Cara Memilih Jurusan Kuliah untuk Anak SMA

MOJOK.CO – “Gimana sih cara memilih jurusan kuliah? Dari daftar jurusan dengan nama-nama asing ini, mana yang harus aku pilih?”

Hidup di lingkungan yang terbiasa menilai segala sesuatu dengan materi itu sungguh sangat merepotkan. Bener-bener nggak asyik. Beneran deh. Seolah-olah melakukan hal menyenangkan tanpa memikirkan imbalan adalah hil yang mustahal. Nggak percaya? Coba diingat-ingat lagi deh kapan terakhir kali kalian ngelakuin hobimu? Eh masih tahu hobimu apa kan? Atau jangan-jangan malah sudah lupa kalau punya hobi karena sibuk “menjadi sukses”? Hehehe.

Aku jadi ingat dulu pernah “berdebat” dengan orang tuaku saat memutuskan melanjutkan kuliah di jurusan kelautan alih-alih mengikuti saran mereka. Waktu itu Bapak nyuruh ambil pertambangan dan Ibu ingin aku jadi mantri desa. Bagi yang nggak tahu, mantri desa itu semacam pembantu dokter dalam pelayanan kesehatan. Dulu dokter masih ndak sebanyak sekarang, apalagi di sebuah desa kecil di perbatasan Banyumas dan Cilacap tempatku tinggal. Orang-orang juga lebih memilih berobat ke mantri desa daripada harus repot ke puskesmas atau rumah sakit. Aku ingat waktu itu di desa kami nggak ada tenaga kesehatan. Jadi kalau pas sakit, Ibu ngajak aku naik becak ke desa tetangga sekitar 8 km dari rumah untuk periksa.

Oh iya, aku adalah anak pertama dan punya dua adik. Bapakku lulusan STM jurusan mesin. Lulus SMP dia merantau dan kerja jadi penjaga malam di STM tempat dia sekolah karena nggak punya uang untuk bayar kos-kosan. Lulus STM dia diangkat jadi guru honorer. Ibuku juga lulusan SMA dan kerja jadi karyawati bank lokal hingga pensiun. Aku ingat betul kami sering sekali pindah kontrakan. Kami pernah ngontrak di sebuah warung kecil di depan STM Bapak. Bener-bener model warung kelontong gitu, hahaha.

Saat itu, argumen yang mereka sampaikan untuk memengaruhiku tentu saja sangat masuk akal. Bagaimana mereka “menginginkan yang terbaik” bagi anaknya ini. Ibuku yang melihat peluang, sudah membayangkan nanti aku lulus kuliah bisa langsung buka praktik di desa kami. Bapakku yang akhirnya berhenti jadi guru STM dan kerja sebagai mekanik serabutan dari satu proyek ke proyek yang lain sudah punya gambaran nanti aku harus kerja di tambang ngehits macam Tembagapura di Papua atau Batu Hijau di Sumbawa. Jelas pekerjaannya, banyak hartanya, bahagia keluarganya. Mungkin gitu pikir mereka.

Berbekal sikap nguweyel dan keras kepala, tentu saja aku tetap bersikeras dengan pilihanku dong. Lha wong nyatanya aku nggak suka dan nggak kepengin, ngapain dijalani. Ujung-ujungnya malah bisa jadi asal-asalan, nggak serius, dan nggak maksimal. Tapi pada dasarnya aku memang sudah dilatih untuk menentukan pilihanku sendiri semenjak SMP sih. Meski terkadang aku memilih hanya karena alasan yang sepele. Misalnya, saat teman-temanku berlomba masuk ke SMA A, aku justru memilih masuk SMA B hanya karena ada lapangan bolanya. Padahal nilaiku sudah pasti masuk kalau mau ke SMA A. Simpel sekali, bukan?

Baca juga:  PT. Mencari Cinta Sejati Adalah Bentuk Perlawanan yang Subtil

Untungnya orang tuaku mau memahami jalan pikirku alih-alih mengutukku hingga menjadi batu. Nggak kebayang kalau harus ada dua versi cerita anak durhaka, versi Sumatra dan Jawa.

Kalau mengingat saat-saat itu, aku jadi suka termenung sendiri, melihat bagaimana keputusan yang telah kuambil berhasil membawaku ke posisiku sekarang. Posisi yang bagi orang lain mungkin biasa-biasa saja, tapi bagiku yang berasal dari keluarga biasa di sebuah desa kecil, sudah merupakan capaian yang warbiyasa.

Tahun ini adalah tahun kesembilanku menjadi dosen di kampus kerakyatan. Dulu aku kuliah S-1 kelautan di Semarang dengan beasiswa mulai tahun kedua karena seleksinya melihat nilai tahun pertama. Saat kuliah S-1 aku juga nyambi kerja jadi pemulung, tukang ketik, dan juga konsultan pemetaan. Iya, kalian nggak salah baca. Jadi tiap kali ada acara di kampus, karton bekas nasi kotak dan gelas platik aku kumpulkan untuk aku jual.

Lulus S-1 aku dapat peluang beasiswa dari tiga universitas, termasuk universitas di tempat aku bekerja sekarang. Aku pun memutuskan keluar dari kerjaan dan pindah ke Jogja. Kapan lagi bisa S-2 dengan beasiswa. Perjalanan studi formalku ditutup dengan S-3 di kota yang jadi pusat mode dunia, di universitas yang terkenal di Indonesia gara-gara buku Laskar Pelangi: Universitas Paris 1 Panthéon-Sorbonne. Tentu saja dengan beasiswa. Mana sanggup kalau aku disuruh bayar sendiri. Sebenarnya kuliah di Prancis seperti karma bagiku karena saat SMA aku sering bolos pelajaran Bahasa Prancis dan memilih nongkrong di kantin sekolah.

Sebelum dicaci maki dan dituduh kelas menengah tidak tahu diri, perlu aku utarakan bahwa aku nggak akan jualan kisah sedih dan nelangsa dalam proses perjuanganku hingga sekarang, meskipun sebenarnya itu yang lebih disukai warganet. Aku pun nggak akan membahas pencapaianku secara detil karena bosan sombong dan males riya.

Tulisan ini dibuat karena aku ingin berbagi pengalaman sama kalian yang galau mikirin cara memilih jurusan kuliah. Mumpung bentar lagi anak-anak kelas XII pada mau lulus. Kalau dalam ilmuku, the present is the key to the past and the future. Dirimu sekarang adalah hasil dari apa yang sudah kalian perbuat di masa lampau. Pilihanmu sekarang akan menentukan seperti apa hidupmu 15-20 tahun lagi. Percaya alhamdulillah, nggak ya luweh.

#1 Kenali dirimu

Pertama dan yang paling utama tentu saja kalian harus tahu siapa diri kalian sebenarnya. Mungkin dapat dimulai dengan membuat pertanyaan-pertanyaan untuk kalian jawab sendiri. Misalnya, sebenarnya apa yang kalian inginkan dalam hidup ini? Apakah kalian memang benar-benar ingin kuliah? Atau karena solidaritas tanpa batas dengan anggota geng di SMA? Atau sekadar menuruti kemauan orang tua? Kalian sendiri yang tahu jawabannya.

Baca juga:  Perceraian Song-Song Couple adalah Bukti bahwa Menikah Bukan Solusi

Dari refleksi diri itu, aku berhasil menemukan diriku dan tujuan hidupku yang akhirnya kujadikan motivasi melanjutkan kuliah di kelautan. Aku memang suka membaca dan tadabur alam. Ibuku pernah cerita ke istriku kalau dulu aku sangat sedih ketika Ibu memutuskan berhenti langganan majalah Bobo. Aku nggak ingat hal itu sama sekali. Akses internet pada zaman itu masih terlalu mahal buatku, jadi sumber informasiku lebih banyak dari buku-buku yang aku pinjam dari perpustakaan.

Waktu itu adalah tahun keenam berdirinya Kementerian Kelautan dan Perikanan. Berbekal riset kecil-kecilan, aku jadi tahu bahwa aspek kelautan masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Laut tuh masih dianggap sebagai pemisah, bukan penghubung. Coba kalian ingat-ingat pelajaran Geografi, misalnya, Pulau Jawa dan Sumatra disebut dipisahkan oleh Selat Sunda. Dipisahkan lho, bukan dihubungkan. Aku ingin mengubah itu.

Aku melakukan analisis statistik sederhana terhadap peluangku diterima, dan dengan keyakinan yang mantap, aku langsung mendaftar di jurusan yang aku inginkan. Kelautan. Aku nggak peduli teman-temanku beramai-ramai daftar di satu universitas tertentu ataupun di sekolah kedinasan. Aku tetap pada pendirianku dan pada akhirnya berhasil masuk lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Aku masih ingat waktu kelulusan SMA namaku dipanggil karena berhasil lolos perguruan tinggi tanpa tes. Senang.

#2 Semua ilmu itu bermanfaat

Apa pun jurusan yang akan kalian ambil, aku sangat yakin semuanya baik dan ilmunya jelas akan bermanfaat. Kalau butuh saran dan masukan, pastikan kalian datang ke tempat dan orang yang benar. Jangan asal kirim twit ke base terus percaya ke yang nge-reply. Biasanya kalau di SMA itu ada semacam ruang Bimbingan dan Konseling. Karena aku dulu sering “dipanggil” ke situ, malah jadi sering ngobrol dengan bapak-ibu guru. Obrolan itulah yang akhirnya menambah wawasanku.

Dan yang paling penting, nggak usah pedulikan “cibiran” kawanmu atau orang-orang terdekat atas pilihan yang sudah kalian ambil. Toh dia nggak bayarin kuliahmu juga. Aku jadi ingat dulu pernah mampir ke tempat kawanku SMA. Dia bilang gini, “Ngapain kamu kuliah di jurusan kelautan, mau jadi apa emangnya? Nelayan? Hahaha.” Ya, mungkin maksudnya bercanda, tapi bercandanya level nggak mutu bin wagu. Sebagai anak yang bermental baja, omongan gitu doang sih nggak bakal ngaruh. Malah kujadikan motivasi untuk total dengan apa yang aku pilih. Eh iya, gimana ya kabarnya sekarang? Apa dia juga dibayari untuk mengunjungi 30 negara seperti diriku? Tuh kan jadi sombong. Males ah.

Baca juga:  Bukan Teknik atau Kedokteran, Ini Jurusan Kuliah paling dibutuhkan Saat Ini

#3 Luruskan niat, mantapkan hati, dan totalitas tanpa batas

Hidup itu sebenarnya cuma perkara berani mengambil keputusan dan menanggung semua risikonya. Ketika kalian sudah menentukan akan mengambil jurusan tertentu, aku yakin itu dilakukan setelah berbagai macam riset dan pertimbangan. Yang penting adalah meluruskan niat untuk mencari ilmu dan meningkatkan kapasitas diri. Pendidikan tidak sekadar untuk persiapan mencari kerja dan mendapatkan materi. Pendidikan jauh lebih mulia dari itu.

Uang bukanlah segalanya bagiku. Mungkin bagimu klise, tapi memilih suatu jurusan hanya karena prospek finansial menurutku kurang tepat. Aku bisa bilang gini karena aku pun pernah mengalami sebatang kere hingga punya uang. Guruku dulu pernah berpesan, “Carilah jeneng, maka jenang akan mencarimu”. Jeneng adalah kata Jawa yang berarti ‘nama’, dapat diartikan sebagai ilmu, kemampuan, kapasitas diri, kejujuran ataupun sikap dapat dipercaya. Intinya sifat-sifat yang ada dalam dirimu. Ketika kalian sudah punya jeneng, tawaran jenang (harfiahnya sih merujuk ke makanan manis mirip dodol) atau materi akan datang sendiri tanpa kalian perlu repot-repot mencari.

#4 Restu orang tua

Last but not least, restu orang tua. Ini penting banget. Bagaimanapun jalanmu nanti akan lebih mudah ketika orang tua memberikan restunya. Akan ada semacam kekuatan tak terlihat yang membantumu tiap kali dalam kesulitan. Bicarakan pilihan dan keinginanmu dengan orang tua, diskusikan, dan buatlah kompromi.

Aku jadi ingat cerita temanku. Dia melanjutkan kuliah hingga S-2 di bidang teknik untuk mengikuti keinginan orang tuanya. Setelah lulus S-2, dia bilang, “Aku sudah selesai S-2 teknik sesuai keinginan Bapak-Ibu. Sekarang izinkan aku untuk kuliah masak.” Kabarnya dia sekarang sudah menjadi salah satu koki terkenal. Istriku pun demikian, dia kuliah geografi hingga S-2 karena “tuntutan” bapaknya yang seorang dosen. Selesai kuliah, dia memilih bekerja dari rumah, mengerjakan apa yang dia sukai, memasak dan menulis. Apakah orang tuanya keberatan? Awalnya iya, tapi sekarang tidak sama sekali setelah melihat istriku bertanggung jawab atas pilihannya.

Itulah pesan utamanya: cari jeneng, maka jenang akan datang sendiri. Dan hidup tidak hanya perkara untung dan rugi. Hidup adalah persoalan berani memilih dan menanggung segala risikonya.

BACA JUGA Derita Salah Masuk Jurusan Saat Kuliah dan esai Bachtiar W. Mutaqin lainnya. 

Sumber

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *