Momen-Momen ketika Ibu Menangis

Memori tentang tangisan Ibu yang pertama kali kulihat adalah ketika tas Ibu dijambret di jalan. Usiaku masih SD. Sekitar pukul delapan malam, Ibu mengayuh sepeda sendirian dalam perjalanan dari sebuah toko kelontong menuju ke rumah setelah kulakan barang-barang dagangan untuk warung kecilnya.

Aku menyaksikan ibu menjerit-jerit sekitar dua jam pada malam itu. Uang dalam tas yang dijambret itu memang terus diputar agar sirkulasi keuangan warung lancar. Seminggu kemudian, tas Ibu yang tinggal berisi KTP ditemukan oleh seorang tukang becak yang mangkal dekat taman kota.

Tangisan yang terakhir kali kulihat dari Ibu terjadi minggu ini. Usiaku minggu depan 29 tahun. Bapak kena serangan stroke pertama kali. Tiba di UGD RS Bethesda, Bapak langsung ditolong dengan beragam fasilitas kesehatan. Tangis Ibu pecah melihat selang dicolok di hidung dan mulut bapak yang melingkar di kepalanya. Semakin panik ketika Bapak masuk ruang radiologi untuk melakukan potret otak.

Kubilang pada Ibu, tak perlu panik. Kalau di RS ini banyak alat, itu artinya RS punya fasilitas yang lengkap. Kalau Bapak dapat banyak tindakan, itu justru bagus, artinya Bapak diperiksa dengan teliti oleh dokter dan perawat.

Saat kelas 2 SMA, Ibu pernah menangis ketika mengambil buku raporku. Nilaiku buruk untuk Fisika, Matematika dan Kimia, padahal aku belajar di kelas IPA. Artinya, hanya nilai Biologi yang selamat.

Baca juga:  Saya Meyakini Kasus Korupsi Edhy dan Juliari Memang Sudah Didesain oleh Jokowi

Entah apa yang disampaikan wali kelas kepada Ibu sehingga Ibu menangis tersedu-sedu saat tiba di rumah. Anehnya, dia tidak marah, Ibu hanya terlihat sangat panik dan ketakutan.

Ibu juga pernah menangis saat aku pulang main kemalaman diantar naik motor oleh seorang kawan lelaki. Sebetulnya, saat itu kami jadian baru seminggu. Dia laki-laki dari lain SMA. Ibu tampak sangat tak suka melihat laki-laki itu.

Tapi ujungnya, lagi-lagi Ibu menangis sambil berpesan sebaiknya aku rajin belajar saja dan baik-baik menjaga diri sebagai anak perempuan. Keesokan harinya, aku langsung minta putus dengan alasan tidak berani melawan Ibu. Sungguh cerita jadian yang paling singkat.

Tentu saja Ibu juga menangis saat pasanganku mengucap ijab qabul pernikahanku setahun lalu. Ini sepertinya tangisan paling umum yang disajikan para orang tua yang berhasil mengantar anaknya menuju pernikahan.

Tidak terlalu jelas apakah hal tersebut tangisan bahagia karena melihat anaknya sudah jadi dewasa dan siap hidup mandiri, atau tangisan kesedihan karena anaknya kini akan lebih sibuk dengan pasangannya. Tapi tangisan orang tua di momen pernikahan selalu tampak sentimentil.

Ibu adalah satu alasanku tertarik menjadi feminis. Ibu kehilangan ayahnya (kakekku) saat masih kelas 3 SD. Konon ada orang kaya yang berbaik hati ingin membiayai pendidikan lanjutan Ibu, tapi Nenek memilih menghentikan sekolah Ibu setelah lulus SD. Bagi Nenek, yang penting Ibu bisa baca tulis karena kelak anak perempuan toh ada yang mengawini.

Baca juga:  Baik atau Buruk, Ia Tetaplah Ibumu

Kelak, ketika menikah, kemiskinan tetap menjerat. Ibu menjadi pekerja apa saja. Dia melayani pekerjaan domestik di rumah tetangga, berdagang kaki lima di ruko, juga memproduksi sate dan gorengan untuk dititip ke warung-warung makan. Dalam hal pivot dari satu aktivitas ke aktivitas lain yang bernilai ekonomi ini, kurasa Ibu lebih lincah daripada Bapak.

Ibu adalah seorang perempuan Jawa tradisional yang yakin bahwa nilai perempuan setelah menikah ada pada sosok laki-laki. Meskipun melarat, keluarga kami tetap menjalani tradisi yang memuja Bapak sebagai breadwinner. Bapak punya mangkok sayur dan mangkok lauk khusus. Anggota keluarga lain mengambil sayur dan lauk dari panci yang berbeda.

Ketika sedang pulang kampung, Ibu sering berujar, “Nduk, suamimu diambilkan nasi dan sayur. Perempuan itu harus melayani suami.”

Kemudian saya dan suami cekikikan, “Hadeh, punya tangan buat buka mejikom sendiri ini, Buuuuk.”

Biasanya Ibu akan menjawab, “Woalah… piye iki cah wedok jaman saiki.” (Oalah, dasar perempuan zaman sekarang).

Aku banyak mengagumi Ibu sekaligus tidak ingin menjadi perempuan seperti Ibu. Aku kagum bagaimana selama puluhan tahun Ibu sangat disiplin membikin kopi tiap pagi dan sore memasak, menyodorkan jatah makan Bapak dan membuat sambal terasi yang sangat enak.

Aku tidak mau menjadi perempuan seperti Ibu yang tidak punya inisiatifnya sendiri. Ketika aku perlu sesuatu, Ibu selalu memintaku agar minta persetujuan Bapak. Ketika aku minta pendapat kepada Ibu, dia selalu bilang pendapatnya ikut pendapat Bapak jadi lebih baik aku tanya ke Bapak saja.

Baca juga:  Kemauan untuk Didominasi Terwujud dari Pengurus BEM yang Rela Fotonya Diblur

Dari Ibu yang apa-apa ikut Bapak itulah aku merasa ingin jadi perempuan yang punya nalar kritis hingga mampu berdiri di atas pendapatku sendiri. Bahkan jika pendapatku berbeda dengan pasanganku, aku punya hak untuk mengadu pendapat siapa yang terbaik untuk dipertahankan.

Pendapat terbaik diambil berdasarkan alasan-alasan ilmiah, bukan semata karena pendapat itu digagas oleh laki-laki atau digagas oleh perempuan.

Pondasi hidup Ibu adalah Bapak. Ibu amat takut jika Bapak kenapa-kenapa. Ibu panik hanya karena Bapak sedikit pusing. Ibu menangis setiap kali maag Bapak kambuh dan selalu memuntahkan makanan berhari-hari.

Dan ketika aku menulis kolom ini, lagi-lagi Ibu sedang menangis. Hari keempat Bapak dirawat di Rumah Sakit, Bapak akhirnya bisa bicara I-YA setelah berhari-hari sama sekali tak bisa mengeluarkan satu kata pun akibat pembekuan darah dalam otak.

Aku benci melihat Ibu terus-terusan menangis. Tapi aku juga selalu merindukan tangisan Ibu, tangisan paling jujur sedunia.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *