Polemik Deddy vs KPI Merupakan Awal Gerakan Kultural Sinetron Melawan Covid-19

Beberapa waktu yang lewat, KPI merilis daftar acara televisi yang dianggap berpotensi melanggar protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19. Total ada 29 program dari 11 stasiun televisi. Rilisan tersebut tak butuh waktu lama untuk viral dan menjadi bahan perbincangan banyak orang.

Deddy Corbuzier menjadi salah satu sosok yang cukup keras menanggapi rilisan tersebut. Deddy menganggap rilisan tersebut cukup aneh sebab tak ada satu pun acara sinetron yang masuk dalam daftar, justru banyak acara bergenre talkshow yang masuk.

Bagi seorang Deddy Corbuzier, yang memang merupakan salah satu praktisi acara talkshow, tentu saja hal tersebut sangat menyebalkan.

Ia pun kemudian mengungkapkan kekesalannya melalui video sentilan yang ia unggah di akun media sosial miliknya.

“Gua ini lagi bingung sama aturan KPI, Komisi Penyiaran Indonesia. Kan gua punya talkshow, talkshow gua duduknya jauh-jauh, tidak berdiri, tidak salam-salam, sudah mengikuti protokol kesehatan, PCR, semuanya, terus harus pakai masker. Nah Anda mungkin belum pernah ngebawain talkshow satu jam pakai masker. Teman-teman mungkin nggak berani ngomong juga, tapi ya sudahlah, anggap aja memang itu ngebantu. Tapi sinetron boleh nggak pakai masker. Mantap,” kata Deddy Corbuzier.

“Apakah mungkin kalian berpikir protokol kesehatan mereka lebih baik dibandingkan kita, saya nggak tahu. Atau protokolnya lebih mahal, saya juga nggak tahu.”

Baca juga:  Mari Merayakan dengan Sukacita Naskah UU Cipta Kerja yang Berubah-ubah Melulu Itu

Tentu saja banyak netizen yang membela Deddy, sebab memang ia berada di posisi yang, dalam kasus ini, memang tanpa cela. Ia mempertanyakan sesuatu yang memang sangat layak dipertanyakan.

Orang-orang pun kemudian banyak yang menegasikan polemik tersebut sebagai semata ajang perdebatan antara Deddy dan KPI. Padahal kalau mau lebih jeli, sentilan Deddy kepada KPI ini sejatinya merupakan semacam dorongan kepada para pembikin sinetron agar bisa berbuat lebih banyak dalam usaha melawan pandmi Covid-19.

Sentilan Deddy Corbuzier kepada KPI tentang sinetron yang tidak masuk dalam daftar acara yang melanggar protokol kesehatan ini seharusnya menjadi renungan yang bagus bagi para pembikin sinetron atau FTV.

Sudah saatnya produser-produser sinetron tampil menjadi ujung tombak edukasi Covid-19 bagi masyarakat, utamanya setelah tugas itu terbukti gagal total dilaksanakan oleh pemerintah. Kita semua tahu betul bahwa pemerintah tidak becus memberikan pengetahuan yang memadahi kepada masyarakat tentang Covid-19.

Dalam posisi inilah, Deddy Corbuzier, dan juga mungkin masyarakat lainnya, sangat mengharapkan peran sinetron sebagai media propaganda dan agitasi kontemporer, utamanya dalam upaya melawan pandemi Covid-19.

Apa yang bisa dilakukan oleh para pembikin sinetron? Tentu saja banyak. Production House atau PH bisa bikin sinetron bertema Covid. Aktris dan aktornya jaga jarak semua. Nggak ada adegan ciuman, salaman, atau cipika-cipiki. Kalau memang butuh adegan yang menggambarkan keromantisan, cukup diganti dengan adegan sepasang kekasih saling mendoakan dalam diam. Pokoknya semua pemain pakai masker semua.

Baca juga:  Benar Apa Kata Jokowi, Indonesia Memang Layak Bersyukur

Nggak usah takut nanti suara artisnya nggak kedengeran karena pakai masker, bullshit itu. Jangankan ngomong, di dalam kultur sinetron kita, orang mbatin aja bisa kedengeran kok. Apalagi cuma suara omongan orang pakai masker.

Ubah sinetron yang tadinya full drama menjadi full dengan edukasi.

Nanti judul sinetronnya harus ada unsur-unsur Covid-nya, misal “Catatan Hati Korban Pandemi”, “Vaksin yang tertukar”, “Jangan berhenti mengcoronaiku”, “Kutemukan Cinta Sejatiku di Wisma Atlet”, dan sebangsanya.

Kalau sudah begini, niscaya, sinetron bukan hanya menjadi tontonan, namun juga tuntunan. Itu nanti sama mulianya dengan Wak Haji dan Rhoma Irama dengan Soneta-nya, mereka bukan hanya menyebarkan nada, namun juga dakwah.

Ini tentu bisa menjadi semacam gerakan kultural rakyat bantu rakyat. Gerakan yang megamplifikasi slogan “Teruslah bekerja, jangan berharap kepada negara.”

Dengan adanya skenario tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya, perseturuan antara Deddy dan KPI ini adalah perseturuan yang memang by design. Memang sudah dikonsep demi mewujudkan gerakan kultural edukasi Covid-19 melalui komponen-komponen budaya pop yang diawali oleh sinetron.

Kelak, negeri ini akan mencatat, bahwa sosok terpenting dalam usaha melawan pandemi Covid-19 di Indonesia bukanlah Terawan, Budi Gunadi, apalagi Jokowi, melainkan Raam Punjabi.

Ya, Raam Punjabi. Tak ada rotan, Raam Punjabi.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *