Bos BI Geram Lambatnya Penurunan Bunga Kredit Perbankan

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo geram lambatnya penurunan suku bunga kredit perbankan. Padahal, sepanjang 2020 bank sentral telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin (bps) hingga ke level 3,75 persen.
 
“Penurunan suku bunga kebijakan moneter dan longgarnya likuiditas mendorong suku bunga terus menurun, meskipun penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong,” ujar Perry dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan BI secara virtual, Kamis, 18 Februari 2021.
 
Menurut dia, longgarnya likuiditas dan penurunan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebanyak 125 bps sepanjang 2020 mendorong rendahnya rata-rata suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight sebesar 3,04 persen. Suku bunga deposito satu bulan juga telah turun sebesar 181 bps ke level 4,27 persen pada Desember 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun demikian, sebut Perry, penurunan suku bunga kredit masih cenderung terbatas, yaitu hanya sebesar 83 bps ke level 9,70 persen selama 2020. Lambatnya penurunan suku bunga kredit disebabkan oleh masih tingginya Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan.
 
“Selama 2020, di tengah penurunan suku bunga kebijakan BI 7 Days Reverse Repo Rate dan deposito satu bulan, SBDK perbankan baru turun sebesar 75 bps menjadi 10,11 persen,” jelasnya.
 
Hal ini menyebabkan tingginya spread SBDK dengan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate dan deposito satu bulan masing-masing sebesar 6,36 persen dan 5,84 persen.
 
Dari sisi kelompok bank, SBDK tertinggi tercatat pada bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 10,79 persen, diikuti Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar 9,80 persen, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) sebesar 9,67 persen, serta Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) 6,17 persen.
 
Dari sisi jenis kredit, SBDK kredit mikro 13,75 persen, kredit konsumsi non-KPR (Kredit Pemilikan Rumah) 10,85 persen, kredit konsumsi KPR 9,70 persen, kredit ritel 9,68 persen, dan kredit korporasi tercatat sebesar 9,18 persen.
 
“Bank Indonesia mengharapkan perbankan dapat mempercepat penurunan suku bunga kredit sebagai upaya bersama untuk mendorong kredit pembiayaan bagi dunia usaha dan pemulihan ekonomi nasional,” pinta Perry.

 
(Des) Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *