Jogja. Ia ikut menemani saya, istri, dan ibu mertua saya merawat bapak mertua saya yang beberapa hari yang lalu tumbang karena stroke dan harus dirawat di Jogja.

Saya tak tahu seberapa gawat stroke yang diderita oleh bapak mertua saya, yang jelas, di hari pertama ia masuk ke rumah sakit, ia benar-benar tak bisa apa-apa. Jangankan untuk bergerak, sekadar ngomong pun tak sanggup.

Puji Tuhan, dokter yang menangani bapak mertua saya berikut fasilitas rumah sakit tempat ia dirawat tampaknya sangat mendukung kesembuhan bapak mertua saya.

Nama dokter yang merawat bapak saya adalah Pinzon. Nama yang bahkan dengan mengucapkannya saja saya sudah merasa sangat yakin bahwa ia bukanlah dokter sembarangan.

Beberapa hari sejak dirawat, ada banyak kemajuan yang didapatkan. Kacek. Dari yang blas nggak bisa apa-apa, sampai akhirnya bisa menggerakkan tangan dan kaki serta bisa bicara. Walau tentu saja masih dengan kata-kata yang sederhana.

Selama di rumah sakit itu, bapak mertua saya ditemani secara bergantian oleh saya, istri saya, ibu mertua saya, dan juga bapak saya.

Bapak saya memang saya minta untuk ikut merawat bapak mertua saya. Maklum, bapak mertua saya ukuran tubuhnya sangat besar, sehingga saya yang kecil ini sering tak sanggup kalau harus mengangkat atau memapah bapak mertua saya.

Baca juga:  Hakim Nggak Percaya Nunung Depresi Hanya karena Ia Tampil Cengengesan

Ketika ia saya kabari bahwa bapak mertua saya dirawat di rumah sakit, ia langsung meluncur ke Jogja. Ia datang dengan tas ransel besar berisi selimut, baju ganti, dan aneka peralatan mandi. Jaket yang ia pakai saat itu sangat tebal dengan ornamen bulu-bulu di bagian lehernya, sehingga mengingatkan saya pada penduduk suku air di serial Avatar itu.

Bapak saya adalah sosok yang sangat cekatan. Ia sangat telaten merawat bapak mertua saya. Saya bahkan harus mengakui, bahwa ketelatenan saya dalam urusan merawat bapak mertua saya kalah jauh bila dibandingkan dengan ketelatenan bapak saya. Kalau saja gurat usia tidak tampak pada wajah bapak saya, niscaya bapak mertua saya pasti bakal mengira bahwa besannya itu adalah menantunya.

Setelah seminggu dirawat, dokter mengizinkan bapak mertua saya untuk rawat jalan di rumah sambil menjalani terapi.

Setelah bapak mertua saya dirawat jalan, bapak saya masih cukup setia menemani besannya itu. Ia ikut tinggal beberapa hari di rumah kontrakan saya untuk membantu apa saja yang ia bantu.

Sejak ikut tinggal di rumah, bapak saya sudah sejak dini melakukan kerja-kerja penjelajahan dan pemetaan wilayah.

Pagi-pagi sebelum saya bangun, ia sudah jalan-jalan keliling daerah sekitar rumah untuk mengetahui di mana kantong-kantong strategis yang mungkin kelak bakal ia datangi. Salah dua yang harus ia petakan adalah toko bangunan dan toko alat-alat listrik terdekat.

Baca juga:  Dari Perkara Lagu “Sunset di Tanah Anarki”, Memangnya Kita Nggak Boleh Cover Lagu, ya?

Kelak, kerja-kerja pemetaan yang ia lakukan toh ternyata berguna di kemudian hari. Berbekal pengetahuan penguasaan wilayah strategis yang ia dapatkan selama jalan-jalan pagi itu, bapak saya melakukan banyak hal untuk merombak rumah saya.

Dengan pengetahuan listrik jaringan sederhana yang ia kuasai saat masih duduk di bangku SMP itu, bapak merombak tata lampu dan kabel di rumah saya. Kabel-kabel yang berantakan ia kepras dan ia rapikan sehingga menjadi tidak berseliweran.

Ia memangkas jalur listrik dan menambahkan beberapa saklar sehingga memudahkan saya untuk menyalakan lampu-lampu yang dipasang terpisah cukup dengan satu saklar saja.

Bapak saya juga memasang lampu hias di gudang belakang rumah saya. Ia tampaknya tahu betul bahwa saya sering bekerja di gudang sehingga ia berinisiatif mengubah gudang rumah saya selayaknya cafe-cafe kontemporer itu.

Saya tadinya tak terlalu suka bapak saya merombak rumah saya dan mengotak-atiknya. Namun setelah saya melihat hasilnya, ternyata oke juga.

Nah, manuver yang paling luar biasa dari bapak saya tentu saja adalah membikin jemuran. Hal itu ia lakukan karena jemuran portable yang saya beli ternyata tidak cukup untuk menampung baju-baju cucian utamanya setelah bapak, bapak mertua, dan ibu mertua saya ikut tinggal di rumah.

Ia membeli kayu usuk dan kawat-kawat yang ia gunakan sebagai gantungan jemuran itu dari toko kayu tak jauh dari rumah.

Baca juga:  Review Menstrual Cup: Niat Ramah Lingkungan yang Terhalang Masalah Cocok-cocokan

“Jogja ngeri, ya, Gus,” kata bapak.

“Ngeri gimana, Pak?”

“Lha ini, bayangkan, aku beli kayu usuk buat jemuran, kayu usuk begini harganya 22 ribu.”

“Loh, murah ya.”

“Murah ndasmu, kayu kayak begini di Randu Mas cuma 15 ribu.”

Saya tentu saja tertawa. Tertawa karena lama sekali saya tak mendapatkan umpatan “ndasmu” dari bapak saya yang biasa ia lontarkan kepada saya sebelum saya menikah. Dan kini, saya kembali mendengarkan umpatan itu. Ada semacam setitik rindu yang tertunaikan dalam umpatan “ndasmu” itu.

Saya mengamati dengan seksama bagaimana ia menggergaji kayu dengan tangan kirinya itu. Benar-benar si kidal yang terampil. Sambil melihatnya merangkai kayu dan kawat, hati kecil saya berharap agar ia melontarkan kata “ndasmu” lagi.

Sungguh, bersama bapak, bahkan umpatan “ndasmu” bisa terdengar sangat menenangkan hati.

BACA JUGA Menghadapi Calon Mertua yang Sangat Menginginkan Menantu PNS dan tulisan Agus Mulyadi lainnya.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *